Kehidupan dan Nilai-nilai dalam Budaya Biak
Dalam budaya Biak, terdapat pepatah yang menyampaikan pesan penting tentang pendidikan dan kehidupan. Pepatah tersebut berbunyi: “Farkor pyum insamaido wakbe amber”, yang dapat diterjemahkan sebagai “Kamu belajar baik-baik supaya kamu menjadi orang yang maju atau yang dihormati”. Kalimat ini tidak hanya memiliki makna filosofis yang dalam, tetapi juga penuh energi.
Kata “amber” dalam bahasa Biak merujuk pada istilah seperti tamu, tuan, orang asing, atau pendatang. Sementara itu, kata “farkor” bisa diartikan sebagai ajakan untuk belajar, mengajar, atau bercerita. Dari sini, kita dapat melihat bahwa nilai-nilai kearifan lokal sangat penting dalam mendidik generasi muda. Pendidikan yang baik harus dilakukan tanpa arogansi, penuh dengan nuansa merendah, dan diisi dengan cerita-cerita yang membuka wawasan tentang masa depan agar anak muda bisa dihormati dan mampu mengayomi sesama.
Arogansi dalam Perspektif Budaya dan Agama
Arogansi adalah sikap sombong, keangkuhan, atau perasaan superioritas berlebihan yang ditunjukkan dengan meremehkan orang lain. Hal ini mencakup berbagai bentuk perilaku, seperti arogansi kekuasaan, intelektual, atau bahkan di jalan raya. Sinonim dari arogansi antara lain angkuh, congkak, sombong, pongah, dan meremehkan.
Dalam konteks agama, khususnya Alkitab, arogansi dipandang sebagai dosa serius dan kekejian di mata Tuhan. Ini sering kali dianggap sebagai akar dari kejahatan dan permusuhan terhadap Allah. Alkitab menegaskan bahwa orang yang angkuh akan menghadapi hukuman (Amsal 16:5), karena arogansi menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan dan sesama.
Mengapa Pendidikan Generasi Muda Papua Harus Tanpa Arogansi?
Mungkin pertanyaan ini terdengar tidak berdasar, mengapa pendidikan bagi generasi muda Papua harus dilakukan tanpa arogansi? Namun, jika kita melihat dari perspektif budaya dan agama, jawabannya cukup jelas. Arogansi dapat menghambat proses pendidikan dan mengurangi potensi generasi muda untuk berkembang secara kolektif.
Sebuah lagu yang sering dinyanyikan dalam budaya Papua menyentuh hati dan memperkuat pesan ini. Lagu tersebut berbunyi: “Kata orang engkau mau berangkat, matahari hendak terbenam, kalau mukamu tak bercahaya kampung kami menjadi gelap, mari duduk sebentar bercakap, tidak boleh pergi tergesa, jangan lupa lembah-sungai merah dan seorang dengan kasihnya.” Pesan dalam lagu ini menekankan pentingnya hubungan yang harmonis dan saling menghargai.
Menjadi “Amber” Tanpa Arogansi
Pendidikan dengan arogansi mungkin bisa saja menggagalkan masa depan kolektif, bahkan menghadirkan generasi muda Papua yang berpotensi kehilangan daya lenting atau resiliensi untuk terus belajar, mengajar, atau berceritera tentang tujuan dan makna TUA. Oleh karena itu, kita harus menjadi “amber” tanpa arogansi intelektual atau apapun diri kita.
Mari jadi sombar tanpa api, mari jadi angin tanpa badai, dan mari jadi “amber” tanpa arogansi. Dengan demikian, kita dapat memberikan contoh yang baik bagi generasi muda dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu.




















