Pelangi di Mars: Misi Inspiratif untuk Mengembalikan Semangat Sci-Fi Generasi Pemimpi
Film fiksi ilmiah terbaru dari sutradara Upie Guava, Pelangi di Mars, hadir dengan misi yang lebih dari sekadar hiburan. Film ini digadang-gadang sebagai upaya untuk membangkitkan kembali semangat science fiction era 90-an yang diyakini mampu membentuk generasi pemimpi, yang penuh rasa ingin tahu dan berani menjelajahi dunia. Upie Guava sendiri telah menyatakan keseriusannya: jika film ini sukses, ia akan mendedikasikan kariernya untuk mengembangkan semesta Pelangi di Mars.
Ambisi Besar di Balik Produksi Film
Pelangi di Mars dapat dikatakan sebagai proyek yang sangat ambisius. Proses produksinya memakan waktu hingga lima tahun. Lebih dari itu, seluruh tim yang terlibat dipaksa untuk mempelajari teknologi baru dari awal. Hal ini dikarenakan film ini mengusung konsep hybrid yang menggabungkan teknik live action dengan animasi dan teknologi Extended Reality (XR).
Upie Guava, sebagai sutradara, memiliki pandangan mendalam mengenai peran fiksi ilmiah dalam membentuk imajinasi. Ia meyakini bahwa literasi sci-fi di suatu negara dapat menjadi tolok ukur sejauh mana masyarakatnya mampu bermimpi tentang masa depan. Di tengah dominasi genre ini dari Amerika Serikat, Jepang, serta kemunculan China dan Korea Selatan, Upie melihat Pelangi di Mars sebagai kesempatan emas bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam genre ini sekaligus menumbuhkan imajinasi generasi muda.
“Saya bilang sama Dendi (produser Pelangi di Mars) kalau ini insya Allah sukses, saya mungkin akan mendedikasikan next career saya buat universe Pelangi di Mars,” ujar Upie dalam konferensi pers yang berlangsung meriah di XXI Epicentrum. Ia melanjutkan, “Mendampingi anak-anak supaya bangga jadi astronot, mendampingi anak-anak supaya pas besar, ‘Saya tumbuh bersama Robot Batik.’ Seperti orang Jepang bisa bangga tumbuh bersama Gundam.”
Pendekatan IP Jangka Panjang untuk Semesta Pelangi di Mars
Lebih lanjut, Upie menjelaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang dengan pendekatan Intellectual Property (IP) jangka panjang. Tim produksi telah memikirkan pengembangan semesta ini secara matang dan terukur sejak awal.
“Kami percaya dari awal bahwa ini project harus panjang. Artinya, ini kita lakukan dengan kehati-hatian, dan terukur. Tiga tahun yang kami pakai untuk ngebangun infrastruktur pabrik teknologinya, bersamaan dengan kami ngebangun story dan universe-nya,” papar Upie.
Untuk mewujudkan visi jangka panjang ini, tim produksi telah menyiapkan berbagai elemen penting sebagai fondasi. Ini termasuk bible cerita, pengembangan universe, dan buku panduan. Dari sisi merchandise, mereka juga telah membuat berbagai versi LOD (Level of Detail) karakter, termasuk LOD robot yang dirancang untuk versi film maupun versi game.
“Artinya, proses desain pun kita lakukan dengan pola pendekatan IP sebenarnya, bukan hanya film,” tegas sutradara yang memiliki nama asli Lutfie Abdullah ini. Pendekatan ini menunjukkan komitmen untuk membangun sebuah waralaba yang kuat dan berkelanjutan, bukan sekadar film tunggal.
Sekuel Menanti Sambutan Positif
Produser Pelangi di Mars, Dendi Reynando, mengungkapkan bahwa diskusi mengenai sekuel film ini sudah mulai berjalan bersama Upie Guava. Rencana untuk melanjutkan cerita Pelangi di Mars melalui proyek sekuel akan sangat bergantung pada sambutan positif yang diterima film pertamanya dari para penonton.
“Rencananya kita di 2028 yang kedua buatnya. Kalau mudah-mudahan ini diterima dengan baik ya. Mohon doanya,” ujar Dendi, penuh harap.

Film Pelangi di Mars, yang dijadwalkan tayang sebagai film Lebaran 2026, akan mengikuti kisah petualangan seorang anak bernama Pelangi. Ia adalah manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Latar cerita yang unik ini diharapkan dapat menarik perhatian penonton dan memberikan pengalaman sinematik yang berbeda.

Kesiapan tim untuk belajar mandiri, bahkan dari platform seperti YouTube, menunjukkan dedikasi mereka dalam menciptakan karya berkualitas. Selain itu, kehadiran para artis ternama di gala premiere, termasuk keluarga Raffi Ahmad, turut menambah antusiasme publik terhadap film ini. Alasan Dendi Reynando memproduseri Pelangi di Mars juga berangkat dari keprihatinannya akan minimnya film anak berkualitas yang tayang di bioskop tanah air. Dengan segala upaya dan visi yang diusung, Pelangi di Mars berpotensi menjadi tonggak penting dalam perkembangan genre fiksi ilmiah di Indonesia.












