Ancaman Ransomware yang Mengancam Sektor Keuangan
Sektor keuangan terus menghadapi ancaman serangan siber, termasuk ransomware. Serangan ini tidak hanya meningkat dalam jumlah tetapi juga semakin canggih dan berpotensi merusak sistem keuangan yang kritis. Dengan adanya teknologi kecerdasan buatan (AI), diharapkan bisa menjadi alat untuk mencegah peningkatan serangan siber.
Tingginya Nilai Transaksi Menjadi Alasan Utama Target
Salah satu alasan utama peretas menargetkan sektor keuangan adalah karena besarnya nilai transaksi yang dikelola. Hal ini membuat sektor tersebut menjadi target utama bagi pelaku kejahatan siber. Modus ransomware yang umum digunakan adalah dengan mengenkripsi data atau mengunci sistem korban, lalu meminta uang tebusan agar data tersebut dapat diakses kembali.
Laporan dari KELA mencatat bahwa dari 4.701 insiden ransomware global yang terjadi antara Januari hingga September 2025, sekitar 50% di antaranya menyerang sektor infrastruktur kritis, termasuk industri keuangan. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yaitu 3.219 insiden.
Perkembangan Modus Penyerangan
Menurut CTO Prosperita Group Yudhi Kukuh, server yang terhubung ke internet publik hampir pasti akan menjadi target dalam waktu singkat. Cara kerja peretasan juga telah berkembang. Jika dulu serangan lebih banyak menyebabkan kerusakan file, kini tujuannya bergeser ke pengambilalihan sistem.
Kukuh menegaskan bahwa ransomware tetap menjadi ancaman utama karena masih sangat menguntungkan bagi pelaku kejahatan siber. “Ransomware itu never die, terutama ada duitnya. Uang besar itu,” ujarnya dalam media briefing peluncuran ESET Cloud Workload Protection.
Target Serangan yang Lebih Spesifik
Menurut Kukuh, peretasan tidak ditentukan oleh jenis industri semata, melainkan oleh fungsi pekerjaan di dalam organisasi, terutama yang berkaitan dengan keuangan. Banyak serangan ransomware menargetkan email bagian keuangan atau akuntansi karena di dalamnya terdapat data penting dan sensitif.
Meski sektor keuangan sering menjadi target utama, pada dasarnya semua sektor memiliki risiko yang sama. Hanya saja, tingginya nilai transaksi membuat sektor keuangan lebih rentan terhadap serangan.
Peran AI dalam Meningkatkan Keamanan Siber
Dalam menghadapi volume serangan yang tinggi dan kompleksitas ancaman modern, penggunaan kecerdasan buatan (AI) menjadi semakin penting. AI membantu proses monitoring dan deteksi ancaman secara lebih cepat dan efisien.
“Kita perlu memonitor dengan bantuan AI, karena tanpa machine learning, serangan dalam sehari akan sulit ditangani karena saking banyaknya,” ujar Kukuh.
Dua Sisi dari Teknologi AI
Dalam dunia keamanan siber, AI memiliki dua sisi yaitu dapat digunakan untuk bertahan maupun menyerang. Penggunaan AI untuk pertahanan, seperti mendeteksi celah dan melakukan patching sistem, menurutnya merupakan hal yang positif dan perlu didorong.
Server yang terhubung ke internet publik hampir pasti akan langsung menjadi target percobaan serangan dalam hitungan menit. Oleh karena itu, AI dibutuhkan untuk membantu analisis dan respons secara real-time guna meningkatkan efektivitas sistem keamanan.
Risiko yang Harus Diperhatikan
Meski bermanfaat, AI juga memiliki risiko karena dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. AI dapat dimanipulasi melalui input tertentu sehingga menghasilkan hasil yang tidak semestinya. Oleh karena itu, penggunaan AI harus dilakukan dengan hati-hati dan diawasi dengan baik.



















