Keluarga korban mendesak penyelidikan lebih lanjut setelah tewasnya Dini Hardiyanti (30) dan putranya AG (4) di Kota Madiun, dengan tudingan bahwa pelaku bukan hanya Dwi Bagus Martono (40). Kejadian bermula dari hilangnya kedua korban yang terakhir kali diketahui bersama Bagus, dan keluarga menilai ada sejumlah kejanggalan yang perlu diusut tuntas polisi.
Salah satu pemicu kecurigaan adalah komunikasi terakhir antara Dini dan ibunya, Harti. Pada sekitar 20 September 2026, Dini menghubungi lewat video call dan mengeluhkan kondisinya, berkata, “Ibu, sampai sekarang nggak bisa tidur, nggak bisa makan.” Sambungan video itu tiba-tiba terputus sekitar pukul 09.00 WIB, menurut pengakuan kuasa hukum keluarga, Ikbal Sermaf, yang menyatakan momen itu menimbulkan firasat tidak enak.
Selain percakapan terpotong, tim penasihat hukum keluarga menelusuri jejak digital korban dan menemukan sejumlah pesan di Direct Message Instagram yang menggambarkan ketakutan Dini. Menurut Ikbal, isi percakapan menunjukkan korban mendapat tekanan serta kata-kata yang membuatnya merasa terancam secara psikologis, hingga enggan kembali ke Madiun sebelum peristiwa nahas itu.
Keluarga juga menyoroti sikap Bagus yang dinilai tertutup ketika ditanya perihal keberadaan Dini dan AG. Adik korban, Khanza, yang menjadi pelapor awal hilangnya kedua anggota keluarga itu ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026, menyebut masih ada banyak aspek yang belum dijelaskan tersangka saat prarekonstruksi. Khanza menegaskan, “Ada yang (masih) janggal, tidak mungkin Bagus sendirian,” dan meminta penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim tidak berhenti pada keterangan saat ini.
Menurut keterangan yang dihimpun, peristiwa tragis berawal ketika Dini dan Bagus menginap di sebuah hotel pada Sabtu, 19 September 2026, untuk merayakan ulang tahun anak AG. AG merupakan anak dari pernikahan terdahulu Dini, sedangkan hubungan siri antara Dini dan Bagus berjalan sekitar dua hingga tiga tahun tanpa dikaruniai anak. Setelah komunikasi video pada 20 September terputus, keluarga semakin cemas dan akhirnya melaporkan kehilangan secara resmi pada 7 Oktober 2026 setelah beberapa upaya meminta kejelasan kepada pihak yang terakhir bersama korban.
Pihak keluarga berharap proses penyidikan membuka seluruh rangkaian fakta, termasuk kemungkinan keterlibatan orang lain di luar Bagus. Harti menyatakan sulit menerima kondisi yang berujung pada kehilangan dua orang terkasihnya, meski mengakui hubungan antara Dini dan Bagus kerap diwarnai perselisihan. Sampai saat ini, keluarga dan penasihat hukum menuntut agar penyidik menelusuri semua bukti, dari rekaman komunikasi hingga jejak digital, demi mendapatkan kebenaran atas kematian Dini dan AG.
Penulis: Redaksi




