Pasar Lemahabang Kulon Dilalap Si Jago Merah: Api Menjalar Cepat di Tengah Malam
CIREBON – Keheningan malam di Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, mendadak pecah pada Selasa (30/12/2025) malam. Bau hangus yang menusuk hidung masih tercium kuat pada Rabu (31/12/2025), menjadi saksi bisu tragedi kebakaran yang meluluhlantakkan Pasar Desa Lemahabang Kulon. Bangunan pasar yang telah berdiri sejak tahun 1988 kini tinggal menyisakan puing-puing menghitam, dengan los-los yang hangus dan sebagian atap yang runtuh.
Di tengah kepulan asap sisa kebakaran, Opik Imanudin (40), sang penjaga malam, menceritakan detik-detik menegangkan saat api pertama kali mengamuk. Malam itu, pasar sudah sepi, seluruh pintu terkunci rapat, dan aktivitas jual beli telah usai. Opik yang saat itu berada di depan pasar, tiba-tiba mencium bau asap yang tak biasa.
“Waktu itu saya ada di depan. Tiba-tiba kecium bau asap, saya langsung lari masuk ke dalam. Pas dicek, apinya sudah besar,” ujar Opik dengan nada masih terguncang saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (31/12/2025).
Menyadari situasi yang membahayakan, Opik tidak membuang waktu. Ia segera membuka semua pintu pasar untuk memudahkan akses, meminta bantuan warga sekitar, dan tak lupa menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Titik Awal Api dan Kronologi Kejadian
Menurut Opik, kobaran api pertama kali terlihat berasal dari salah satu kios yang menjual kelapa. Api dengan cepat menjalar ke bagian atas los, menandakan intensitasnya yang sudah cukup besar.
“Saya lihat di kios yang jual kelapa. Apinya sudah di atas, berarti sudah besar,” jelasnya.
Opik menegaskan bahwa saat kejadian, pasar dalam kondisi benar-benar tertutup dan tidak ada aktivitas jual beli sama sekali. “Sudah sepi, sudah terkunci semua,” katanya.
Ia memperkirakan titik awal kebakaran berada di bagian tengah pasar, tepatnya di Blok B. Area tersebut merupakan pusat para pedagang sayur-mayur. “Tengah lah, Pak. Blok B kayaknya. Di sekitarnya jualan sayur-sayuran semua,” ujarnya.
Sebagai penjaga malam, Opik memiliki tanggung jawab untuk membuka dan menutup sepuluh pintu utama Pasar Lemahabang setiap harinya. Pasar biasanya tutup pada pukul setengah lima atau lima sore dan dibuka kembali pada pukul satu atau dua dini hari. Saat peristiwa kebakaran terjadi, Opik mengaku tengah berada di sekitar Jembatan Desa, tak jauh dari area pasar.
“Saya lagi di depan, di desa, dekat jembatan. Pas kecium bau asap, langsung lari masuk ke pasar buat ngecek,” jelasnya.
Bagi Opik, yang telah bertugas sebagai penjaga malam selama tiga tahun, kejadian kebakaran ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mengejutkan. “Baru pertama kali kejadian seperti ini,” katanya.
Penyelidikan Polisi dan Temuan Awal
Sementara itu, tim kepolisian dari Satreskrim Polresta Cirebon bersama tim Inafis tampak bekerja keras menyusuri setiap sudut pasar yang hangus. Mereka berupaya merangkai petunjuk awal untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. Pada Rabu (31/12/2025) siang, olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan dilakukan, dipimpin langsung oleh Wakil Kasat Reskrim Polresta Cirebon, AKP Iwa Mashadi, didampingi Kapolsek Lemahabang AKP Yuliana.
“Hari ini kami menindaklanjuti pascakejadian kebakaran di Pasar Desa Lemahabang Kulon. Kami dari Satreskrim bersama tim Inafis melakukan olah TKP terkait kejadian kebakaran ini,” ujar AKP Iwa Mashadi.

Proses olah TKP diawali dengan pengamatan kondisi pasar secara umum, sebelum kemudian difokuskan pada los dan kios yang terbakar untuk mencari barang-barang yang berkaitan dengan insiden tersebut.
“Pertama kami lakukan pengamatan keadaan secara umum. Kemudian secara spesifik kami teliti kios atau los yang terbakar untuk mencari barang-barang yang berkaitan dengan kejadian,” ucapnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan sumber api, di antaranya adalah bekas-bekas kabel yang terbakar dan sisa barang elektronik. Namun, AKP Iwa menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat awal dan belum bisa dijadikan kesimpulan pasti.
“Ini masih olah TKP tahap awal. Untuk memastikan penyebab kebakaran, kami akan menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan Puslabfor Polri,” katanya.
Selain barang bukti, polisi juga telah memeriksa lebih dari lima orang saksi, termasuk Opik, penjaga malam yang menjadi saksi pertama melihat munculnya api. “Kami sudah memeriksa beberapa saksi, baik pedagang maupun saksi pertama yang melihat sumber api. Saat kejadian, pasar dalam keadaan tutup dan tidak ada aktivitas,” tutur AKP Iwa.
Berdasarkan keterangan awal saksi mata, api diduga berasal dari bagian atas los pasar. “Saksi melihat sumber api berasal dari bagian atas los. Ini menjadi keterangan awal untuk pendalaman penyebab kebakaran,” ujarnya.
Tim Inafis memulai olah TKP sekitar pukul 11.15 WIB, dengan memusatkan pemeriksaan di titik tengah pasar yang diduga menjadi lokasi awal munculnya api.
Dugaan Sambaran Petir
Peristiwa kebakaran ini terjadi sekitar pukul 18.30 WIB pada Selasa (30/12/2025) malam, di tengah hujan yang mengguyur wilayah tersebut. Api tiba-tiba muncul dari bagian tengah pasar saat aktivitas jual beli mulai lengang. Dalam hitungan menit, kobaran api membesar, menghasilkan kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi dan terlihat jelas dari Jalan Penghubung Lemahabang–Japura. Warga dan pengguna jalan sempat berhenti dan berkerumun menyaksikan api melalap kios-kios pasar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Cirebon, Dadang Suhendra, mengungkapkan dugaan sementara bahwa kebakaran ini berkaitan dengan cuaca ekstrem yang melanda.
“Ada dugaan sambaran petir sebanyak dua kali yang mengenai instalasi listrik pasar, sehingga menyebabkan hubungan arus pendek atau korsleting,” ungkapnya.
Sebanyak sembilan unit mobil pemadam kebakaran dengan sekitar 45 personel dikerahkan untuk memadamkan api. Proses pemadaman berlangsung hingga larut malam dan dilanjutkan dengan tahap pendinginan. Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi para pedagang dan masyarakat Desa Lemahabang Kulon, yang kini harus menghadapi kenyataan pahit hilangnya mata pencaharian mereka akibat amukan si jago merah.




