Misteri Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis HAM: Jejak Pemantauan dan Ancaman Misterius
Kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, pada Kamis malam (12/3/2026) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, kian menyisakan misteri. Penyelidikan awal mengungkap adanya pola yang mengkhawatirkan: sebelum insiden mengerikan itu terjadi, aktivitas Andrie diduga kuat telah dipantau secara intensif oleh pihak yang tidak dikenal.
Pemantauan Asrama dan Aktivitas Sehari-hari
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelum kejadian, ada individu yang tidak dikenal terlihat memantau asrama KontraS. “Jadi tiga hari ini ada orang datang ke asrama KontraS memantau, dia di depan pintu asrama KontraS,” jelas Isnur. Saksi mata di lokasi kejadian melihat beberapa orang asing berada di sekitar mess KontraS selama tiga hari sebelum insiden tersebut. Mereka dilaporkan pergi ketika didekati dan berdasarkan keterangan saksi, orang-orang tersebut bukanlah penduduk lokal di sekitar asrama.
Bukan hanya di asrama, bukti-bukti juga menunjukkan bahwa aktivitas Andrie telah diikuti di berbagai lokasi lain. Isnur menyebutkan bahwa sehari penuh sebelum kejadian, pergerakan Andrie dari kantor Celios hingga YLBHI telah diikuti oleh orang-orang yang identitasnya terekam jelas dalam rekaman CCTV. Hal ini mengindikasikan adanya perencanaan matang di balik serangan tersebut.
Kronologi Serangan yang Mengerikan
Serangan penyiraman air keras dilakukan oleh dua orang yang berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Beat keluaran tahun 2016 hingga 2021. Akibat serangan brutal ini, Andrie mengalami luka bakar yang cukup parah, mencapai sekitar 24 persen dari total luas tubuhnya. Ia hingga kini masih menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Detail kronologi insiden ini diungkapkan oleh Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya. Pada hari kejadian, Andrie memulai aktivitasnya dengan berangkat dari kantor KontraS sekitar pukul 15.30 WIB untuk menghadiri pertemuan di Kantor Celios. Pertemuan ini membahas tindak lanjut laporan investigasi Komisi Pencari Fakta mengenai Aksi Agustus 2025.
Setelah agenda tersebut, sekitar pukul 19.45 WIB, Andrie melanjutkan kegiatannya menuju kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Menteng, untuk melakukan perekaman podcast bersama staf YLBHI, Zainal Arifin. Ia berada di kantor YLBHI hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor, Andrie sempat mengisi bahan bakar di SPBU Cikini.
Sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintas di Jalan Salemba I, kawasan Talang, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang bergerak melawan arah. Ketika kedua kendaraan berpapasan, pelaku tanpa ragu menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban. Cairan tersebut mengenai sisi kanan tubuh Andrie, termasuk mata, wajah, dada, dan tangan. Korban seketika berteriak kesakitan, menghentikan laju motornya, dan terjatuh.
Ancaman Misterius dan Panggilan Telepon Tak Dikenal
Sebelum insiden penyiraman air keras, Andrie Yunus dilaporkan sempat menerima serangkaian panggilan telepon misterius. Dimas Bagus Arya menyebutkan bahwa antara tanggal 9 hingga 12 Maret 2026, Andrie menerima beberapa panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Sebagian nomor tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas spam penipuan, pinjaman online, hingga modus penipuan perbankan daring (m-banking).
Rumah Keluarga di Sukabumi Juga Didatangi OTK
Mengerikan lagi, rumah keluarga Andrie Yunus yang berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat, ternyata juga pernah didatangi oleh orang tak dikenal (OTK) pada 16 Januari 2026. Dimas Bagus Arya mengkonfirmasi hal ini setelah berkomunikasi dengan ayah Andrie. OTK tersebut diduga mencari informasi mengenai Andrie dan keluarganya. Pihak KontraS menduga kunjungan ini berkaitan erat dengan aktivitas Andrie dalam lingkup pekerjaannya di bidang Hak Asasi Manusia (HAM).
“Jadi tadi saya sempat dikasih bukti CCTV saat ada orang tidak dikenal yang mengaku dari Jakarta berplat nomor D,” lanjut Dimas, mengindikasikan adanya jejak fisik yang terekam dari kunjungan tersebut.
Perawatan Intensif dan Harapan untuk Pengusutan Tuntas
Saat ini, Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kepala Divisi Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menyatakan bahwa kondisi Andrie belum memungkinkan untuk ditemui atau diwawancarai. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan tingkat keparahan luka bakar sekitar 24 persen akibat reaksi inflamasi dari cairan keras yang mengenai kulitnya.
“Andrie tidak bisa ditemui apalagi diwawancarai, sedang dalam perawatan intensif,” ujar Jane. Ia menambahkan bahwa tingkat keparahan luka memerlukan perawatan intensif dalam kondisi steril agar proses pemulihan berjalan optimal.
KontraS menghormati sepenuhnya proses medis yang dijalani Andrie dan berharap publik dapat mengawal proses hukum yang sedang berjalan. Mereka mendesak agar kasus ini segera diusut tuntas dan para pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Jane Rosalina juga memohon kepada masyarakat untuk memberikan ruang bagi keluarga, terutama korban, agar dapat fokus mendampingi dan menguatkan Andrie selama masa pengobatan, perawatan, hingga pemulihan. Upaya pengawalan publik diharapkan dapat memastikan keadilan bagi Andrie Yunus dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.



















