JAKARTA — Arus dana asing di pasar saham Indonesia masih berada di bawah tekanan. Pada penutupan perdagangan Selasa, 29 September 2026, investor asing mencatat net sell Rp536,7 miliar di pasar reguler, sementara IHSG turun 0,43% dan berakhir di level 6.121. Dalam skala yang lebih besar, keluarnya dana asing sepanjang sebulan terakhir mencapai Rp6,66 triliun, sedangkan sejak awal tahun total outflow sudah menembus Rp105,09 triliun di pasar reguler.
Para analis menilai keluarnya modal asing itu belum selesai. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, melihat rangkaian kebijakan baru Bursa Efek Indonesia ikut memicu aksi jual dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, sebagian investor memilih mengurangi posisi setelah ada saham yang sebelumnya tidak bisa diperdagangkan menjadi bisa diperdagangkan kembali. Tekanan paling terasa terjadi pada saham-saham berharga Rp50, yang disebutnya sedang berada dalam fase penyesuaian terhadap aturan baru.
Di sisi lain, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menilai kebijakan short selling memang bisa menambah volatilitas dan memicu aksi lindung nilai jangka pendek. Meski begitu, ia melihat kebijakan tersebut tetap punya sisi positif karena dapat mendukung likuiditas pasar dalam jangka panjang. Ia juga menilai penurunan harga minimum saham ke Rp1 tidak terlalu besar pengaruhnya bagi investor asing karena fokus mereka tetap tertuju pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki tata kelola dan aspek ESG yang baik.
Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memandang tekanan jual asing saat ini tidak hanya berasal dari faktor domestik. Ia menyebut kombinasi sentimen global seperti tingginya imbal hasil US Treasury, penguatan dolar Amerika Serikat, risiko geopolitik, dan harga minyak menjadi penekan utama. Dari dalam negeri, volatilitas rupiah serta ketidakpastian kebijakan pasar modal ikut menambah kehati-hatian investor. Ia menegaskan bahwa kebijakan seperti short selling maupun penurunan batas harga saham tidak otomatis memicu outflow, karena investor asing lebih memperhatikan likuiditas, transparansi, free float, dan kualitas investability.
Ke depan, arah foreign flow diperkirakan masih sangat dipengaruhi pergerakan rupiah, arah suku bunga AS dan Indonesia, harga komoditas, pertumbuhan laba emiten, stabilitas kebijakan domestik, serta hasil evaluasi MSCI. Harry menilai perhatian pasar kini tertuju pada MSCI November Review, karena lembaga itu masih menilai perbaikan transparansi pasar Indonesia. Bila tekanan berlanjut, saham-saham dengan porsi kepemilikan asing besar dan bobot indeks tinggi, seperti emiten perbankan, consumer, dan telekomunikasi, berisiko menjadi sasaran jual. Saham komoditas berkapitalisasi besar juga dinilai sensitif karena kerap menjadi sumber likuiditas saat investor asing mengurangi posisi.
Meski begitu, peluang dana asing kembali masuk tetap terbuka setelah proses rebalancing MSCI selesai. Dalam skenario inflow, investor asing diperkirakan kembali melirik saham-saham besar yang likuid, fundamentalnya kuat, free float memadai, dan memiliki visibilitas laba yang baik. Sektor yang berpotensi diburu mencakup perbankan, consumer, telekomunikasi, energi, dan komoditas. David menambahkan, investor perlu mencermati rupiah dan imbal hasil SBN sebagai sinyal awal kembalinya dana asing, sementara Nico menilai saham seperti INDF, ICBP, AMRT, JPFA, EXCL, dan ANTM masih menarik untuk dicermati di tengah pasar yang volatil.
Sumber: investasi.kontan.co.id




