Tragedi WNI di Kamboja: Jerat Penipuan Kerja, Kekerasan, dan Hilangnya Nyawa
Kisah kelam terkuak dari Kamboja, di mana sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan menjadi korban penipuan berkedok tawaran pekerjaan. Kondisi yang mereka alami jauh dari harapan, berubah menjadi mimpi buruk penuh tekanan, kekerasan, bahkan ancaman hilangnya nyawa. Salah satu saksi mata, Andri Budi Sanjaya, seorang warga Jambi yang juga terjebak dalam sindikat ini, menceritakan situasi mengerikan yang dihadapi para pekerja.
Lingkungan Kerja yang Menyeramkan
Perusahaan yang mempekerjakan Andri dan rekan-rekannya digambarkan sebagai sebuah kompleks yang sangat luas dan terkunci rapat.
- Skala Bangunan: Perusahaan ini terdiri dari 20 gedung dengan luas area diperkirakan mencapai 1,2 hektare.
- Keamanan Ketat: Seluruh area dikelilingi pagar setinggi 5 meter, menjadikannya benteng yang sulit ditembus. Penjagaan sangat intensif, melibatkan sekitar 70 hingga 100 petugas keamanan yang dilengkapi alat setrum. Andri membandingkan skala ini dengan deretan ruko bertingkat di Indonesia, namun dengan tingkat keamanan yang jauh lebih mengerikan.
Kondisi ini membuat peluang untuk melarikan diri sangat kecil. “Di sini dijaga. Bayanginlah, di gedung itu 20 gedung, temboknya pagarnya itu 5 meter, yang jaga sampai 100 orang. Pakai setrum semua. Mau lari ke mana coba? Mau mati yang ada,” tutur Andri dengan nada getir. Ia menambahkan, “Enggak ada pekerja perusahaan scam itu yang bisa keluar gedung, enggak ada. Paling (aktivitas) seputaran gedung itulah.”
KBRI sebagai Harapan yang Terbatas
Para WNI yang terjebak di perusahaan tersebut menyadari keberadaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sebagai satu-satunya jalan keluar. Namun, akses untuk mencapai KBRI sangat sulit, dan upaya pelaporan justru berisiko tinggi. Andri mengungkapkan bahwa melapor ke KBRI bisa berakibat fatal jika diketahui oleh pihak perusahaan.
“KBRI memang sarana tepat untuk pelarian, tapi bukan untuk melaporkan. Mati juga kalau ketahuan (melapor dan melarikan diri), dua orang ditembak mati depan aku,” jelasnya dengan raut wajah tegang. Ia menambahkan, “Kalau selamat syukur, kalau gak selamat gimana? Tinggal nama, mayat dibuang selesailah.” Situasi ini menciptakan dilema yang mencekam bagi para korban, di mana harapan untuk kembali ke tanah air harus dipertaruhkan dengan nyawa.
Tragedi Bunuh Diri dan Pembunuhan
Kondisi yang tidak manusiawi dan tekanan kerja yang luar biasa telah mendorong beberapa WNI untuk mengambil jalan pintas yang tragis. Andri menceritakan adanya kabar mengenai seorang WNI asal Palembang bernama Muhammad Erlangga yang diduga mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai 18 Gedung Judol Royal Fortune, Kamboja, pada 17 Februari 2026. Erlangga direkrut oleh agen dari Medan.
Menurut Andri, peristiwa tragis ini bukanlah kejadian yang terisolasi. “Banyak juga dari rekan-rekan disini yang menceritakan seperti itu, orang Indonesia yang bunuh diri, terjun dari lantai atas banyak. Ada juga yang sebagian memang dibunuh oleh pihak perusahaan,” ungkapnya.
Lebih mengerikan lagi, ia mendengar cerita bahwa pekerja wanita yang tidak mampu memenuhi target pekerjaan akan mengalami pelecehan seksual. “Di sini banyak orang Indonesia dilempar dari atas gedung (lantai) 18. Yang ditembak pun banyak, di situ sudah, hilang saja jasadnya, dibuang ke Sungai Mekong,” tuturnya dengan suara bergetar. Sungai Mekong, yang merupakan sungai besar di Asia Tenggara, menjadi saksi bisu dari hilangnya nyawa para pekerja yang malang.
Nasib Warga Jambi yang Belum Pasti
Secara keseluruhan, sembilan warga Jambi dilaporkan menjadi korban penipuan lowongan kerja di Kamboja. Dari jumlah tersebut, delapan orang telah diketahui keberadaannya, namun satu orang, Audy Lyliana Putri, masih belum terlacak hingga kini. Andri Budi Sanjaya sendiri belum mendapatkan informasi pasti mengenai kepulangan para WNI yang berada di penampungan maupun kondisi rekan-rekan senegaranya.
Para korban ditempatkan di berbagai lokasi penampungan, termasuk hotel, penampungan senso, dan penampungan imigrasi Indonesia dan Tiongkok. Lokasi-lokasi ini diketahui oleh pihak KBRI di Kamboja dan dijaga oleh kepolisian setempat. Andri saat ini berada di penampungan Imigrasi Indonesia dan Tiongkok, yang dulunya merupakan terminal kargo bandara.
Ia hanya bertemu dengan satu warga Jambi lainnya di penampungan tersebut, yaitu Syehdi asal Kabupaten Sarolangun. “Kalau di penampungan saya (saat ini), saya pastikan tidak ada orang Jambi selain kami berdua. Andri Budi dan Syehdi. Enggak tahu kalau di luar tempat kami,” jelasnya.
Untuk mempermudah koordinasi dan saling membantu, Andri berencana membentuk grup komunikasi khusus bagi para korban yang berasal dari Jambi. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi informasi mengenai kepulangan, bantuan tiket, atau kebutuhan lainnya.
Daftar nama sembilan WNI asal Jambi yang menjadi korban penipuan pekerjaan di Kamboja adalah sebagai berikut:
- Andri Budi Sanjaya (Kota Jambi)
- Deri Setiawan (Kota Jambi)
- Dison (Kota Jambi)
- Rangga Gustianto (Kabupaten Batang Hari, Muara Bulian)
- Rizky Warnizon (Kota Jambi)
- Vikky Pratama Putra (Kota Jambi)
- Audy Lyliana Putri (Kota Jambi)
- Syehdi (Kabupaten Sarolangun)
- Chilva Shety Priyanka Elwani (Kota Jambi)
Kisah ini menjadi pengingat pahit akan bahaya penipuan berkedok pekerjaan dan pentingnya kehati-hatian dalam mencari peluang kerja di luar negeri.












