Fenomena ‘Nabi’ Palsu: Ramalan Kiamat Gagal, Pendeta Gadungan Ditangkap di Ghana
Seorang pria yang mengaku sebagai nabi dan meramalkan kiamat global pada Hari Natal 2025 dilaporkan telah ditangkap oleh aparat kepolisian Ghana. Sosok kontroversial ini, yang dikenal luas di media sosial dengan nama Evans Eshun atau Prophet Ebo Noah, menjadi sorotan publik setelah klaimnya tentang banjir dahsyat yang akan menenggelamkan dunia tidak terbukti.
Penangkapan Ebo Noah dilakukan pada 31 Desember 2025 oleh tim khusus dari Kepolisian Ghana, Special Cyber Vetting Team. Berita penangkapan ini menyebar cepat setelah sebuah foto yang memperlihatkan Ebo Noah dalam keadaan diborgol di sebuah kantor polisi beredar luas di berbagai platform media sosial, memicu diskusi dan spekulasi publik.
Sebelumnya, nama Ebo Noah telah menarik perhatian internasional berkat klaimnya yang mengaku menerima wahyu langsung dari Tuhan. Wahyu tersebut berisi peringatan tentang datangnya bencana besar yang akan menghancurkan peradaban manusia, mengingatkan pada kisah Nabi Nuh dalam kitab suci. Dalam berbagai unggahan video yang viral, Ebo Noah secara gamblang menyatakan bahwa hujan deras dan banjir bandang yang ekstrem akan melanda bumi tepat pada Hari Natal tahun 2025.
Pembangunan ‘Bahtera Nuh Modern’ dan Janji Keselamatan
Tak hanya sekadar meramalkan, Ebo Noah juga menghebohkan publik dengan aksinya membangun apa yang ia sebut sebagai ‘bahtera Nuh modern’. Ia mengklaim telah membangun sekitar 10 unit bahtera, yang menurutnya disiapkan untuk menyelamatkan orang-orang yang ingin bertobat dan mencari perlindungan dari bencana akhir zaman yang telah ia ramalkan.
Melalui sejumlah video yang dipublikasikan di platform populer seperti YouTube, TikTok, dan Facebook, Ebo Noah kerap memamerkan kapal-kapal dan material bangunan yang ia gunakan. Ia menjelaskan bahwa perintah untuk membangun bahtera ini datang langsung dari Tuhan, sebagai tempat berlindung selama periode hujan lebat yang, menurut prediksinya, akan berlangsung selama tiga tahun penuh, dimulai sejak 25 Desember 2025. Lebih dramatis lagi, ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk tinggal di atas bahtera tersebut selama periode tiga tahun penuh tersebut.
Salah satu video yang paling banyak disorot berjudul ‘What Will Happen and How It Will Happen’, diunggah pada bulan Agustus sebelum tanggal kiamat yang diramalkan. Dalam video tersebut, Ebo Noah merinci skenario kehancuran dunia versinya, termasuk curah hujan yang tak berhenti dan banjir masif yang akan menenggelamkan kota-kota besar di seluruh dunia.
Reaksi Publik dan Terungkapnya Kebohongan
Klaim sensasional yang dilontarkan Ebo Noah memicu beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian pengikutnya dengan antusias memercayai ramalan tersebut dan turut menyebarkannya secara masif. Namun, di sisi lain, banyak pihak yang mengkritik dan menilai Ebo Noah telah menyebarkan ketakutan publik serta disinformasi yang menyesatkan. Video-videonya berhasil menarik jutaan penonton dan interaksi, menunjukkan betapa besar perhatian global terhadap narasi kiamat yang ia bangun.
Namun, seiring berjalannya waktu dan tibanya tanggal 25 Desember 2025 tanpa adanya hujan ekstrem atau banjir global seperti yang diramalkan, kejanggalan mulai terkuak. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap fakta mengejutkan bahwa kapal-kapal yang ia klaim sebagai ‘bahtera Nuh modern’ ternyata bukanlah miliknya, melainkan perahu biasa yang status kepemilikannya pun diragukan.
Kegagalan ramalan Ebo Noah ini, ditambah dengan dugaan penyebaran informasi yang menyesatkan melalui platform digital, diduga menjadi pemicu utama tindakan aparat kepolisian. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Ghana belum mengeluarkan keterangan resmi yang lengkap mengenai pasal-pasal yang akan dikenakan terhadap Ebo Noah. Namun, penangkapan ini menandakan langkah tegas otoritas setempat dalam menindak klaim-klaim keagamaan yang berpotensi menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Kasus Ebo Noah ini menambah panjang daftar fenomena ‘nabi’ palsu dan ramalan kiamat yang kerap muncul ke permukaan, terutama di era digital dan media sosial yang serba terhubung. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kehati-hatian publik dalam menyikapi setiap klaim luar biasa yang tidak didukung oleh bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.




















