Dana Rp500 Juta Mikayla: Siap Hadapi Operasi Kedua

Diposting pada

Perjuangan Mikayla: Dari Kelainan Jantung Hingga Kehidupan Baru Berkat Alat Pacu Jantung

Senyum Mikayla, seorang gadis cilik berusia delapan tahun asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selalu menjadi sumber kekuatan bagi ibunya, Rati. Kegembiraan itu kini semakin terasa, pasalnya Mikayla, yang didiagnosis mengidap kelainan jantung sejak usia empat bulan, kini dapat menikmati masa kecilnya dengan beraktivitas layaknya anak-anak seusianya.

“Dulu kondisi anak kami sangat lemah. Aktivitasnya sangat terbatas, bergerak sedikit saja sudah terlihat capek dan tidak kuat untuk jalan paling kuat 50 meter saja,” kenang Rati, menceritakan kondisi Mikayla sebelum menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker (PPM). Alat ini kini menjadi penopang utama kehidupannya.

Sebelumnya, kehidupan Mikayla sangat dibatasi oleh kondisi kesehatannya. “Dulu aktivitasnya paling banyak di rumah. Jarang sekali keluar. Jalan-jalan ke mana pun hampir enggak pernah, bahkan sekadar ke pantai juga enggak,” ungkap Rati.

Perubahan dramatis mulai terlihat setelah Mikayla menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung pada usianya yang keenam. Dengan adanya alat tersebut, Mikayla kini mampu beraktivitas lebih baik, bahkan bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Meskipun demikian, kesehatan Mikayla tetap memerlukan pemantauan medis yang ketat. “Tetap harus kontrol dan dipantau terus. Dokter bilang kondisi jantungnya tidak boleh lepas dari pengawasan,” tegas Rati.

Perjalanan Panjang Mengatasi Kelainan Jantung Bawaan

Mikayla harus melalui serangkaian operasi kompleks akibat kelainan jantung bawaan yang dideritanya sejak bayi. Kondisi Mikayla pertama kali terdeteksi saat ia berusia empat bulan, ditandai dengan muntah berulang hingga tubuh dan bibirnya membiru. Pemeriksaan lebih lanjut di RS Bakti Timah Pangkalpinang mengungkap bahwa Mikayla menderita Tetralogy of Fallot (TOF), sebuah kelainan jantung bawaan yang menyebabkan kebocoran pada jantung disertai penyempitan pembuluh darah ke paru-paru.

Karena keterbatasan fasilitas penanganan jantung anak di Bangka Belitung, Mikayla terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di Jakarta. Dokter menyatakan bahwa operasi jantung terbuka menjadi satu-satunya pilihan pengobatan. Namun, Mikayla harus menghadapi kenyataan pahit berupa antrean panjang untuk pasien jantung anak. Selama masa penantian, kondisi Mikayla semakin tidak stabil. Pada usia sekitar lima tahun, ia pernah mengalami pingsan selama hampir dua jam.

Pemeriksaan CT scan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang kemudian mengungkapkan adanya abses otak, yang diduga berkaitan dengan kekurangan oksigen akibat kelainan jantungnya. Mikayla pun menjalani operasi pengangkatan abses tersebut dan memerlukan waktu pemulihan hampir dua bulan.

Pada awal tahun 2023, Mikayla akhirnya menjalani operasi jantung terbuka yang berlangsung selama sembilan jam di Jakarta. Pascaoperasi, ia mengalami gangguan irama jantung (aritmia), yang membuat dokter memutuskan untuk memasang alat pacu jantung permanen tipe single chamber.

Seluruh rangkaian perawatan medis yang dijalani Mikayla, mulai dari operasi jantung, operasi otak, hingga pemasangan PPM, yang total biayanya mencapai puluhan juta rupiah, sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. “Kalau tanpa BPJS, kami tidak sanggup. Semua biaya ditanggung,” ujar Hendi, ayah Mikayla, menghela napas lega.

Rutinitas Pengobatan dan Harapan Masa Depan

Rati juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan atas bantuan pembiayaan pengobatan Mikayla. Ia mengakui bahwa tanpa dukungan BPJS Kesehatan, keluarganya akan sangat kesulitan menanggung biaya pengobatan yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. “Kalau enggak ada BPJS, kami enggak tahu harus bagaimana. Biayanya sangat besar, ratusan juta. Kami sangat terbantu,” tuturnya.

Meskipun demikian, baik Hendi maupun Rati senantiasa berjaga-jaga untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang masih bisa menimpa Mikayla. Rati menjelaskan bahwa dokter telah menginformasikan adanya kemungkinan tindakan lanjutan di masa depan, terutama jika kondisi jantung Mikayla tidak memungkinkan, maka ia harus menjalani pemasangan PPM jenis double chamber. Jika tidak dilakukan, terdapat risiko munculnya kembali abses otak, seperti yang pernah dialaminya saat berusia lima tahun.

“Kata dokter, kalau kondisi jantungnya tidak memungkinkan, harus dipasang PPM double. Kalau tidak, abses bisa muncul lagi,” ujar Rati, dengan nada prihatin. Ia menegaskan bahwa keluarga akan senantiasa mengikuti seluruh saran medis demi keselamatan dan kesehatan buah hati mereka. “Apapun saran dokter, Insya Allah kami ikut. Yang penting anak kami sehat,” katanya penuh keyakinan.

Selain bergantung pada alat pacu jantung, Mikayla juga harus mengonsumsi obat secara rutin setiap malam sebelum tidur untuk menjaga kestabilan kondisi jantungnya. Rutinitas ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Mikayla dan harus dijalani seumur hidup. “Obat itu diminum setiap malam sebelum tidur. Harus rutin dan dijalani terus,” jelas Rati. Ia menambahkan bahwa Mikayla sudah terbiasa dengan rutinitas ini dan menjalankannya tanpa paksaan. “Dia sudah terbiasa minum obat. Habis makan, sebelum tidur langsung minum,” imbuhnya.

Persiapan Finansial untuk Penanganan Lanjutan

Hendi memperkirakan bahwa tanpa dukungan BPJS Kesehatan, biaya pengobatan Mikayla bisa mencapai Rp400 hingga Rp500 juta. Perkiraan ini mendorongnya untuk mulai menabung sebagai persiapan jika Mikayla memerlukan penanganan medis lebih lanjut, sesuai dengan prediksi yang disampaikan Rati.

“Kalau yang single alhamdulillah ditanggung BPJS. Tapi kalau yang double, katanya tidak ditanggung,” ungkap Hendi, dengan sedikit keraguan. Ia menambahkan bahwa keluarga belum sepenuhnya memahami alasan di balik kebijakan tersebut, apakah karena tingginya biaya atau alasan lain, atau mungkin ada kebijakan khusus yang berlaku saat Mikayla beranjak dewasa.

Saat ini, keluarga belum mengetahui secara pasti berapa lama masa pakai alat pacu jantung yang terpasang dan apakah nantinya akan memerlukan penggantian atau tindakan lanjutan lainnya. “Kami juga belum tahu baterai ini bertahan berapa lama, apakah selamanya atau nanti diganti,” ujarnya.

Menghadapi ketidakpastian ini, Hendi menegaskan bahwa keluarga mulai mempersiapkan diri secara finansial untuk kemungkinan tindakan medis lanjutan di masa depan. “Kami mulai menabung. Karena sudah tahu kisaran harganya, kalau ke depan memang disarankan dokter pasang yang double, kami harus siap,” katanya. Ia berkomitmen untuk terus berupaya semaksimal mungkin demi keberlanjutan pengobatan anaknya sesuai rekomendasi medis.

Hendi juga tidak menampik keterbatasan kondisi ekonomi keluarga. Ia bekerja sebagai pegawai swasta sekaligus mengelola kebun sebagai petani. Dengan penghasilan yang ada, ia mengakui bahwa tidak akan mampu menanggung biaya medis bernilai ratusan juta rupiah secara langsung. “Kalau untuk biaya sebesar itu, kami jelas tidak mampu. Saya pegawai swasta, sekaligus bertani. Tapi mau tidak mau harus tetap berusaha,” ujar Hendi.

Ia menegaskan bahwa segala upaya harus dilakukan demi keselamatan anaknya. Hendi menambahkan bahwa keluarga tidak memiliki pilihan lain selain berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan pengobatan yang diperlukan. “Mau bagaimana lagi, kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalau tidak begitu, nyawa anak kami bisa terancam,” tuturnya dengan penuh tekad.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan