Romantisasi Kencan Virtual dengan AI: Tinjauan Kritis Terhadap Fenomena “Boyfriend on Demand”
Fenomena layanan kencan virtual berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi sorotan utama dalam sebuah drama Korea orisinal Netflix yang dirilis pada Jumat, 6 Maret 2026. Berjudul “Boyfriend on Demand,” serial ini mengupas secara mendalam tentang aplikasi kencan virtual yang menawarkan pendampingan layaknya pasangan kekasih. Cerita berpusat pada Seo Mi Rae, seorang karakter yang diperankan oleh Jisoo BLACKPINK, yang mengalami trauma mendalam akibat hubungan percintaan di masa lalu. Demi mencari pelipur lara dan kenyamanan emosional, ia memutuskan untuk berlangganan layanan inovatif ini.
Selama 10 episode, “Boyfriend on Demand” tidak hanya menyajikan kisah romantis, tetapi juga secara gamblang memaparkan berbagai kontroversi dan kritik tajam yang mengiringi keberadaan aplikasi kencan virtual berbasis AI ini. Diskusi seputar aplikasi bernama “Boyfriend on Demand” ini memicu perdebatan hangat mengenai dampaknya terhadap masyarakat, terutama di era modern yang semakin terhubung secara digital namun juga rentan terhadap kesepian.
Berikut adalah tujuh poin utama kritik yang dilayangkan terhadap layanan kencan virtual seperti “Boyfriend on Demand”:
1. Potensi Memperburuk Angka Kelahiran yang Rendah
Salah satu kritik paling mendasar terhadap layanan kencan virtual semacam ini adalah kekhawatiran akan dampaknya terhadap tingkat kelahiran yang sudah rendah di banyak negara. Dengan tersedianya pasangan virtual yang selalu siap sedia dan tanpa tuntutan layaknya hubungan di dunia nyata, masyarakat mungkin akan semakin enggan untuk menjalin hubungan serius yang berujung pada pernikahan dan keluarga. Ketergantungan pada interaksi digital ini dikhawatirkan dapat mengurangi motivasi untuk membangun hubungan yang lebih intim dan berkelanjutan.
2. Merusak Citra Pernikahan dan Menurunkan Minat Berumah Tangga
Lebih lanjut, aplikasi kencan virtual ini dikritik karena berpotensi memperburuk citra pernikahan di mata masyarakat. Ketika individu dapat memperoleh kepuasan emosional dan kebersamaan dari AI tanpa harus menghadapi kompleksitas dan kompromi yang ada dalam pernikahan, minat untuk memasuki gerbang pernikahan diperkirakan akan semakin menurun. Hal ini dapat berdampak pada struktur sosial dan norma-norma keluarga yang telah terbentuk selama berabad-abad.

3. Menciptakan Standar Pasangan Ideal yang Tidak Realistis
Layanan kencan virtual yang dirancang untuk memenuhi setiap keinginan pengguna juga dianggap dapat menciptakan standar pasangan ideal yang sangat tidak realistis di kehidupan nyata. Pengguna mungkin terbiasa dengan kesempurnaan dan kepatuhan mutlak dari AI, sehingga sulit untuk menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan yang melekat pada manusia di dunia nyata. Perbedaan ekspektasi ini dapat menimbulkan kekecewaan dan kesulitan dalam membangun hubungan romantis yang sehat dan langgeng.

4. Biaya Berlangganan yang Sangat Mahal
Aspek finansial juga menjadi sasaran kritik pedas. Biaya berlangganan untuk layanan kencan virtual ini dilaporkan sangat tinggi, berkisar antara 500 ribu hingga 2 juta won per bulan. Nominal yang fantastis ini menimbulkan pertanyaan tentang aksesibilitas layanan dan apakah manfaat yang ditawarkan sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Bagi banyak orang, angka ini bisa menjadi beban finansial yang signifikan, menimbulkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya target pasar dari layanan semacam ini.

5. Potensi Terjerat Utang dan Cara Instan Mencari Uang
Ironisnya, di balik kemudahan yang ditawarkan, sebagian anak muda yang menggunakan layanan kencan virtual ini dilaporkan terjerumus ke dalam penggunaan cara-cara instan untuk mendapatkan uang. Ketergantungan pada layanan ini, yang mungkin membutuhkan biaya besar, bisa mendorong mereka untuk mencari sumber pendapatan cepat, bahkan hingga terjerat utang. Hal ini menunjukkan sisi gelap dari kemajuan teknologi yang jika tidak dikelola dengan bijak, dapat membawa konsekuensi negatif.

6. Eksploitasi Kesepian di Era Modern
Kritik lain yang dilayangkan adalah anggapan bahwa layanan kencan virtual ini secara aktif mengeksploitasi kesepian yang banyak dirasakan di era modern. Di tengah hiruk pikuk kehidupan digital dan terkadang minimnya interaksi tatap muka yang bermakna, kesepian menjadi masalah yang umum. Aplikasi ini memanfaatkan celah emosional tersebut dengan menawarkan solusi instan, yang meskipun memberikan kenyamanan sementara, mungkin tidak menyelesaikan akar masalah kesepian itu sendiri.

7. Stigma Negatif Terhadap Pengguna
Terakhir, pengguna layanan kencan virtual ini tidak luput dari stigma negatif. Mereka seringkali dicap sebagai individu yang aneh, kesepian, atau memiliki masalah sosial. Stigma ini dapat memperburuk perasaan isolasi dan rasa malu bagi mereka yang memilih untuk menggunakan layanan semacam ini, menciptakan siklus negatif yang sulit untuk dipecahkan.
Dalam drama “Boyfriend on Demand,” karakter Seo Mi Rae sendiri sempat mengalami dilema dan kecemasan akibat berbagai kritik dan kontroversi yang melingkupi aplikasi kencan virtual tersebut, meskipun ia sendiri sudah tidak lagi aktif menggunakannya. Pengalaman ini pun pada akhirnya memengaruhi hubungannya dengan Park Kyeong Nam, yang diperankan oleh Seo In Guk. Pertanyaan pun muncul: apakah aplikasi semacam ini benar-benar ada dan bagaimana dampaknya jika benar-benar terealisasi di kehidupan nyata? Pertanyaan ini mengundang refleksi mendalam mengenai batasan antara teknologi, emosi manusia, dan realitas sosial.




