Penjelasan tentang UNIFIL dan Tugasnya di Lebanon
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) adalah pasukan penjaga perdamaian PBB yang bertugas di Lebanon. Dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada Maret 1978, UNIFIL memiliki mandat untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Lebanon selatan. Misi ini hadir sebagai respons terhadap konflik yang terjadi di wilayah tersebut serta untuk mendukung keamanan internasional.
UNIFIL berkedudukan di Naqoura, Lebanon, dan terdiri dari personel militer serta staf sipil dari berbagai negara anggota PBB. Mandat awal UNIFIL mencakup memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu pemerintah Lebanon menjalankan otoritasnya secara efektif di wilayah tersebut.
Setelah konflik tahun 2006, mandat UNIFIL diperluas, antara lain memantau penghentian permusuhan, mendampingi dan mendukung Lebanese Armed Forces saat ditempatkan di wilayah selatan, serta berkoordinasi dengan pemerintah Lebanon dan Israel dalam menjaga stabilitas kawasan. UNIFIL juga membantu memastikan akses kemanusiaan bagi warga sipil dan mendukung pemulangan pengungsi secara aman dan sukarela.
Peran Indonesia dalam Misi UNIFIL
Indonesia telah terlibat dalam pengiriman pasukan perdamaian PBB sejak tahun 2006. Negara ini menjadi salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi UNIFIL. Berdasarkan data resmi UN Peacekeeping per Januari 2026, Indonesia berada di posisi kedua setelah Italia dalam jumlah personel yang dikirimkan ke misi tersebut, yakni sebanyak 756 pasukan.
Kontribusi Indonesia dalam UNIFIL menunjukkan peran aktif berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Lebanon. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melepas Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda yang akan melaksanakan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia menyebut ada 1.090 prajurit yang dikirim mengikuti misi perdamaian di Lebanon tahun ini.
Agus mengatakan pengiriman kembali Kontingen Garuda ke Lebanon merupakan suatu kebanggaan bagi TNI. Dia menyampaikan pesan kepada prajurit untuk mematuhi aturan dan mengikuti perintah yang telah ditetapkan oleh PBB. Ia meminta prajurit menjaga nama baik TNI dan Indonesia.
Tragedi yang Menewaskan Prajurit TNI di Lebanon
Pada 29 dan 30 Maret 2026, tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden terpisah di wilayah Lebanon. Kopral Farizal Rhomadon berusia 28 tahun gugur setelah sebuah proyektil meledak di pos UNIFIL dekat Adchit Al‑Qusayr, menewaskan dirinya dan melukai satu prajurit lainnya secara kritis. Sehari kemudian, Mayor Zulmi Aditya Iskandar (33) dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan (26) tewas ketika kendaraan mereka hancur akibat ledakan di pinggir jalan dekat Bani Hayyan. Dua rekan seperjuangan mereka mengalami luka serius dalam kedua insiden tersebut.
Upacara penghormatan terakhir bagi tiga anggota Kontingen Indonesia yang gugur diselenggarakan oleh UNIFIL pada Kamis, 2 April 2026. Dalam suasana khidmat, Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon dianugerahi Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta, sekaligus menerima penghargaan medali dari Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) sebagai wujud apresiasi internasional atas pengorbanan mereka.
Reaksi dan Langkah yang Diambil oleh Pemerintah Indonesia
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras insiden yang menewaskan para penjaga perdamaian, menyerukan semua pihak untuk mematuhi hukum internasional dan memastikan keselamatan personel PBB di zona konflik. Dewan Keamanan PBB juga mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi kepada keluarga korban dan pemerintah Indonesia, menegaskan dukungan penuh terhadap operasi UNIFIL.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan serta Badan Koordinasi Penanganan Insiden (BKPI) telah mengirim tim medis dan logistik untuk membantu proses identifikasi jenazah serta pemulangan ke tanah air. Keluarga korban dijanjikan santunan serta bantuan psikologis bagi mereka yang terdampak secara emosional.
Selain penghargaan medali, Presiden Republik Indonesia secara pribadi menyampaikan ucapan belasungkawa melalui pesan resmi, menegaskan bahwa jasa para pahlawan ini akan selalu dikenang dalam sejarah TNI dan bangsa. Pemerintah juga berjanji memperkuat prosedur keamanan bagi personel yang bertugas dalam misi perdamaian internasional.
Permintaan Perlindungan yang Dilakukan oleh Indonesia
Dalam konteks ini, Indonesia secara resmi mengajukan desakan perlindungan lebih lanjut untuk personel UNIFIL yang bertugas di Lebanon. Hal ini dilakukan mengingat tingginya risiko ancaman kekerasan di daerah operasi. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan keamanan sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan tugas misi perdamaian di Lebanon.
Dia meminta prajurit mengutamakan keamanan dalam melaksanakan tugas misi perdamaian di Lebanon. Dia menegaskan keamanan merupakan prioritas utama. “Untuk itu saya minta dalam melaksanakan tugas, faktor keamanan menjadi prioritas utama, pertahankan kewaspadaan setiap saat, serta pahami dan kuasai kondisi daerah operasi, serta laporkan secara cepat setiap perkembangan yang terjadi,” katanya.
Keterlibatan Indonesia dalam misi UNIFIL menunjukkan komitmen negara dalam menjaga perdamaian dunia. Namun, insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI menunjukkan adanya risiko yang harus dihadapi oleh personel penjaga perdamaian. Oleh karena itu, Indonesia mengajukan permintaan perlindungan lebih lanjut untuk personel UNIFIL yang bertugas di Lebanon. Ini menjadi langkah penting dalam memastikan keselamatan dan keberlanjutan misi perdamaian di kawasan konflik.
Penulis : wafaul



















