Denada, seorang penyanyi ternama, baru-baru ini mengungkapkan penyesalan mendalam atas keputusan masa lalunya untuk menyerahkan pengasuhan putranya, Ressa Rossano, kepada kerabat di Banyuwangi. Bertahun-tahun setelah keputusan tersebut diambil, Denada kini menyadari bahwa itu adalah langkah yang keliru. Ia mengungkapkan perasaan tersebut dalam sebuah perbincangan di podcast Feni Rose Official, menyatakan, “Keputusan itu menurut aku keputusan yang salah. Kalau aku bisa memutar waktu kembali, aduh sudah benar kayaknya mestinya dahulu tuh, aku saja, sama aku saja.”
Penyesalan ini begitu kuat hingga Denada pernah menyampaikannya kepada mendiang ibundanya, Emilia Contessa. Dengan nada yang penuh emosi, ia bertutur, “Aku pernah bilang sama Mama dan aku menyesal banget, ya Allah aku menyesal banget ngomong ini. Aku bilang sama Mama, aku menyesal.”
Latar Belakang Keputusan Sulit
Perempuan berusia 47 tahun itu menjelaskan lebih lanjut mengenai alasan di balik keputusannya yang berat untuk menyerahkan Ressa Rizky Rossano kepada kerabatnya di Banyuwangi. Denada menegaskan bahwa tindakan tersebut sama sekali bukan karena keinginannya untuk “membuang” buah hatinya. Sebaliknya, ia berargumen bahwa keputusan itu diambil dengan niat tulus untuk memberikan gambaran keluarga yang ideal bagi tumbuh kembang Ressa.
“Ressa itu bukan kesalahan, Ressa itu tidak dibuang. Aku tidak pernah membuang dia. Aku jaga dia, aku pertahankan dia, dan aku lahirkan dia,” tegas Denada, menekankan betapa berharganya Ressa baginya.
Denada merasa bahwa pada saat itu, ia tidak mampu memberikan lingkungan keluarga yang utuh jika Ressa tetap bersamanya. Hal ini dikarenakan statusnya yang belum menikah kala itu. Ia berargumen bahwa dengan tinggal bersama kerabatnya, Ressa akan dapat merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya.
“Bayangan aku pada saat itu, Ressa akan berada bersama keluarga dekat, di mana Om Dino dan Tante Ratih memang sudah lama sekali menginginkan anak laki-laki. Aku pikir perfect, karena Ressa akan tumbuh di mana dia akan melihat ada sosok bapak dan sosok ibu,” jelasnya.
Antisipasi Stigma Sosial
Lebih lanjut, Denada juga memikirkan dampak sosial yang mungkin dihadapi Ressa. Ia berharap dengan keputusan tersebut, Ressa tidak akan mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sosialnya.
“Dia tidak akan dibully karena tidak punya bapak. Karena semua orang kan takut sama Ibu (Eyang) dan semua orang di situ sangat amat menghormati keluarga,” tambah Denada, merujuk pada rasa hormat yang dimiliki masyarakat sekitar terhadap keluarga kerabatnya.
Keputusan ini, meski diambil dengan pertimbangan matang demi kebaikan Ressa di mata Denada saat itu, kini meninggalkan luka penyesalan yang mendalam. Denada berharap, seandainya waktu bisa diputar, ia akan memilih untuk menjaga dan membesarkan Ressa sendiri. Perasaan ini mencerminkan kompleksitas peran orang tua tunggal dan tantangan dalam memberikan yang terbaik bagi anak dalam situasi yang tidak ideal.



















