WASHINGTON, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan dirinya akan menjalankan pemerintahan Venezuela.
Hal itu diungkapkan oleh Trump usai operasi militer AS, Sabtu (3/1/2026), yang berujung penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Trump mengatakan Pemerintah AS telah membantu jalannya pemerintahan Venezuela, meski belum ada tanda-tanda hal tersebut telah terjadi.
“Kami akan menjalankan negara itu hingga kami bisa melakukan transisi yang aman, seharusnya dan berdasarkan hukum,” kata Trump di Mar-a-Lago, Florida, dikutip dari Associated Press.
Ia juga menegaskan “operasi yang sangat sukses” itu harus menjadi peringatan bagi siapa pun yang mengancam kedaulatan Amerika atau membahayakan nyawa warga Amerika.
Operasi militer tersebut terjadi setelah Pemerintahan Trump melakukan tekanan kepada kepemimpinan Venezuela sebulan terakhir.
Itu termasuk meningkatkan jumlah pasukan Amerika di perairan Amerika Selatan, dan penyerangan terhadap kapal-kapal di sebelah timur Pasifik dan Karibia dengan tuduhan membawa narkoba.
Militer AS mengungkapkan ternyata rencana melakukan operasi militer untuk menangkap Maduro sudah dipersiapkan berbulan-bulan.
Pemimpin Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Dan Caine, mengatakan tentara AS telah melakukan latihan untuk manuver mereka itu telah dilakukan berbulan-bulan.
Bahkan mereka telah mempelajari segalanya mengenai Maduro, di mana ia berada, apa yang dimakannya, serta detail mengenai peliharaan dan pakaiannya.
“Kami berpikir, kami mengembangkan, kami berlatih, kami melakukan gladi bersih, kami mengevaluasi, kami berlatih lagi dan lagi,” ujar Caine.
“Bukan untuk mendapatkan hasil yang benar, tetapi untuk memastikan kami tak melakukan kesalahan,” sambungnya.
Pada Satu pagi, beberapa ledakan terdengar dan pesawat terbang rendah melintas di Caracas.
Pemerintah Venezuela menuduh AS menyerang instalasi sipil dan militer.
Mereka menyebut serangan tersebut sebagai “serangan imperialis”, dan mendesak warga untuk turun ke jalan.




















