Anak-Anak Yatim Piatu Gaza Menjadi Hafidz Alquran di Tengah Kekerasan
Di tengah serangan brutal yang terus berlangsung selama dua tahun terakhir, ratusan anak-anak yatim piatu di Gaza berhasil menjadi hafidz dan hafidzah Alquran. Mereka belajar menghafal kitab suci di tenda-tenda tempat mengungsi yang disediakan akibat genosida yang dilakukan oleh pasukan penjajah.
Sebuah upacara wisuda yang penuh haru diadakan pada Kamis di Kamp Yatim Piatu Al-Baraka di daerah Al-Mawasi sebelah barat Khan Younis di Gaza selatan. Sebanyak 600 anak yang ayahnya terbunuh dalam perang ini diberi penghargaan karena berhasil menghafal seluruh atau sebagian Alquran. Upacara tersebut menjadi bukti keteguhan dan semangat para anak-anak Gaza yang tetap bertahan meskipun hidup mereka diuji oleh kekerasan.
Nidaa Shalayel, salah satu pengawas program hafalan Alquran, menceritakan pengalamannya. “Suami saya, dua putra, dan tiga cucu saya syahid dalam perang. Rumah kami hancur total. Terlepas dari segalanya, saya ingin membuktikan bahwa cara terbaik untuk meneguhkan keberadaan kami adalah melalui hafalan Alquran.”
Ia menjelaskan bahwa selama perang, lingkaran penghafal Alquran dibentuk di kamp-kamp yatim piatu Al-Baraka, yaitu tujuh kamp di Gaza selatan yang hanya dihuni oleh anak-anak yang kehilangan ayah mereka dalam konflik ini. Setiap pengungsian memiliki kelompok penghafal Alquran, dengan beberapa di antaranya hafal seluruh Al-Quran dan yang lainnya hanya sebagian.

Ratusan anak yatim piatu Gaza menjalani wisuda hafidz dan hafidzah Alquran di Almawasi, Khan Younis, Gaza, Kamis (23/10/2025). – (Muhammad Rabah/Dok )
Anak-anak yatim dan yatim piatu ini telah bertahan dalam kondisi yang sangat keras. Meskipun begitu, mereka mampu mengatasi kesulitan dan membuktikan bahwa rakyat Palestina mampu melawan segala rintangan. Nidaa juga menegaskan bahwa banyak anak-anak yang membutuhkan dukungan untuk menghafalkan Alquran di Gaza. “Mereka menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan setelah kehilangan ayah mereka. Namun, mereka menunjukkan bahwa anak-anak Gaza memiliki ketahanan dan tekad yang tak tertandingi oleh anak manapun di dunia.”
Shahd Sbeita, seorang gadis kecil yang ayahnya dibunuh oleh pasukan Israel selama perang, menceritakan pengalamannya. “Ketika saya mulai menghafal, perang pecah dan saya terpaksa berhenti. Setelah perang berakhir, saya kembali ke lingkaran hafalan. Insya Allah saya akan menyelesaikan seluruh Alquran.” Ia menutup pidatonya dengan pesan kepada dunia: “Selamatkan Gaza. Jangan lupakan anak-anak Gaza.”
Menurut Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza, sekitar 40.000 anak-anak Palestina telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Beberapa di antaranya menjadi satu-satunya yang selamat dari seluruh keluarga mereka akibat agresi tersebut, di mana pasukan Israel menggunakan semua jenis senjata selama dua tahun penuh.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat serangan Israel telah meningkat menjadi 68.280 orang syahid dan 170.375 orang luka-luka sejak 7 Oktober 2023. Dengan situasi yang terus memburuk, semangat dan keteguhan anak-anak Gaza dalam menghafal Alquran menjadi sumber harapan bagi rakyat Palestina.














