Pengalaman Menyedihkan Pasangan Pengantin Baru yang Jadi Korban Penipuan Wedding Organizer
Pasangan pengantin baru dari Bekasi, Aldi dan Feny, mengalami kekecewaan besar setelah menjadi korban penipuan dari wedding organizer (WO) bernama Marwah. Kejadian ini terjadi saat mereka merayakan hari bahagia mereka, tetapi justru berakhir dengan rasa kecewa dan kebingungan.
Awalnya, Feny menemukan jasa WO tersebut melalui Instagram. Ia tertarik karena melihat berbagai penawaran paket pernikahan yang menarik. Setelah melakukan komunikasi awal, Feny memutuskan untuk memberikan uang muka atau DP sebagai tanda jadi.
“Saya melakukan pembayaran DP dulu. Setelah DP, saya test food. Datang langsung ke acara Marwah,” kata Feny di Mapolres Jakarta Timur, Minggu (24/5/2026) malam.
Keyakinan Feny semakin bertambah karena saat sesi tes makanan berlangsung, ia melihat banyak staf WO Marwah yang tampak sibuk melayani acara. Berbagai fasilitas juga diperlihatkan kepada calon pengantin, mulai dari gubukan makanan, make up artist (MUA), MC, dekorasi, hingga contoh pelaminan yang terlihat lengkap.
Situasi itu membuat Feny dan Aldi merasa yakin bahwa WO tersebut profesional dan mampu menangani resepsi mereka dengan baik.
“Setelah pulang dari situ saya dihubungi admin Marwah untuk menanyakan info lainnya. Lalu ada fitting di JGC, kantornya. Saya fitting dua kali. Setelah fitting, lanjut pembayaran bertahap sampai lunas,” kata Feny.
Seluruh proses persiapan berjalan normal, termasuk sesi fitting dan komunikasi dengan pihak admin yang terus dilakukan secara intensif. Namun di balik rangkaian persiapan yang tampak meyakinkan itu, pasangan ini akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit karena resepsi pernikahan mereka justru berakhir berantakan.
Feny kemudian melunasi seluruh pembayaran paket pada awal April 2026. Selanjutnya, ia kembali melakukan pembayaran tambahan jumlah tamu (pax) pada 11 Mei 2026 hingga total pembayaran mencapai Rp 85 juta.
Ia juga sempat mengikuti technical meeting secara daring bersama tim WO. Namun, menurutnya, pertemuan itu berlangsung singkat dan tidak menjawab banyak pertanyaan teknis terkait acara.
“Menurut saya technical meeting-nya masih belum jelas karena tidak detail. Yang saya dapat cuma catering-nya berapa pax, gubukan berapa pax per item, pax-nya di sesi ke berapa. Sangat tidak detail,” ungkapnya.
Kecurigaan Feny semakin besar setelah mendengar pengalaman korban lain yang sebelumnya pernah menggunakan jasa WO tersebut.
“Pada 13 Mei 2026, pihak Islamic Centre menghubungi Feny untuk meminta pelunasan pembayaran gedung yang belum dibayarkan pihak WO sebesar Rp 17,5 juta. Sementara DP yang telah dibayarkan pihak Marwah baru Rp 6 juta.”
Setelah informasi dari Islamic Centre, Feny langsung memberi tahu Marwah di grup. Mereka menjawab bahwa akan segera membayarkan. Namun, pihak Islamic Centre terus menagih pelunasan setiap hari.
Aldi mengatakan bahwa sehari sebelum acara pernikahan, pembayaran gedung ternyata belum juga dilunasi. Ia bersama Feny kemudian mendatangi kantor WO Marwah di kawasan Cakung.
“Akhirnya kita ke gudangnya di Rorotan. Sampai sana jam setengah 12, hari Jumat. Ada istrinya, Eka. Kita sampai sana minta penjelasannya. Alasan dia berbelit. Intinya ‘nanti dibayar, nanti dibayar’. H-1 itu belum ada pembayaran,” ungkap Aldi.
Pihak keluarga Aldy dan Feny kemudian berupaya mencari makanan secara mendadak untuk para tamu yang datang. “Kemarin itu baru DP (gedung) dari pihak Marwah. Dari Islamic Centre, karena tahu kita korban, dia sediakan fasilitas untuk akad satu sampai dua jam. Alhamdulillah kita tetap jalan,” jelasnya.
Keduanya kemudian melaporkan WO Marwah ke Polres Metro Jakarta Timur atas dugaan penipuan pada Minggu (24/5/2026) malam.


















