Pramugari Asal Bogor, Esther Aprilita, Diduga Jadi Korban Pesawat Jatuh di Maros
Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari 2026, menyisakan duka mendalam bagi banyak keluarga. Di antara para kru yang diduga menjadi korban dalam insiden nahas ini adalah Esther Aprilita, seorang pramugari muda asal Bogor, Jawa Barat. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan kesedihan dan harapan yang besar bagi keluarganya di kampung halaman.
Pesawat ATR 42-500 yang mengangkut total 11 orang, terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang, dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya diketahui jatuh. Dari jumlah tersebut, dua orang berasal dari Jawa Barat. Selain Ferry Irawan, seorang penumpang asal Bekasi, ada pula Esther Aprilita, pramugari yang berdomisili di Bogor.
Saat ini, tim SAR gabungan terus berupaya melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian. Sementara itu, keluarga para korban, termasuk orang tua Esther, menanti kabar dengan penuh harap akan adanya keajaiban yang memungkinkan anak-anak mereka selamat dari musibah ini.
Sosok Esther Aprilita: Pramugari Berbakti dari Bogor
Esther Aprilita Sianipar, nama lengkapnya, dikenal sebagai pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Ia merupakan warga Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Orang tuanya beralamat di kawasan perumahan Rancamaya. Sang ayah, Adi Sianipar, menggambarkan Esther sebagai anak sulung yang sangat peduli terhadap adik-adiknya.
“Dia orang baik, dia orang baik. Tiga bersaudara, (Esther) anak pertama,” ujar Adi Sianipar dengan nada pilu menceritakan sosok putrinya.
Karier Esther sebagai pramugari telah berjalan selama tujuh tahun. Di tahun ketujuh pengabdiannya inilah musibah pesawat yang ditumpanginya terjadi. Keputusan untuk menjadi pramugari rupanya telah menjadi panggilan jiwa bagi Esther, yang ia jalani dengan penuh dedikasi.
Komunikasi Terakhir yang Mengharukan
Sehari sebelum tragedi terjadi, tepatnya pada Jumat, 16 Januari 2026, Esther sempat berkomunikasi dengan ibunya, J Siburian. Dalam percakapan terakhir melalui pesan singkat, Esther mengabarkan bahwa ia sedang berada di Yogyakarta untuk bertugas menuju Makassar. Seperti biasa, ia juga membagikan lokasinya kepada sang ibu sebelum terbang.
“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya ‘aku sudah di sini mah, di sini mah’,” kenang J Siburian.
Namun, pada hari kejadian, keheningan menyelimuti komunikasi dengan Esther. Sang ayah, Adi Sianipar, mengaku sempat mencoba menghubunginya pada Sabtu siang sekitar pukul 12.00 WIB. Adi berencana menjemput Esther untuk pulang bersama ke Bogor, mengingat Esther juga memiliki kos di Jakarta. Sayangnya, saat itu ponsel Esther sudah tidak aktif dan tidak ada balasan.
“Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif,” jelas Adi.
Kabar yang paling mengejutkan justru datang dari perusahaan tempat Esther bekerja. Adi dihubungi oleh kantor IAT, tempat putrinya bertugas. Awalnya ia tidak mengangkat panggilan karena sedang di jalan, namun kemudian menerima pesan WhatsApp yang menginformasikan bahwa pesawat yang ditumpangi Esther dari Yogyakarta menuju Makassar mengalami lost contact.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Kini, keluarga Esther Aprilita, seperti halnya keluarga korban lainnya, hidup dalam ketidakpastian yang mencekam. Mereka terus memanjatkan doa dan berharap adanya keajaiban. Harapan terbesar mereka adalah agar Esther dan seluruh penumpang serta kru lainnya dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
“Kami berharap masih ada mukjizat. Karena sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat,” ungkap Adi Sianipar, sang ayah, dengan mata berkaca-kaca.
Perjuangan tim SAR gabungan di medan yang sulit terus dilakukan tanpa henti. Setiap detik yang berlalu menjadi penantian yang sangat berat bagi keluarga yang menanti kabar dari orang-orang terkasih mereka. Insiden ini kembali mengingatkan kita akan risiko pekerjaan yang dijalani oleh para awak kabin dan betapa rapuhnya kehidupan di hadapan takdir.
Proses pencarian yang melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, Basarnas, dan relawan, terus dimaksimalkan. Pihak berwenang juga sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti jatuhnya pesawat ATR 42-500 ini. Namun, bagi keluarga yang tertinggal, fokus utama saat ini adalah harapan akan ditemukannya kembali orang-orang yang mereka cintai. Keteguhan hati dan doa menjadi kekuatan utama mereka dalam menghadapi cobaan ini.


















