Dilema Batin Denada Terungkap: Penyesalan Mendalam di Balik Status Anak Kandung
Penyanyi Denada akhirnya memberanikan diri untuk membuka tabir kerumitan hatinya yang selama ini terpendam terkait status anak kandungnya, Ressa Rizky Rossano. Keputusan untuk merahasiakan kebenaran ini bukan tanpa alasan, melainkan karena Denada terjebak dalam dilema batin yang mendalam. Ia merasa bersalah karena telah menitipkan Ressa kepada keluarga pamannya di Banyuwangi, sebuah keputusan yang dipengaruhi oleh saran sang ibu, Emilia Contessa.
Denada mengaku sempat merasa bimbang untuk mengungkap kejujuran kepada Ressa. Hal ini dikarenakan ia melihat Ressa tumbuh bahagia dalam dekapan hangat keluarga Om Dino. “Ada satu masa tuh yang aku pengin ngomong, takut,” kata Denada. “Takut karena aku melihat kayak udah picture perfect gitu. Sempurna. Dia ada di sebuah keluarga, ada Om Dino sosok bapaknya, tante Ratih, sosok ibunya yang sangat menyayangi dia. Ada kakak-kakaknya, udah picture perfect.”
Meskipun enggan merusak kebahagiaan yang telah terbangun, di sisi lain, Denada mulai dihantui rasa penyesalan atas keputusannya di masa lalu. Ia membayangkan jika suatu hari nanti Ressa sudah cukup besar dan ia memutuskan untuk memberitahunya. “Aku ingat, aku pernah nanya kalau misalnya suatu hari nanti dia udah cukup besar, terus kita kasih tahu dia,” kata Denada. “Aku tarik (tinggal) sama aku, kira-kira itu masih bisa enggak?”
Denada secara jujur mengakui bahwa sejak awal ia memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya, tidak pernah terlintas sedikit pun rencana untuk menitipkan Ressa kepada siapa pun. “Plan aku adalah melahirkan dia, membesarkan dia, berdua sama dia,” ungkapnya.
Saran Sang Ibu dan Pergolakan Batin Denada
Setelah melahirkan Ressa, Denada merasakan pergolakan batin yang hebat. Ia merasa tidak tega jika harus menyampaikan kejujuran kepada Ressa, karena menyadari bahwa bukan hanya hati Ressa yang akan terluka, tetapi juga perasaan ibunya, Emilia Contessa. Hal ini dikarenakan Emilia Contessa lah yang memberikan saran kepada Denada untuk menitipkan Ressa agar bisa memiliki keluarga yang utuh.
“Aku merasa bersalah menyampaikan itu sama dia,” kata Denada. “Karena kan aku tahu bahwa dia hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik yang dia bisa sebagai seorang ibu, sebagai seorang nenek. Aku enggak pengin membuat mama merasa guilty.”
Denada mengakui, jika saja ia bisa memutar waktu, ia akan tetap pada rencana awalnya, yaitu merawat Ressa dengan tangannya sendiri, apa pun risiko yang harus dihadapi. “Selamanya aku akan hidup dengan rasa bersalah itu,” ucap Denada.
Curahan Hati Denada Saat Melahirkan Ressa dalam Kesendirian
Setelah sekian lama memilih bungkam dan hanya diwakili oleh kuasa hukum, Denada akhirnya muncul ke publik untuk meluruskan cerita di balik dugaan penelantaran tersebut. Sambil berurai air mata, Denada mengungkapkan masa lalunya yang kelam.
Denada mengaku hamil di luar nikah saat usianya masih menginjak 20-an tahun. Ia menjelaskan bahwa Ressa lahir dalam kondisi prematur di usia kandungan yang belum seharusnya. “Pada saat melahirkan normal. Aku melahirkan normal dan sebelum waktunya, tapi Alhamdulillah sehat. Aku enggak tahu termasuk prematur apa enggak ya. Dan tidak begitu ingat seberapa sebelumnya, pokoknya sebelum waktunya,” kenang Denada.
Selepas persalinan, Denada sempat menjalani masa observasi selama beberapa hari di rumah sakit. Momen tersebut sengaja dirahasiakan dan tidak dipublikasikan kepada khalayak umum. “Aku ingat setelah itu aku masih harus kayak stay beberapa saat untuk diobservasi gitu ya. Dan aku inget banget, karena memang kan hal itu pada saat itu kita rahasiakan sekali ya, aku sama mama,” imbuhnya.
Ia pun tidak menampik bahwa keputusannya untuk merahasiakan momen kelahiran tersebut didasari oleh alasan karier yang saat itu sedang ia bangun. “Pada saat itu juga semua orang sudah tahu siapa aku juga, waktu itu udah berkarier gitu. Jadi nggak bisa mama sering datang lihat aku. Jadi banyak momen-momen di mana aku saat itu tuh bener-bener sendirian gitu ya, habis melahirkan aku sendirian,” tandas pelantun lagu “Pitik Gemoy” itu.
Di tengah badai persoalan yang menerjang, Denada mengaku merasa terpuruk sendirian hingga membuat gejolak emosinya kian tak terbendung. “Habis melahirkan itu aku sendirian gitu, perasaanku gitu, Emosiku berkecamuk sekali, perasaanku berkecamuk sekali. Sedih, pada saat itu. Ada sedih, bingung, tapi juga bahagia gitu karena Alhamdulillah selamat, sehat,” ungkapnya. “Aku juga ada sedikit rasa bangga gitu karena aku ternyata bisa melakukan ini gitu loh,” sambung Denada lagi.
Air mata Denada kembali mengalir menguraikan penyesalannya. Dirinya merasa tidak memberikan kondisi ideal pada sang putra. “Aku sedih, karena mungkin enggak semestinya situasi itu yang aku berikan kepada anak aku. Gitu. Mestinya kan situasi yang aku berikan itu seharusnya ideal, ada bapaknya, ada ibunya. Dan pada saat itu aku melihat betapa kita harus rahasiakan itu, harus keep gitu. Sehingga itu yang bikin aku sedih,” sesalnya.
Denada kembali menyinggung trauma yang kala itu ia rasakan. “Saat itu mungkin aku enggak bisa terlalu cerita, terlalu jelas atau terlalu lengkap di sini. Tapi pada saat itu ada hal-hal yang terjadi dalam hidup aku itu berat buat aku. Cukup traumatize buat aku, menyisakan trauma buat aku yang cukup berat buat aku secara mental untuk menjalani itu,” pungkasnya.

















