Astronaut Dievakuasi Prematur dari ISS, Pulang ke Bumi Lebih Cepat
Empat astronaut yang tergabung dalam misi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) terpaksa menyelesaikan misi mereka lebih awal dan mendarat di Bumi pada Kamis (15/01). Kepulangan prematur ini disebabkan oleh masalah medis yang dialami salah satu anggota kru, yang dianggap cukup serius untuk memerlukan evakuasi.
Kapten misi yang berasal dari NASA, Mike Fincke, menjadi orang pertama yang keluar dari kapsul antariksa. Ia terlihat tersenyum meski gerakannya sedikit terhuyung. Sesuai prosedur standar, Fincke kemudian dibaringkan di atas tandu. Menyusul Fincke, Zena Cardman dari NASA, Kimiya Yui dari Jepang, dan kosmonot Oleg Platonov dari Rusia juga keluar dari kapsul. Mereka sempat melambaikan tangan dan tersenyum ke arah kamera. “Sangat menyenangkan bisa kembali ke rumah!” ujar Cardman. Kejadian ini menandai pertama kalinya astronaut dievakuasi dari ISS karena masalah kesehatan sejak stasiun tersebut mulai beroperasi pada tahun 1998.
Pembatalan di Menit Terakhir dan Situasi Kemanusiaan
Tim yang dikenal sebagai Crew-11 ini dijadwalkan menjalani serangkaian pemeriksaan medis setelah mendarat di lepas pantai California, Amerika Serikat. Dalam konferensi pers yang digelar pasca pendaratan di laut, pimpinan NASA, Jared Isaacman, menyatakan bahwa astronaut yang sakit tersebut “dalam keadaan baik” dan “tetap bersemangat.”
Berdasarkan komunikasi NASA sebelumnya terkait isu kesehatan para astronaut, kemungkinan besar identitas anggota kru yang sakit beserta detail masalah kesehatannya tidak akan diungkapkan kepada publik. Sementara itu, kendali operasional ISS telah resmi dialihkan kepada kosmonot Rusia, Sergey Kud-Sverchkov, dan dua anggota kru lainnya.
Para astronaut Crew-11 ini awalnya tiba di ISS pada 1 Agustus 2025, dengan rencana untuk menyelesaikan masa tinggal standar selama enam setengah bulan. Kepulangan mereka sebenarnya dijadwalkan pada pertengahan Februari mendatang. Namun, pada pekan kedua Januari, perjalanan luar angkasa yang seharusnya dilakukan oleh Fincke dan Cardman terpaksa dibatalkan pada menit-menit terakhir. Beberapa jam setelah pembatalan tersebut, NASA mengumumkan bahwa salah satu anggota kru mengalami sakit. “Perasaan kami campur aduk,” ungkap Fincke saat menyerahkan kunci ISS kepada Kud-Sverchkov pada 12 Januari lalu. Melalui unggahan di media sosial, Fincke juga menekankan bahwa seluruh awak di dalam pesawat ruang angkasa tersebut “stabil, aman, dan terawat dengan baik.”
Mengenal ISS dan Prosedur Darurat
ISS, yang mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer, menyelesaikan 16 putaran mengelilingi planet ini setiap hari dengan kecepatan luar biasa, mencapai sekitar 28.000 kilometer per jam. Stasiun luar angkasa ini merupakan hasil kerja sama lima badan antariksa global dan menjadi pusat penelitian ilmiah vital, mempelajari berbagai fenomena luar angkasa serta efek mikrogravitasi terhadap organisme hidup, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan.
Meskipun ISS dilengkapi dengan berbagai peralatan medis dan para astronaut telah dilatih untuk menangani masalah kesehatan ringan, tidak ada dokter profesional yang tergabung dalam rombongan misi ini.

Evakuasi ini menjadi sebuah uji coba yang signifikan bagi prosedur darurat medis NASA. Berdasarkan laporan yang ada, uji coba ini berhasil diselesaikan dengan baik. Namun, insiden ini tetap memunculkan pertanyaan mengenai kapasitas respons badan antariksa tersebut jika astronaut menghadapi situasi darurat medis yang lebih kompleks.
Dengan kepergian lebih awal Crew-11, ISS kini hanya dihuni oleh awak minimal tiga astronaut: Chris Williams dari NASA, serta kosmonot Rusia, Kud-Sverchkov dan Sergei Mikaev. Empat astronaut tambahan dijadwalkan akan tiba pada bulan Februari mendatang. “Terlepas dari semua perubahan dan kesulitan yang ada, kami akan menyelesaikan pekerjaan kami di ISS, melaksanakan semua tugas ilmiah dan pemeliharaan, apa pun yang terjadi,” tegas Kud-Sverchkov.
Insiden yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Insiden ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah ISS, sebuah stasiun yang telah dihuni secara terus-menerus selama 26 tahun. Misi luar angkasa sebelumnya hanya pernah dipersingkat lebih awal karena masalah kesehatan pada dua kesempatan terpisah.
Pada tahun 1985, kosmonot Soviet Vladimir Vasyutin dan rekan-rekannya terpaksa kembali empat bulan lebih awal dari jadwal dari misi ke stasiun ruang angkasa Salyut 7 akibat masalah urologis. Kemudian, pada tahun 1987, aritmia jantung atau gangguan irama detak jantung memaksa kosmonot Soviet Aleksandr Laveykin untuk meninggalkan stasiun ruang angkasa Mir lebih awal dari yang direncanakan.
Seiring dengan meningkatnya jumlah individu yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, termasuk untuk tujuan pariwisata dan potensi kolonisasi Bulan atau Mars di masa depan, para ahli antariksa menekankan pentingnya kehadiran dokter dalam misi-misi tersebut.












