Sejarah Kawasan Devris di Kota Bogor
Kawasan Devris memiliki sejarah yang cukup menarik dan menjadi bagian dari identitas Kota Bogor. Nama kawasan ini berasal dari sosok bernama Devries, seorang pengusaha asal Belanda yang membangun bengkel pertama di Bogor pada masa kolonial. Saat ini, kawasan Devris dikenal sebagai pusat batu akik dan area kuliner malam yang populer di Kota Bogor.
Asal Usul Nama Devris
Devries adalah nama yang tidak hanya sekadar sebuah istilah, melainkan merujuk pada sosok nyata. Ia adalah seorang pengusaha yang tinggal di Buitenzorg (sebutan Bogor pada masa Hindia-Belanda). Nama “Devris” mungkin merupakan penyederhanaan dari “Devries”, dengan huruf “e” yang terdapat dalam namanya. Meski informasi tentang kehidupan serta keluarganya masih kurang lengkap, ia dikenal sebagai pengusaha bengkel pertama di kawasan tersebut.
Lokasi tempat tinggal dan bengkelnya kini berada di lahan yang menjadi Superindo Jembatan Merah. Selain itu, ia juga memiliki pompa bensin engkol yang menjadi salah satu ciri khas era kolonial.
Peran Devries dalam Sejarah Bogor
Menurut pegiat sejarah Abdullah Abubakar Batarfie, Devries tinggal di Buitenzorg pada abad ke-17 hingga ke-18. Keberadaan Istana Bogor yang awalnya menjadi kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda menjadi alasan utama mengapa banyak orang Eropa, termasuk Devries, tinggal di Bogor. Pada masa itu, Bogor menjadi pusat simbolik kekuasaan kolonial.
Bogor dinilai nyaman bagi orang-orang Eropa karena dekat dengan pusat pengaruh politik dan sosial. Selain itu, iklim yang sejuk, keamanan, kesehatan, serta keindahan alam membuat Bogor menjadi seperti “Eropa kecil” di tengah wilayah tropis.

Secara geografis, Buitenzorg tidak begitu luas dibandingkan kota-kota lain yang memiliki pengaruh kolonial kuat seperti Bandung atau Surabaya. Namun, Bogor memiliki fasilitas yang sangat lengkap untuk golongan elit Eropa. Salah satunya adalah keberadaan societeit, yaitu klub eksklusif tempat para pejabat, pengusaha, dan keluarga elite berkumpul.
Selain itu, fasilitas rekreasi modern pada zamannya juga tersedia, seperti klub berkuda dan arena balap kuda yang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat itu.
Pengaruh Devries Sampai Saat Ini
Nama Devries tidak pernah hilang dari ingatan warga Bogor. Bahkan, ia sampai meninggal dan dimakamkan di Pemakaman Umum Gunung Batu (PGB), yang dulunya merupakan lahan pemakaman Belanda atau Kerkhoff. Gerbang bertuliskan “Momento Mori” atau “ingatlah akan momen kematian” menjadi penanda bahwa lokasi ini adalah pemakaman Belanda.
Saat ini, kawasan Devris tetap menjadi bagian penting dari Kota Bogor. Ia tidak hanya menjadi nama kawasan, tetapi juga menjadi tempat pusat penjualan batu akik dan area kuliner malam yang ramai dikunjungi warga dan wisatawan.
Devris kini menjadi salah satu ikon kota yang menggabungkan sejarah, budaya, dan kehidupan modern. Dari bengkel pertama yang dibangun oleh Devries hingga menjadi pusat bisnis dan kuliner, kawasan ini terus berkembang sambil menjaga warisan sejarahnya.

















