Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam satu hingga dua bulan mendatang, dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menilai pelemahan mata uang Garuda sudah terlihat sejak awal 2026, ketika rupiah berada di sekitar Rp 16.690 per dolar AS pada 1 Januari dan turun ke Rp 18.180 per dolar AS pada 8 Juni. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan depresiasi mendekati 8 persen sepanjang tahun ini.
Yusuf mengatakan, tekanan terhadap rupiah bukan hanya datang dari gejolak pasar global, tetapi juga dari turunnya kepercayaan terhadap pasar domestik. Ia menilai pengujian level rupiah saat ini berbeda dengan beberapa kali tekanan sebelumnya karena kali ini persoalan luar negeri bertemu dengan kekhawatiran investor di dalam negeri. Meski begitu, ia belum melihat Rp 20.000 per dolar AS sebagai skenario dasar dalam waktu dekat.
Dalam proyeksinya, rupiah kemungkinan bergerak di rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.100 per dolar AS dalam satu sampai dua bulan ke depan. Namun, jika tekanan meningkat, termasuk bila The Fed menaikkan suku bunga pada Desember dan arus modal keluar tetap berlanjut, pelemahan bisa lebih dalam. Untuk menembus Rp 20.000 per dolar AS, menurut Yusuf, rupiah masih harus melemah sekitar 11 persen lagi dalam waktu singkat, sesuatu yang biasanya memerlukan gangguan serius pada neraca pembayaran atau penurunan tajam terhadap kebijakan fiskal.
Ia menambahkan, cadangan devisa Indonesia yang mencapai USD 146,3 miliar pada akhir September masih memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar. Dari sisi global, Yusuf menyoroti imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang masih berada di atas 5 persen serta inflasi Amerika Serikat yang naik akibat tekanan harga energi. Kombinasi itu, kata dia, membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka dan mendorong aset dolar lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang.
Di dalam negeri, Yusuf menilai perhatian MSCI terhadap tata kelola pasar modal turut menambah premi risiko Indonesia. Dampaknya terlihat dari keluarnya dana asing dari pasar saham yang menurut dia mencapai Rp 84,2 triliun sepanjang 2026. Di saat yang sama, selisih imbal hasil SUN terhadap US Treasury makin tipis sehingga investor asing memperoleh kompensasi yang lebih kecil ketika risiko kurs dan risiko domestik justru meningkat. Selain itu, ketergantungan pada impor energi membuat kebutuhan dolar ikut naik saat harga minyak menguat.
Yusuf menilai kondisi rupiah menjadi lebih rapuh ketika tekanan global, turunnya kepercayaan investor, dan persoalan struktural muncul bersamaan. Ia juga menyebut konversi devisa hasil ekspor belum berjalan optimal, sementara pasar keuangan domestik belum cukup dalam untuk menyerap perubahan arus modal besar. Karena itu, rupiah dinilai lebih rentan dibandingkan mata uang negara tetangga pada periode tekanan seperti sekarang.
Senada, Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong melihat rupiah masih tertekan oleh isu MSCI. Ia menilai sanksi dari OJK dan hearing di BEI bisa membantu memulihkan sentimen, tetapi efeknya tidak akan langsung terasa. Investor, kata dia, akan menunggu bukti penegakan aturan yang konsisten, perbaikan transparansi pasar, serta hasil RDGBI pekan depan. Lukman memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.150 per dolar AS dan menegaskan bahwa peluang menyentuh Rp 20.000 tetap ada di tengah ketidakpastian global, terutama jika harga minyak dunia dan arah suku bunga The Fed bergerak tidak menguntungkan.




