Inovasi Pengeringan Produk Laut oleh Tim ITB
Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin oleh Susanna Nurdjaman menciptakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai oven besar untuk mempercepat proses pengeringan produk laut. Model bangunan ini memiliki beberapa variasi, salah satunya dilengkapi dengan pemanas ruangan yang bertenaga surya serta menggunakan limbah botol plastik sebagai dinding.
Bangunan tersebut dapat digunakan untuk pengeringan rumput laut, pengolahan ikan asin, kerupuk, dan garam. Dosen di kelompok keahlian oseanografi lingkungan dan terapan ITB itu menjelaskan bahwa tempat tersebut sangat berguna dalam mengoptimalkan proses pengeringan.
Bangunan terbaru yang berkonsep dry oven berdiri di Desa Muara, Kabupaten Cirebon, pada 4 April 2026. Ukuran bangunan ini adalah 5 x 2 meter dengan ketinggian 3 meter. Ruangannya dilengkapi pemanas yang bertenaga surya, hasil dari panel yang disimpan dalam aki.

Penataan rumput laut di dalam bangunan pengering di Desa Muara, Cirebon, April 2026. Dok. Tim ITB
Dinding bangunan terbuat dari seng dengan tiang yang menggunakan baja ringan dan atap yang transparan seperti rumah kaca. Hal ini memungkinkan sinar matahari masuk dan panasnya terkumpul. Susanna menjelaskan bahwa panas utamanya berasal dari matahari langsung, sedangkan tambahannya berasal dari pemanas tenaga panel surya.
Selain itu, bangunan ini bisa digunakan ketika hari mendung atau hujan. Proses pengeringan juga dinilai lebih higienis karena berlangsung di dalam ruangan. Namun, sebagai bangunan contoh, Susanna mengakui kapasitas untuk produk laut yang akan dikeringkan masih sedikit.
Menurutnya, model bangunan ini bisa dikembangkan ke ukuran yang lebih besar sesuai kebutuhan dan digunakan secara komunal. Ia menjelaskan bahwa jika panen rumput laut tidak setiap hari, hari-hari lain bisa digunakan untuk proses pengeringan produk lain.
Seorang petambak udang dan ikan di Desa Muara, Wahyudi, mengakui bahwa rumah oven ini bisa membantu proses pengeringan meskipun jumlahnya masih terbatas. Dari sekitar 1-2 ton hasil panen rumput laut, hanya 2-3 kuintal yang bisa masuk ke ruang pengeringan.
Budi daya rumput laut umumnya dilakukan oleh kebanyakan petani tambak. Kolam mereka bercampur dengan udang atau ikan bandeng. Di saat hari panas, menurut Wahyudi, lama pengeringan rumput laut di luar dan di dalam ruangan oven hampir sama, yaitu sekitar 2-3 hari. Bangunan tersebut mengatasi masalah pengeringan ketika cuaca hujan.
Dalam dua tahun terakhir, Susanna menerapkan metode pengeringan sederhana ini di beberapa wilayah pesisir dengan beragam model dan ukuran, seperti 3 x 4 meter. Rumah garam berskala rumahan, misalnya, digunakan untuk mengeringkan air laut bagi petambak garam di Cirebon, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Di dalamnya dipasang rak bertingkat sehingga hemat tempat dan lebih cepat untuk pengeringan.
Kualitas (grade) garamnya lebih bagus dan lebih bersih, kata Susanna. Dari hasil uji coba yang dilakukan, pengeringan di dalam ruangan seperti green house itu menghasilkan 300-500 kilogram. Dengan cara biasa, yaitu penjemuran di luar ruangan, diperlukan waktu sekitar 2-4 minggu. Jika hujan, penjemurannya harus diulang. Sedangkan penjemuran rumah garam sudah bisa menghasilkan dalam waktu sepekan.
Selain bahan logam sebagai penutup dinding, Susanna juga memakai botol plastik bekas yang disusun hingga rapat. Selain untuk mengatasi limbah plastik, biaya pembuatan rumah oven pun menjadi lebih murah. Menurutnya, bahan lain bisa dikembangkan untuk dipakai. Dari beberapa rumah oven yang dibuatnya, kisaran biayanya sekitar Rp 5-50 juta.



















