Tanggul Sungai Plumbon Jebol, Ratusan Rumah di Mangkang Kulon Terendam Banjir
Semarang kembali dilanda banjir besar. Kali ini, Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, menjadi saksi bisu kerentanan wilayahnya terhadap bencana air. Peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis malam (15/1/2026) ketika tanggul Sungai Plumbon yang vital bagi wilayah tersebut jebol. Kejadian ini sontak menimbulkan kepanikan luar biasa bagi warga yang harus berjuang menyelamatkan diri dan keluarga dari arus air yang datang tanpa peringatan.
Kronologi Kejadian yang Mengejutkan
Nuronia, salah seorang warga Mangkang Kulon, menceritakan detik-detik menegangkan saat banjir menerjang. Saat itu, ia sedang menggendong bayinya yang baru berusia tiga bulan. Genangan air yang awalnya hanya setinggi lutut di jalan depan rumah, dengan cepat berubah menjadi bencana. Debit air Sungai Plumbon terus meningkat drastis, memberikan tekanan yang tak mampu ditahan oleh tanggul. Akhirnya, tanggul tersebut tak kuasa menahan beban air dan jebol, memuntahkan arus deras yang langsung menghantam kawasan permukiman warga.
“Depan rumah sudah banjir selutut. Lama-lama naik terus. Di dalam rumah mulai rembes, saya panggil suami yang lagi tahlilan buat nambah penahan. Belum selesai, sudah jebol,” ujar Nuronia, menggambarkan kepanikan yang melanda.
Dalam situasi darurat tersebut, prioritas utama Nuronia adalah menyelamatkan sang buah hati. Barang-barang berharga terpaksa ditinggalkan demi keselamatan nyawa. Air masuk ke dalam rumah dengan kecepatan tinggi dan ketinggian yang terus meninggi.
“Saya enggak mikir apa-apa, yang penting anak. Bayi umur tiga bulan langsung saya angkat. Air di rumah paling parah sampai seperut, kalau saya berdiri sudah sampai dada,” tuturnya lirih.
Dampak Luas dan Kerentanan Wilayah
Jebolnya tanggul Sungai Plumbon ini mengakibatkan ratusan rumah warga di Mangkang Kulon terendam banjir. Ketinggian air bervariasi, mulai dari selutut orang dewasa hingga mencapai dada. Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan Mangkang Kulon terhadap banjir, terutama di musim hujan. Catatan panjang bencana serupa yang berulang hampir setiap tahun semakin mengkhawatirkan warga.
Warga menilai akar permasalahan utama terletak pada kondisi tanggul sungai yang belum diperkuat secara permanen. Rencana perbaikan, termasuk peninggian tanggul dan pembebasan lahan, telah lama disampaikan kepada warga, namun hingga kini belum menunjukkan perkembangan yang berarti.
“Katanya mau dibangun dan ditinggikan, ada pembebasan lahan juga. Tapi sampai sekarang belum kelihatan,” keluh Nuronia, menyuarakan harapan agar pemerintah segera merealisasikan perbaikan tanggul Sungai Plumbon untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
Keluhan Sistem Peringatan Dini yang Mati Suri
Selain persoalan tanggul, warga juga menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap tidak berfungsinya sistem peringatan dini banjir atau Early Warning System (EWS). Sistem vital ini telah mengalami kerusakan selama dua tahun terakhir, menyebabkan warga tidak mendapatkan peringatan awal ketika debit air sungai meningkat.
“EWS sudah dua tahun rusak, konslet, belum diperbaiki. Padahal kalau ada peringatan, kita bisa siap-siap, barang-barang bisa dinaikkan,” ujar Nuronia, menekankan betapa pentingnya EWS dalam mitigasi bencana.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Ketua RT 1 RW 3 Mangkang Kulon, Abdul Rohim. Ia menjelaskan bahwa tanggul yang jebol di wilayahnya memiliki panjang sekitar tujuh meter dan bahkan merobohkan tembok rumah warga di sampingnya sepanjang lima meter.
“Yang jebol panjangnya sekitar tujuh meter. Sementara ini sudah dipasang sandbag supaya air tidak langsung masuk lagi kalau hujan,” jelas Abdul Rohim.
Di wilayah RT tersebut, sekitar 43 rumah yang berada di titik terendah terdampak langsung oleh banjir saat tanggul jebol.
“Di RT saya saja ada 43 rumah yang rendah dan kena langsung dampak banjir. Air datang langsung ambrol,” tuturnya prihatin.
Upaya Penanganan dan Harapan Masa Depan
Meskipun dalam kondisi darurat, upaya penanganan mulai dilakukan. Abdul Rohim menyebutkan bahwa saat ini sudah mulai dilakukan penggalian untuk pondasi talud sebagai bagian dari penanganan jangka panjang. Namun, kejelasan mengenai bantuan dan ganti rugi bagi warga yang terdampak banjir masih belum pasti.
“Soal bantuan belum jelas. Katanya mau dicarikan material, tapi kepastiannya belum tahu,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan rencana pelebaran Sungai Plumbon, yang membutuhkan pembebasan lahan di bantaran sungai.
“Kalau mau aman ya harus pelebaran sungai. Informasinya pembebasan lahan baru sekitar 30 persen. Kalau itu selesai, banjir dan jebol tanggul bisa diminimalisir,” ujarnya, memberikan solusi konkret untuk mengatasi masalah banjir di wilayahnya.
Wilayah Mangkang di Kecamatan Tugu memang dikenal sebagai langganan banjir dan jebol tanggul setiap musim hujan. Dengan potensi curah hujan yang masih tinggi, warga diminta untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Penanganan jangka panjang yang komprehensif dari pemerintah sangat diharapkan untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat Mangkang Kulon.



















