Sinergi Ternate dan Manado: Studi Komparasi Pengelolaan Pariwisata untuk Pengembangan Potensi Lokal
Pemerintah Kota Ternate, bersama dengan insan pers dari Pers Liputan Kota (Pelita), baru-baru ini melakukan sebuah inisiatif penting: studi komparasi pengelolaan destinasi wisata ke Kota Manado, Sulawesi Utara. Kegiatan ini digagas dengan harapan besar untuk menjadi tolok ukur dan rujukan dalam upaya pengembangan sektor pariwisata di Ternate, sebuah potensi yang dinilai oleh banyak pihak masih belum dikelola secara optimal.
Studi komparasi ini tidak hanya melibatkan sejumlah jurnalis Pelita, tetapi juga turut menggandeng Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Ternate, Thamrin Marsaoly. Kunjungan ini mencakup penelusuran berbagai lokasi wisata, salah satunya adalah destinasi alam yang memukau, Danau Linow, yang berlokasi di Desa Lahendong, Kota Tomohon.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kemajuan Pariwisata
Ketua Pelita, Ramlan Harun, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari sinergi antara komunitas pers dan Pemerintah Kota Ternate. Tujuannya jelas: mendorong percepatan pembangunan sektor pariwisata di kota rempah tersebut. Selain fokus pada kunjungan ke berbagai destinasi wisata yang menjadi bahan perbandingan, agenda ini juga diperkaya dengan kegiatan positif lainnya, yaitu Bajalan Kaki (Bajaka).
“Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang sangat berharga,” ujar Ramlan. “Ada kunjungan ke objek wisata yang kita jadikan bahan pembanding, sekaligus kami mengadakan Bajaka sebagai bagian dari kampanye gaya hidup sehat.” Ia menambahkan bahwa kegiatan ini dilangsungkan pada Minggu, 4 Januari 2026.
Ramlan berpendapat bahwa mempelajari praktik terbaik pengelolaan destinasi wisata di daerah lain merupakan langkah krusial. Hal ini diharapkan dapat memberikan masukan berharga bagi pemerintah daerah, khususnya dalam merumuskan strategi pengembangan potensi wisata yang dimiliki oleh Kota Ternate.
“Terlebih lagi, dalam agenda ini turut hadir Kepala Bappelitbangda dan Sekretaris Daerah. Apa yang kita lihat dan pelajari di sini berpotensi besar untuk menjadi rekomendasi kebijakan yang strategis ke depannya,” ungkapnya optimis.
Lebih jauh, Ramlan menambahkan bahwa kegiatan Bajaka juga dimanfaatkan sebagai sarana promosi daerah yang efektif. Melalui atribut yang dikenakan oleh para peserta, Pelita berupaya memperkenalkan branding “Ternate Kota Rempah” kepada masyarakat di luar wilayah Maluku Utara. Hal ini merupakan upaya membangun citra positif dan meningkatkan kesadaran akan potensi Ternate.
Terkait dengan aspek pendanaan, Ramlan menegaskan bahwa seluruh kegiatan ini dilakukan secara mandiri oleh Pelita. Namun, ia juga menggarisbawahi pentingnya sinergi dengan pemerintah daerah, yang terwujud melalui dukungan dari Kepala Bappelitbangda. Sinergi inilah yang memungkinkan terlaksananya kegiatan studi komparasi ini.
Mencari Praktik Terbaik untuk Menguatkan Ekonomi Lokal
Di sisi lain, Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Thamrin Marsaoly, menyampaikan bahwa tujuan utama dari studi komparasi ini adalah untuk mengidentifikasi praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan destinasi wisata yang nantinya dapat diadaptasi dan diterapkan di Kota Ternate.
Thamrin mengungkapkan harapannya agar Dinas Pariwisata Kota Ternate dapat secara mendalam menganalisis berbagai aspek krusial. Aspek-aspek tersebut meliputi manajemen destinasi, efisiensi operasional pengelolaan, hingga pengembangan sumber daya manusia di sektor pariwisata. Ia percaya bahwa analisis yang komprehensif akan berdampak langsung pada penguatan ekonomi masyarakat, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Objek wisata seharusnya memiliki kemampuan untuk menghidupkan kawasan di sekitarnya. Itulah esensi yang ingin kita pelajari dan kemudian adaptasi,” ujar Thamrin, menekankan pentingnya dampak ekonomi kerakyatan dari sektor pariwisata.
Thamrin, yang juga menjabat sebagai Ketua Bajaka Ternate, menambahkan bahwa kegiatan ini memiliki dua fokus utama yang saling melengkapi. Pertama adalah penguatan sinergi dalam pembangunan sektor pariwisata, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, pers, dan pemangku kepentingan lainnya. Kedua adalah kampanye pola hidup sehat melalui aktivitas jalan kaki yang sederhana namun konsisten.
“Kami ingin pariwisata di Ternate terus berkembang pesat, sekaligus mendorong masyarakat untuk mengadopsi kebiasaan hidup sehat yang sederhana namun dapat dilakukan secara konsisten,” pungkasnya, menutup pernyataan mengenai harapan besar dari kolaborasi ini.
Studi komparasi ini diharapkan bukan hanya menjadi agenda sesaat, melainkan menjadi momentum awal untuk transformasi pengelolaan pariwisata Ternate menjadi lebih profesional, inovatif, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.



















