Bukan Asam: Pemicu Sakit Lambung Kopi Terungkap

Diposting pada

Membongkar Mitos Kopi dan Sakit Lambung: Bukan Asam Arabika, Tapi Kafein yang Jadi Biang Kerok

Jakarta – Seringkali kita mendengar keluhan, “Aduh, habis minum kopi lambungku langsung perih!” Tak sedikit pula yang langsung menuding biji kopi arabika sebagai penyebab utama masalah perut ini. Namun, benarkah demikian? Sebuah pandangan baru muncul dari dunia perkopian yang menantang stigma lama ini. Head Roaster di Koro Roaster, Imamal Hakim, mengungkapkan adanya kesalahpahaman umum mengenai hubungan antara konsumsi kopi dan gangguan lambung. Banyak orang percaya bahwa rasa asam pada kopi arabika adalah pemicu utama sakit lambung. Padahal, menurut Imam, biang kerok sesungguhnya bukanlah dari kandungan asam pada kopi arabika itu sendiri.

“Ada stigma yang salah, jadi banyak orang tidak mau minum arabika karena bikin memicu asam lambung. Tapi menurut data, ada penelitiannya juga, yang memicu asam lambung itu justru kafein,” jelas Imam saat ditemui di acara Jakarta Coffee Week 2025, yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition BSD, pada Minggu (2/11/2025).

Lalu, apa sebenarnya yang paling bertanggung jawab membuat perut terasa perih akibat sakit lambung setelah menikmati secangkir kopi? Jawabannya mungkin akan mengejutkan banyak penikmat kopi.

Pemicu Sebenarnya Sakit Lambung Saat Minum Kopi: Kafein, Bukan Asam

Imam lebih lanjut menjelaskan bahwa kadar kafein yang tinggi justru terkandung pada biji kopi robusta, bukan pada arabika. Pernyataan ini bertolak belakang dengan anggapan umum yang mengaitkan rasa asam arabika dengan masalah lambung.

“Kafein itu lebih tinggi di robusta daripada arabika. Itu yang mungkin banyak salah, mengira asam itu dari arabika karena kopi arabika rasanya asam,” terangnya.

Penjelasan ini diperkuat oleh data yang tercatat dalam buku “Master Roasting Coffee” (2019) karya William Edison, yang diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta. Menurut buku tersebut, kadar kafein yang terkandung dalam biji kopi arabika berkisar antara 0,8 hingga 1,4 persen.

Sementara itu, kadar kafein pada kopi robusta bisa jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 1,7 hingga 4 persen.

Akibat dari stigma yang salah ini, Imam mengamati bahwa sebagian besar orang justru cenderung memilih kopi robusta dibandingkan arabika, demi menghindari potensi gangguan lambung. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, pemicu utama sakit lambung justru terdapat pada kafein, yang kadarnya lebih tinggi dalam kopi robusta.

Mengenal Lebih Dekat Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta

Selain perbedaan krusial dalam kandungan kafein, kopi arabika dan robusta memiliki karakteristik unik lainnya yang membedakan keduanya, mulai dari rasa, aroma, hingga harga.

Perbedaan Rasa dan Aroma

Kopi arabika dikenal memiliki cita rasa yang lebih kaya, kompleks, dan beragam. Spektrum rasanya sangat luas, meliputi nuansa manis, lembut, tajam, kuat, hingga sedikit kecut. Tak hanya itu, aroma kopi arabika seringkali digambarkan semerbak, menyerupai wangi buah-buahan manis.

Sebaliknya, kopi robusta cenderung memiliki cita rasa yang lebih sederhana, seringkali digambarkan mirip dengan rasa bulir jagung. Profil rasanya lebih lugas dan kurang berdimensi dibandingkan arabika.

Perbedaan Harga dan Faktor Produksi

Dari segi harga, kopi arabika umumnya dibanderol lebih mahal dibandingkan robusta. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kemudahan dalam perawatan dan ketahanan tanaman.

  • Perawatan dan Ketahanan: Tanaman kopi robusta cenderung lebih mudah dirawat, tidak memerlukan banyak perhatian khusus, dan lebih tahan terhadap hama serta penyakit dibandingkan arabika.
  • Masa Panen dan Hasil: Selain itu, kopi robusta juga memiliki siklus panen yang lebih cepat dan menghasilkan buah kopi dalam jumlah yang lebih banyak per pohonnya.
  • Biaya Produksi: Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan untuk menanam kopi robusta lebih hemat dan risikonya lebih minim jika dibandingkan dengan budidaya kopi arabika. Faktor-faktor inilah yang secara kolektif berkontribusi pada tingginya harga kopi arabika di pasaran.

Memahami perbedaan mendasar ini penting bagi konsumen agar dapat membuat pilihan yang lebih tepat sesuai preferensi rasa dan kesadaran akan potensi dampak kesehatan. Stigma negatif yang selama ini melekat pada kopi arabika terkait masalah lambung perlu dikaji ulang, karena akar permasalahannya mungkin terletak pada faktor lain, yaitu kandungan kafein yang lebih tinggi pada jenis kopi yang lain.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan