Krisis Ojek Online: Keluhan Warganet, Potongan Aplikator, dan Dampak ke Driver
Perbincangan mengenai kelangkaan layanan ojek online (ojol) tengah hangat diperbincangkan di berbagai platform media sosial, khususnya X dan Threads. Warganet ramai-ramai menyuarakan keluhan mereka yang mengaku semakin sulit mendapatkan layanan ojol, baik untuk pengantaran makanan, barang, maupun transportasi personal. Situasi ini memuncak setelah sebuah unggahan viral di media sosial yang menampilkan pesanan GoFood dibatalkan setelah menunggu lebih dari dua jam.
Unggahan tersebut, yang memperlihatkan pembatalan pesanan GoFood dengan alasan tidak ada driver yang bersedia mengambil, telah dilihat jutaan kali dan memicu diskusi luas. Banyak pengguna lain yang turut merasakan pengalaman serupa, bahkan ada yang menduga adanya aksi mogok oleh para mitra ojol. Aksi mogok ini diduga dipicu oleh potongan harga atau komisi dari pihak aplikator yang dianggap tidak transparan, ditambah lagi dengan mendekatnya periode Lebaran yang membuat para driver perlu mengumpulkan lebih banyak penghasilan.
Dampak pada Layanan Pengantaran Barang: Argo Kecil Jadi Kendala
Keluhan mengenai kesulitan mendapatkan layanan ojol tidak hanya terbatas pada pengantaran makanan. Layanan pengantaran barang pun tak luput dari masalah. Salah seorang warganet mengungkapkan kebingungannya ketika pesanan layanan pengantaran barang same day yang ia buat sejak pagi hingga sore hari belum juga ada mitra ojol yang mengambil.
Dari perspektif mitra driver, alasan di balik keengganan mengambil pesanan pengantaran barang, terutama untuk layanan same day, adalah karena tarif yang ditawarkan tergolong kecil. Jarak tempuh yang jauh seringkali tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima. Ditambah lagi, ada batasan jumlah barang yang bisa dibawa dalam sekali pengantaran, yang semakin mengurangi potensi keuntungan bagi driver.
Layanan Transportasi Orang: Potongan Tinggi dan Argo yang Melonjak
Layanan transportasi orang pun menghadapi kendala serupa. Pengguna mengeluhkan sulitnya menemukan driver ojol yang tersedia, dan ketika berhasil menemukan pun, lonjakan tarif yang drastis menjadi pertanyaan besar. Beberapa pengguna melaporkan tarif yang melonjak hingga dua kali lipat dari biasanya, bahkan di luar jam sibuk atau saat kondisi lalu lintas normal.
Seorang mitra ojol mengungkapkan bahwa tarif yang diberikan untuk pengantaran penumpang kini dirasa terlalu rendah, bahkan hanya cukup untuk menutup biaya bensin. Ditambah lagi dengan hilangnya insentif yang sebelumnya menjadi daya tarik, banyak driver memilih untuk fokus pada pengantaran barang yang tarifnya lebih jelas dan menguntungkan, atau mengombinasikan dengan layanan pengantaran makanan untuk memaksimalkan pendapatan.
Kisah Mahasiswi Terdampak Krisis Ojol
Kondisi ini juga dirasakan secara langsung oleh kalangan mahasiswa yang mengandalkan ojol untuk mobilitas sehari-hari. Jahra (21), seorang mahasiswi di Jakarta, mengaku seringkali kesulitan mendapatkan ojek online saat melakukan perjalanan dari Stasiun MRT Lebak Bulus menuju kampusnya di Ciputat.

Meskipun memiliki berbagai aplikasi ojol, Jahra cenderung menggunakan salah satu aplikasi yang dirasa paling terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari, seperti pemesanan makanan, isi ulang e-money, atau pembelian kuota data. Namun, pada rentang waktu sore hingga malam hari, ia kerap mendapati sedikitnya driver yang tersedia di rute tersebut.
Jahra menduga, selain faktor kemacetan yang sering terjadi di jalur tersebut, lonjakan tarif di jam-jam tersebut juga menjadi salah satu penyebabnya. Ia menambahkan bahwa tarif ojol di jam-jam sibuk bisa meningkat hingga dua kali lipat dari tarif normal.

Mengenai penyebab pasti dari krisis layanan ojol ini, Jahra mengaku tidak mengetahui secara detail. Namun, berbagai keluhan dari pengguna dan sudut pandang dari mitra driver menunjukkan bahwa ada beberapa faktor kompleks yang saling terkait, mulai dari kebijakan tarif aplikator, insentif, hingga kebutuhan driver menjelang hari raya. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan model bisnis ojek online dan dampaknya terhadap pengguna serta para mitranya.

















