Tantangan Sahur Anak dan Makna Ramadan bagi Ayu Dewi
Bulan Ramadan selalu menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam, namun bagi sebagian orang, bulan penuh berkah ini juga dibarengi dengan tantangan tersendiri. Salah satu sosok publik yang berbagi pengalaman uniknya adalah aktris dan presenter ternama, Ayu Dewi. Ia mengungkapkan bahwa salah satu perjuangan terbesarnya selama menjalankan ibadah puasa tahun ini adalah membangunkan anak-anaknya untuk sahur.
Rutinitas membangunkan anak untuk sahur ternyata bukanlah perkara mudah bagi Ayu Dewi. Ia mengaku harus mengerahkan tenaga ekstra dan bekerja sama dengan sang suami setiap malam demi memastikan buah hati mereka tidak terlewatkan waktu makan sahur. “Hari-hari itu setiap malam saya alami dengan suami saya (membangunkan anak-anak sahur). Tapi enggak apa-apa itu semoga jadi penghibur buat yang lain,” ujarnya.
Ayu Dewi menyadari bahwa banyak orang mungkin penasaran dengan metode yang ia gunakan untuk membangunkan anak-anaknya. Oleh karena itu, ia tidak ragu untuk berbagi pengalamannya, dengan harapan dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi para orang tua lainnya. Ia percaya bahwa setiap orang tua memiliki cara uniknya sendiri dalam menghadapi tantangan serupa.
“Jadi mungkin ‘oh gini ya kalau Bu Ayu bangunin, gini salah berarti besok bangunin dengan cara yang lain’. Aku juga gitu, hari ini bangunin gini enggak berhasil, berarti besok caranya pakai yang lain,” jelasnya.
Beragam Jurus Membangunkan Anak Sahur
Ayu Dewi mengakui bahwa upaya membangunkan anak-anaknya untuk sahur tidak selalu berhasil dalam sekali percobaan. Setiap hari, ia harus memutar otak dan mencoba berbagai strategi agar anak-anaknya mau bangkit dari tidurnya untuk menyantap hidangan sahur. “Ku pakai sound segala macam enggak kena, berarti besok cara yang lain lagi. Tenang aku akan selalu berusaha,” ungkapnya, menunjukkan kegigihan dan kesabarannya.
Bahkan, setelah berhasil dibangunkan, tantangan belum sepenuhnya usai. Tak jarang anak-anaknya kembali terlelap di berbagai sudut rumah. Tingkah polos mereka yang tertidur di tempat-tempat tak terduga justru menjadi momen lucu sekaligus melelahkan bagi Ayu Dewi. Ia menceritakan dengan senyum geli, “Anak-anak sampai tidur di meja, tidur di bangku, tidur di sofa sebelah, tidur terus masuk kamar lagi.”
Tantangan ini, meskipun melelahkan, tidak mengurangi makna Ramadan bagi Ayu Dewi. Ia tetap memandang bulan puasa sebagai momen yang sangat istimewa. Baginya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal ibadah dan melakukan berbagai kegiatan positif.
Ramadan: Waktu untuk Berbuat Kebaikan
Ayu Dewi menekankan pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan untuk meningkatkan kualitas diri dan berbuat kebaikan. “Kan sebenarnya ini bulan paling baik dari 12 bulan ya, sesuai dengan kepercayaan aku dengan agamaku. Justru di bulan puasa ini berbanyak-banyaklah berkegiatan positif gitu,” tuturnya.
Ia berpendapat bahwa rasa lelah fisik yang mungkin dirasakan selama berpuasa bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Meskipun tubuh membutuhkan istirahat, hal tersebut harus tetap diimbangi dengan aktivitas yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
“Nah, saat badannya minta istirahat baru kita istirahat. Tapi kalau misalnya kayak mager-mageran seharian gitu, enggak baik juga kita mager-mageran mending diisi sama ibadah,” tutupnya, memberikan nasihat berharga tentang bagaimana memanfaatkan setiap detik di bulan suci ini dengan sebaik-baiknya. Pengalaman Ayu Dewi ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap tantangan, selalu ada hikmah dan kesempatan untuk terus belajar dan bertumbuh, terutama dalam menjalani ibadah puasa.













