Tradisi Pembersihan Rupang Buddha Sambut Imlek: Makna Spiritual dan Penyucian Diri
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Vihara Viriya Bala di Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, menggelar tradisi sakral yang sarat makna. Pada Minggu, 15 Februari 2026, anak-anak hingga remaja dari Sekolah Minggu Vihara Viriya Bala secara antusias berpartisipasi dalam ritual pembersihan rupang atau patung Buddha. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari persiapan menyambut Imlek 2577 Kongzili, yang selalu dinanti-nantikan oleh umat.
Dengan menggunakan sikat gigi dan air bunga yang telah disiapkan, para peserta cilik menunjukkan semangat dan sukacita yang luar biasa saat membersihkan patung-patung Buddha berukuran kecil. Raut wajah mereka tampak ceria, mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh para pengurus vihara. Prosesi ini bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan sebuah ritual yang mendalam, di mana setiap gerakan membasuh rupang dengan air kembang memiliki makna tersendiri.
Tradisi pembersihan rupang ini memiliki kaitan erat dengan momen yang dikenal sebagai Toapekong. Dalam kepercayaan Tionghoa, Toapekong merupakan dewa yang naik ke alam surgawi menjelang Imlek untuk melaporkan segala aktivitas manusia selama setahun terakhir. Liana, seorang pengurus Yayasan Vihara Viriya Bala yang bertanggung jawab atas bidang Pendidikan dan Sosial Budaya, menjelaskan esensi di balik tradisi ini.
“Beberapa saat sebelum Imlek itu ada namanya Toapekong dapur naik,” ujar Liana pada Minggu, 15 Februari 2026. “Sehingga tradisi membersihkan Rupang Buddha menjelang Imlek ini sebagai bentuk penghormatan, dan agar saat Toapekong turun kembali ke bumi rupang dalam keadaan bersih.”
Tindakan membersihkan rupang Buddha sebelum Imlek bukan hanya sekadar ritual penghormatan terhadap Sang Buddha, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai penyucian jiwa dan pembersihan diri dari segala hal negatif. Tujuannya adalah agar umat dapat menyambut tahun baru dengan hati yang suci, pikiran yang jernih, dan energi positif.
“Buat diri kita seolah-olah, oh kita bersihin diri lah sebelum Imlek. Kita buka diri kita supaya kita bisa menerima keadaan kita lebih baik lagi dan hoki lebih terbuka, seperti itu,” ungkap Liana, menekankan aspek personal dari tradisi ini. Dengan membersihkan rupang, umat diajak untuk merefleksikan diri, melepaskan beban masa lalu, dan membuka diri untuk keberuntungan serta kebaikan di tahun yang akan datang.
Lebih dari Sekadar Membersihkan Patung: Upaya Menyeluruh Menyongsong Imlek
Kegiatan pembersihan di Vihara Viriya Bala tidak hanya terbatas pada rupang Buddha. Anak-anak dan remaja Sekolah Minggu juga turut membersihkan altar persembahyangan. Upaya ini dilakukan agar suasana di vihara menjadi lebih khusyuk dan kondusif untuk beribadah, menciptakan lingkungan yang tenang dan penuh kedamaian bagi para jemaat.
Proses pembersihan rupang Buddha sendiri telah dilakukan oleh pengurus Vihara Viriya Bala secara bertahap. Dimulai dari rupang berukuran besar yang dibersihkan oleh para pengurus, kemudian dilanjutkan dengan rupang berukuran kecil yang menjadi tugas para generasi muda. Pendekatan bertahap ini memastikan bahwa seluruh rupang mendapatkan perhatian yang sama dan dibersihkan dengan teliti.
Menjelang perayaan Imlek, Vihara Viriya Bala juga menggiatkan kegiatan bersih-bersih di seluruh area vihara. Tidak hanya itu, beberapa bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan juga dilakukan pengecatan agar vihara tampak lebih indah dan elok dipandang. Hal ini mencerminkan filosofi bahwa menjaga kebersihan dan kerapian tempat ibadah sama pentingnya dengan menjaga kebersihan hati.
Liana menambahkan, “Jika ada sesuatu yang ganjel misal rumah kita bocor (pasti) kita bersihin, kita rapihin, kita perbaiki, biar rezekinya lancar. Artinya enggak boros, gitu. Mudah-mudahan seperti itu.” Pernyataan ini menggarisbawahi keyakinan bahwa menjaga lingkungan yang baik, termasuk tempat tinggal dan tempat beribadah, akan membawa kelancaran rezeki dan menghindari pemborosan. Dengan demikian, tradisi menyambut Imlek di Vihara Viriya Bala menjadi sebuah rangkaian kegiatan yang holistik, mencakup aspek spiritual, personal, dan pemeliharaan lingkungan.



















