Konsumsi BBM Subsidi di Aceh Naik Delapan Persen Akibat Bencana Alam, Ketersediaan Tetap Terjamin
LHOKSEUMAWE – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Provinsi Aceh sebesar delapan persen. Kenaikan ini terjadi selama periode penanganan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025. Menghadapi situasi darurat ini, pemerintah menerapkan kebijakan khusus untuk penyaluran BBM bersubsidi, yaitu dengan meniadakan kewajiban penggunaan QR Code bagi konsumen.
Wahyudi Anas, Kepala BPH Migas, mengungkapkan bahwa total kebutuhan BBM di Aceh, termasuk untuk keperluan penanganan bencana alam, mencapai 428.324 kiloliter untuk Biosolar dan 576.147 kiloliter untuk Pertalite sepanjang tahun 2025. “Ini sudah didistribusikan secara baik walaupun memang ada catatan selama bencana alam, mulai bulan akhir November sampai dengan Desember itu naik 8 persen, tapi khusus pas bencana alam,” jelasnya saat melakukan peninjauan di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Lhokseumawe.
Peningkatan konsumsi BBM ini dinilai sangat wajar mengingat kebutuhan mendesak selama masa tanggap darurat bencana. Wahyudi merinci bahwa lonjakan tersebut tidak terlepas dari operasional alat berat yang digunakan dalam proses evakuasi dan pembersihan, kendaraan dinas petugas, serta berbagai aktivitas pendukung di posko-posko kebencanaan.
Untuk memastikan ketersediaan energi di Aceh tetap stabil dan masyarakat tidak mengalami kesulitan, BPH Migas memutuskan untuk memperpanjang kebijakan pembelian BBM bersubsidi tanpa QR Code. Kebijakan ini akan berlaku hingga 22 Januari 2026. Wahyudi berharap kebijakan ini dapat memberikan dukungan yang signifikan terhadap percepatan pemulihan pascabencana, terutama di daerah-daerah yang akses infrastrukturnya masih terputus akibat bencana. “Kebijakan ini agar masyarakat tidak terjadi kepanikan untuk mendapatkan akses pembelian BBM,” tegasnya, menggarisbawahi tujuan utama dari perpanjangan dispensasi tersebut.
Stok BBM di Aceh Dipastikan Aman dan Mencukupi
Di sisi lain, Sunardi, Eksekutif General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), memberikan jaminan bahwa kondisi stok BBM di seluruh wilayah Aceh saat ini dalam keadaan aman dan terkendali.
Provinsi Aceh memiliki lima terminal BBM yang tersebar di beberapa titik strategis untuk memastikan distribusi yang merata. Kelima terminal tersebut berlokasi di Lhokseumawe, Krueng Raya (Banda Aceh), Meulaboh, Sabang, dan Simeulue. “Secara umum, kondisi stok di lima depot tersebut aman hingga minimal lima hari ke depan. Selain itu, suplai kapal reguler masuk setiap tiga hari,” ujar Sunardi.
Berikut adalah rincian ketahanan stok BBM di masing-masing terminal:
Terminal BBM Lhokseumawe:
- Biosolar: sekitar 5 hari
- Pertalite: sekitar 5,6 hari
Terminal BBM Krueng Raya (Banda Aceh):
- Biosolar: mencapai 5,75 hari
- Pertalite: hingga 10 hari
Terminal BBM Meulaboh:
- Biosolar: mencapai 8,3 hari
- Pertalite: hingga 8,57 hari
Terminal BBM Sabang:
- Biosolar: mencapai 19,54 hari
- Pertalite: mencapai sekitar 49 hari
Terminal BBM Simeulue:
- Biosolar: diperkirakan mencukupi kebutuhan selama 6,57 hari
- Pertalite: memiliki ketahanan sekitar 17,55 hari
Sunardi menegaskan komitmen Pertamina Patra Niaga yang bekerja sama erat dengan BPH Migas dalam memantau setiap aspek distribusi BBM di wilayah yang terdampak bencana. Pemantauan intensif ini dilakukan untuk memastikan pasokan BBM tetap terjaga dan tersalurkan dengan baik kepada masyarakat. “Jadi insyaallah stok BBM aman,” pungkasnya, memberikan kepastian kepada seluruh masyarakat Aceh mengenai ketersediaan energi.



















