Gelombang Pengungsian Massal di Lebanon Akibat Perluasan Perintah Evakuasi Israel
Militer Israel telah memperluas cakupan perintah evakuasi bagi warga sipil di Lebanon, memicu krisis kemanusiaan yang signifikan dengan gelombang pengungsian besar-besaran. Awalnya, peringatan evakuasi hanya ditujukan untuk wilayah selatan Lebanon pada hari Senin, 3 Maret 2026. Namun, pada hari Kamis, 5 Maret 2026, perintah tersebut diperluas hingga mencakup seluruh pinggiran selatan ibu kota Beirut dan Lembah Bekaa.
Langkah drastis ini memaksa ratusan ribu penduduk untuk meninggalkan rumah mereka di tengah gempuran udara Israel yang terus berlanjut, menargetkan posisi-posisi kelompok Hizbullah. Jalanan di Beirut sempat lumpuh akibat kemacetan parah ketika warga bergegas mencari tempat yang lebih aman dari serangan.
Perintah Evakuasi Memicu Krisis Kemanusiaan yang Meluas
Perluasan perintah evakuasi ke pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai Dahieh, berdampak pada area yang sangat padat penduduk, menampung lebih dari satu juta jiwa. Penduduk terpaksa mengungsi dengan segala cara, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun berjalan kaki, hanya membawa barang-barang seadanya. Banyak dari mereka terpaksa menghabiskan malam di pinggir jalan, di dalam mobil, atau di taman kota karena pusat-pusat penampungan yang tersedia mulai terisi penuh.
Kementerian Kesehatan Lebanon telah mengerahkan upaya koordinasi dengan berbagai organisasi kemanusiaan untuk mengevakuasi pasien dari sejumlah rumah sakit di zona terdampak. Sayangnya, proses evakuasi medis ini tidak luput dari tragedi. Dua orang wanita dilaporkan meninggal dunia saat dalam proses pemindahan dari fasilitas medis di tengah kekacauan yang terjadi.
Dewan Pengungsi Norwegia mencatat angka yang mengkhawatirkan: lebih dari 300 ribu orang dilaporkan kehilangan tempat tinggal mereka dalam kurun waktu kurang dari 100 jam. Hingga Jumat, 6 Maret 2026, sekitar 96 ribu orang telah terdaftar secara resmi di pusat-pusat penampungan di seluruh Lebanon. Namun, ketersediaan makanan dan ruang di tempat penampungan darurat ini semakin menipis seiring bertambahnya jumlah pengungsi.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan keprihatinannya yang mendalam, “Bencana kemanusiaan sedang mengintai akibat pengungsian massal ini.”
Israel Menargetkan Pusat Komando dan Persenjataan Hizbullah
Kawasan Dahieh, yang mencakup sekitar 28 hingga 29 persen dari total luas wilayah Beirut, dikenal sebagai basis kekuatan utama Hizbullah. Area ini bukan hanya pusat politik dan ekonomi bagi kelompok tersebut, tetapi juga menampung dewan kepemimpinan mereka. Israel mengklaim telah melancarkan puluhan serangan udara yang ditujukan untuk menghancurkan pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata di kawasan tersebut.
Menyusul peringatan evakuasi, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengeluarkan pernyataan yang menyamakan nasib Beirut dengan Jalur Gaza, mengancam bahwa pinggiran selatan ibu kota Lebanon itu akan segera terlihat seperti Khan Younis yang telah hancur lebur.
Analisis Motif Militer dan Psikologis di Balik Perintah Evakuasi
Pensiunan Brigadir Jenderal Ali Abi Raad berpendapat bahwa perluasan perintah evakuasi ini memiliki motif ganda, yaitu militer dan psikologis, dengan tujuan menyebarkan ketakutan di kalangan penduduk. Menurutnya, pasukan Israel berniat menciptakan zona penyangga sejauh 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Hal ini diduga merupakan respons atas perlawanan sengit yang tak terduga dari pasukan Hizbullah.

Perintah Evakuasi Israel Tuai Kecaman Internasional dari Kelompok HAM
Perintah evakuasi massal yang dikeluarkan oleh militer Israel telah menuai sorotan tajam dari berbagai organisasi hak asasi manusia internasional. Peringatan evakuasi yang terlalu luas, tanpa instruksi perlindungan yang memadai, dinilai bertentangan dengan kewajiban hukum humaniter internasional. Instruksi tersebut dianggap tidak memberikan panduan yang jelas atau waktu yang cukup bagi warga sipil untuk menyelamatkan diri dengan aman.
Kristine Beckerle, Deputi Direktur Regional Amnesty International, menyatakan, “Perintah evakuasi besar-besaran telah menabur kepanikan dan teror, menggusur ratusan ribu orang, dan memicu bencana kemanusiaan lainnya bagi penduduk yang sudah kelelahan dan terguncang akibat berbagai krisis.”
Kekhawatiran global semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah korban sipil akibat eskalasi serangan. Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa 217 orang tewas dan 798 lainnya terluka sejak awal Maret 2026.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menggambarkan situasi saat ini sebagai “momen yang sangat berbahaya bagi kawasan.” Ia mendesak Israel untuk membatalkan intervensi darat serta operasi militer lainnya di wilayah Lebanon. Macron juga menyerukan kepada Hizbullah untuk segera menghentikan serangannya demi mencegah Lebanon terseret lebih jauh ke dalam jurang perang.
Situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk, dengan laporan mengenai 83 ribu warga yang mengungsi akibat serangan Israel. Ancaman perubahan ibu kota Lebanon menjadi seperti Gaza oleh Menteri Israel, serta risiko pelanggaran hukum perang akibat perintah evakuasi Israel, menambah kompleksitas krisis yang sedang berlangsung.




















