Stok BBM di Sumatera Utara Aman, Gubernur Imbau Masyarakat Tak Panik
Medan – Lonjakan aktivitas masyarakat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Utara belakangan ini menjadi perhatian serius Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) akibat isu perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Namun, Bobby Nasution menegaskan bahwa stok BBM di wilayahnya masih dalam kondisi aman dan terkendali.
Gubernur mengimbau seluruh kepala daerah di Sumatera Utara untuk terus aktif mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying. Berdasarkan pantauan langsungnya di beberapa daerah, Bobby Nasution menyaksikan adanya antrean panjang di sejumlah SPBU. Situasi ini bahkan menyebabkan beberapa SPBU kehabisan stok lebih cepat dari biasanya.
“Saya harap kepala daerah terus edukasi masyarakat karena kalau saya perhatikan setelah saya mengunjungi beberapa kabupaten kota, panic buying cuma di kota-kota saja,” ujar Bobby Nasution saat acara Buka Puasa Bersama Keluarga Besar DPD Gerindra Sumut di Santika Premiere Dyandra Hotel, Sabtu (7/3/2026).
Ketersediaan BBM Nasional: Analogi Tangki Mobil
Untuk menenangkan kekhawatiran masyarakat, Bobby Nasution memberikan analogi sederhana. Ia membandingkan ketersediaan stok BBM nasional dengan tangki bahan bakar sebuah mobil. Tangki mobil akan selalu diisi kembali sebelum benar-benar kosong. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik.
“Jadi, tidak perlu panik, selama ini kita tidak pernah kehabisan BBM walau tempat penyimpanan BBM kita hanya 25 hari karena sebelum habis sudah diisi,” jelasnya.
Analisis Pengamat Ekonomi: Kepanikan Memicu Antrean
Menanggapi fenomena antrean panjang di SPBU, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa hal tersebut lebih disebabkan oleh kepanikan masyarakat yang melakukan pembelian berlebih atau panic buying. Menurutnya, kekhawatiran masyarakat tidak beralasan karena ketersediaan pasokan BBM nasional secara umum masih dalam kondisi aman.
“Masyarakat tidak perlu panik. Selama ini ketersediaan pasokan BBM kita rata-rata untuk 20 hari ke depan, bahkan bisa sampai maksimal 25 hari,” ujar Gunawan.
Ia menambahkan bahwa angka 20 hingga 25 hari tersebut merujuk pada kapasitas maksimum daya tampung kilang atau gudang penyimpanan BBM. Angka ini menunjukkan kemampuan penyimpanan maksimal yang dimiliki, bukan berarti stok akan habis setelah periode tersebut.
“Ini bukan berarti setelah 20 hari BBM menjadi langka atau habis. Pasokan impor dari luar negeri akan terus masuk secara berkala,” terangnya.
Antisipasi Pemerintah dan Dampak Panic Buying
Gunawan Benjamin juga menjelaskan langkah-langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah, terutama pasca penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Pemerintah dikabarkan telah mengalihkan sumber impor minyak dari kawasan lain, seperti Amerika Serikat dan Afrika, untuk memastikan kelancaran pasokan.
Di sisi lain, aksi panic buying yang dilakukan masyarakat justru dinilai memperburuk situasi di lapangan. Hal ini dapat memicu antrean panjang di SPBU, meningkatkan keresahan publik, serta berpotensi menyebabkan distribusi BBM menjadi tidak merata.
“Kondisi ini juga bisa mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya kendaraan niaga yang bergerak di sektor barang dan jasa,” jelas Gunawan.
Meskipun demikian, ia menilai fenomena panic buying ini tidak serta-merta memicu inflasi. Harga BBM saat ini masih relatif stabil meskipun terjadi peningkatan permintaan.
Akar Kekhawatiran Masyarakat dan Peran Kepercayaan Publik
Menurut Gunawan, kekhawatiran masyarakat muncul karena dua isu utama. Pertama, penutupan Selat Hormuz yang dianggap berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia dan memicu kelangkaan BBM. Kedua, kenaikan harga minyak mentah dunia yang dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga BBM di dalam negeri.
- Dampak pada BBM Non-Subsidi: Untuk BBM non-subsidi, dampaknya dapat langsung terasa karena harganya mengikuti harga minyak mentah dunia.
- Dampak pada BBM Subsidi: Sementara itu, BBM bersubsidi sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.
Oleh karena itu, Gunawan Benjamin menilai bahwa pemerintah perlu membangun kepercayaan publik agar kepanikan masyarakat dapat mereda.
“Yang perlu dibangun pemerintah adalah trust atau kepercayaan. Narasi yang menenangkan harus diikuti dengan upaya memastikan kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Imbauan untuk Masyarakat
Gunawan juga mengimbau masyarakat agar tidak membeli BBM secara berlebihan dan tetap membeli sesuai dengan kebutuhan. Ia mengingatkan bahwa meskipun perang dapat memengaruhi kebijakan ekonomi dan distribusi barang, kepanikan justru dapat memperburuk keadaan dan berdampak negatif pada masyarakat itu sendiri.
“Sejauh ini saya juga belum melihat dampak panic buying terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat,” pungkasnya.



















