Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Pengaruhi Aktivitas di SPBU Kroya
Di wilayah Kroya, Kabupaten Cilacap, aktivitas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tampak lebih sepi dibanding biasanya. Hal ini terjadi setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa jalur antrean pengisian BBM berkurang, khususnya untuk jenis Dexlite dan Pertamax Turbo. Dugaan kuat mengenai dampak kebijakan ini muncul setelah adanya kenaikan harga yang signifikan.
Berdasarkan data dari MyPertamina, harga Pertamax Turbo (RON 98) melonjak dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, sementara Dexlite naik drastis dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter. Selain itu, Pertamina Dex juga mengalami kenaikan signifikan dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter. Perubahan ini membuat sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pola konsumsi mereka.
Namun, harga BBM jenis Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp12.300 per liter, Pertalite tetap di Rp10.000 per liter, dan Biosolar tetap di Rp6.800 per liter. Meskipun demikian, kenaikan harga BBM non subsidi tersebut cukup memberatkan bagi masyarakat.
Seorang warga, Wiguna, mengungkapkan kejutan atas lonjakan harga Dexlite yang dinilai sangat tinggi dibanding sebelumnya. “Cuma aku lihat kenaikannya gila-gilaan ya, Dexlite sekarang malah lebih mahal dari Pertamax,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa selama ini tidak selalu menggunakan Dexlite karena seringkali juga mengisi Solar untuk menekan pengeluaran bulanan. “Rata-rata per bulan ngisi Dexlite bisa 200 sampai 250 ribu kalau nggak lagi keluar kota,” jelasnya.
Mengurangi Pemakaian BBM Non Subsidi
Menurut Wiguna, rencana untuk menggunakan Dexlite secara penuh pada bulan ini terpaksa diurungkan setelah mendengar kabar kenaikan harga yang cukup signifikan. “Sebenernya bulan ini pengen full isi Dexlite, tapi karena naik dan lumayan tinggi, kayaknya tetap aku variasiin sama Solar,” tambahnya.
Kenaikan harga ini tidak hanya memengaruhi daya beli masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas di SPBU. Sejumlah warga memilih beralih ke BBM subsidi atau mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan demi menekan pengeluaran di tengah lonjakan harga energi.
Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Dampak dari kenaikan harga BBM non subsidi ini terasa oleh berbagai kalangan masyarakat. Beberapa dari mereka mulai mencari alternatif penggunaan BBM yang lebih murah, seperti Solar atau BBM subsidi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban keuangan bulanan.
Selain itu, banyak masyarakat yang mempertimbangkan kembali kebutuhan akan penggunaan kendaraan pribadi. Beberapa bahkan mulai memilih transportasi umum atau bersepeda untuk mengurangi pengeluaran bahan bakar.
Perubahan ini juga memengaruhi keberlangsungan usaha kecil dan menengah, terutama yang bergantung pada mobil atau motor sebagai alat transportasi. Banyak dari mereka harus menyesuaikan biaya operasional dengan kenaikan harga BBM.
Tantangan di Masa Depan
Dengan semakin tingginya harga BBM non subsidi, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur anggaran pengeluaran. Selain itu, pemerintah dan pelaku bisnis juga diminta untuk memberikan solusi dan alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Peningkatan harga BBM non subsidi ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan harga energi. Dengan memperhatikan kebutuhan dan kebiasaan penggunaan BBM, masyarakat dapat menghindari peningkatan pengeluaran yang tidak terencana.



















