Tanggul Pasar Lalang Kembali Jebol, Banjir Terjang Permukiman dan Sawah Warga Kota Padang
Padang, Sumatera Barat – Peristiwa mengenaskan kembali melanda kawasan Pasar Lalang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, pada Sabtu (31/1/2026) sore. Tanggul penahan di pinggir sungai tak mampu menahan lonjakan debit air yang terjadi secara mendadak, menyebabkan luapan air merendam permukiman warga dan merusak area persawahan. Kejadian ini merupakan kali kedua dalam kurun waktu kurang dari sebulan di lokasi yang sama, menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi masyarakat setempat.
Kronologi Kejadian: Hujan Singkat Picu Banjir Bandang
Menurut Ketua RW 07 Pasar Lalang, Jamrus, jebolnya tanggul Pasar Lalang dipicu oleh peningkatan debit air sungai yang terjadi dalam waktu sangat singkat. Meskipun hujan yang mengguyur wilayah tersebut tidak berlangsung lama, intensitasnya cukup tinggi sehingga menyebabkan air sungai meluap dengan deras, menyerupai air bah. Arus yang kuat ini membawa serta material seperti pasir dan kerikil, yang kemudian merangsek masuk ke rumah-rumah warga dan lahan pertanian mereka.
“Sebelum ini kita sudah buat tanggul dengan karung, ini ada bekas galiannya, kurang lebih ketinggiannya 4 meter,” ungkap Jamrus, merujuk pada upaya penanggulangan pasca-kejadian sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa tanggul sementara yang dibangun setinggi empat meter dari tumpukan pasir dalam karung, bahkan dipadatkan lagi dengan pasir dan kerikil dari material sungai, ternyata tidak mampu menahan kekuatan air bah yang datang tiba-tiba. “Hujan tidak sampai satu jam, namun debit air yang naik seperti air bah, seketika membesar dan menghantam tanggul penahan sementara,” tambahnya.
Dampak Luas: Rumah Rusak dan Sawah Terancam Gagal Panen
Dampak dari jebolnya tanggul ini sangat signifikan. Sejumlah rumah warga terendam luapan air, bahkan tiga unit di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan berat. Arus air yang membawa material kayu dan batu besar merusak struktur bangunan, menyebabkan tembok retak, menganga, dan tiang-tiang penopang roboh.
Sumitro, salah seorang pemilik kontrakan di lokasi tersebut, menggambarkan situasi yang mencekam. “Sekira jam 14:00 WIB lah kejadiannya, tiba-tiba banjir mendadak, habis semua, karena tanggul jebol. Material masuk ke rumah dengan ketinggian sekitar 60 hingga 70 sentimeter,” tuturnya dengan nada prihatin. Barang-barang berharga miliknya, mulai dari pakaian, buku sekolah anak-anaknya, hingga bahan pokok, semuanya terendam dan bercampur lumpur. Hingga menjelang magrib, ia masih berupaya membersihkan sisa material yang menggenangi rumahnya.
Selain permukiman, area persawahan warga juga menjadi korban. Tanaman padi yang sedang tumbuh tertimbun oleh lapisan pasir dan kerikil yang terbawa arus sungai. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar akan gagal panen dan kerugian ekonomi yang diderita para petani.
Riwayat Bencana: Tanggul Pasar Lalang Rentan Jebol
Kejadian jebolnya tanggul Pasar Lalang bukanlah kali pertama. Jamrus mengonfirmasi bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada Jumat, 2 Januari 2026, dengan penyebab yang sama, yaitu kenaikan debit air sungai yang menjebol tanggul.
Pasca-kejadian sebelumnya, upaya penanggulangan dilakukan dengan mengeruk material sungai menggunakan alat berat dan menumpuknya di pinggiran sungai untuk dijadikan tanggul darurat. Material hasil galian tersebut kemudian digunakan untuk membangun tanggul setinggi sekitar empat meter. Namun, upaya ini terbukti belum cukup kuat untuk menghadapi kondisi alam yang ekstrem.
Menurut catatan Jamrus, kejadian serupa telah terjadi sebanyak tiga kali dalam rentang waktu yang relatif singkat: akhir November 2025, awal Januari 2026, dan kini pada akhir Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur penahan banjir di kawasan tersebut dan perlunya evaluasi serta solusi jangka panjang yang lebih efektif.

Respons Cepat dan Evaluasi Penanganan
Menanggapi situasi darurat ini, berbagai pihak bergerak cepat. Pantauan pada Sabtu (31/1/2026) pukul 17:58 WIB, terlihat sejumlah pejabat dan petugas berada di lokasi untuk memantau kondisi dan melakukan penanganan awal. Sekretaris Daerah Kota Padang, petugas BPBD, Camat, Ketua RW, perangkat kelurahan, serta warga setempat bahu-membahu membersihkan material yang masuk ke rumah-rumah dan mencoba memulihkan kondisi.
Meskipun penanganan darurat terus dilakukan, kejadian ini kembali menyoroti urgensi penanganan banjir yang lebih komprehensif di Kota Padang, khususnya di area yang rentan seperti Pasar Lalang. Perbaikan infrastruktur tanggul yang permanen dan sistem peringatan dini yang lebih efektif menjadi prioritas utama untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang dan melindungi keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.



















