Polemik Pengakuan Anak: Pesan Kasih Sayang vs. Fakta 23 Tahun Penelantaran
Sebuah ketegangan semakin memuncak antara penyanyi Denada dan seorang pemuda bernama Ressa Rizky Rossano, yang mengaku sebagai putra kandungnya. Meskipun Denada mulai memberikan tanggapan melalui pesan singkat yang bernada kasih sayang, pihak Ressa justru melihatnya sebagai manuver pembelaan diri semata, terlebih setelah adanya gugatan hukum yang dilayangkan.
Pesan Cinta di Tengah Gugatan
Ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (31/1/2026), Ressa Rizky Rossano mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima pesan singkat dari Denada. Namun, pesan tersebut terasa kontras dengan kenyataan pahit yang telah ia alami selama lebih dari dua dekade terakhir.
“Iya (ada chat), dia bilang ‘apapun yang terjadi, Always Love You’,” ungkap Ressa Rizky Rossano. Pesan ini, meskipun terdengar manis, justru memicu reaksi keras dari tim kuasa hukum Ressa.
Komunikasi yang Terlambat dan Narasi Pembelaan Diri
Menanggapi pesan penuh kasih sayang tersebut, kuasa hukum Ressa, Ronald Armada, memberikan tanggapan yang tegas. Menurutnya, pesan cinta yang dikirimkan Denada tidak dapat menghapus fakta bahwa selama 23 tahun terakhir, tidak pernah terjalin komunikasi yang intens layaknya seorang ibu dan anak.
“Pihak Tergugat mendalilkan sudah terjalin komunikasi baik selama bertahun-tahun. Itu bohong! Dia baru berkomunikasi setelah ada gugatan ini. Kalau memang pernah ada komunikasi sebelumnya, tunjukkan buktinya!” seru Ronald Armada dengan nada geram.
Ronald menilai bahwa narasi “kasih sayang” yang coba dibangun oleh pihak Denada saat ini hanyalah sebuah mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism. Tujuannya adalah untuk menciptakan citra yang baik di mata publik dan menghindari kesan bersalah.
Fakta Akta Kelahiran dan Jarak Emosional yang Terlalu Jauh
Tim hukum Ressa juga membeberkan serangkaian fakta mengejutkan yang semakin memperkuat dugaan adanya penelantaran. Andika Meigista, salah seorang rekan dalam tim hukum Ronald, menyoroti kebiasaan Ressa memanggil Denada selama ini sebagai bukti kuat adanya jarak emosional yang sangat jauh.
“Kalau memang ada kasih sayang sejak awal, mana mungkin Ressa memanggil ibunya sendiri dengan sebutan ‘Mbak’? Itu saja sudah menunjukkan jarak yang luar biasa,” jelas Andika. Panggilan tersebut secara implisit menunjukkan bahwa Ressa tidak menganggap Denada sebagai figur ibu yang dekat dan penuh kasih.
Lebih jauh lagi, Ronald Armada mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan terkait identitas Ressa di dokumen negara. Ia membeberkan bahwa nama Denada tidak tercantum sebagai ibu dalam akta kelahiran Ressa.
- Akta Kelahiran Ressa: Berdasarkan dokumen negara, akta kelahiran Ressa tercatat atas nama kakeknya, Didurosa Noerhansah.
- Hal ini menunjukkan adanya upaya administratif untuk menyembunyikan atau mengaburkan status Denada sebagai ibu kandung.
- Ronald menduga hal ini dilakukan demi kepentingan Ressa, seperti kemudahan dalam bersekolah, karena Denada tidak bersedia namanya tercantum secara resmi. “Dia seolah ‘dibuang’ secara administratif demi kepentingan sekolah karena ibunya tidak mau muncul,” tegas Ronald.
Bantahan Keras atas Klaim Nafkah
Pihak Ressa juga secara tegas membantah klaim yang dilontarkan oleh kuasa hukum Denada. Klaim tersebut menyebutkan bahwa Denada masih memberikan nafkah kepada Ressa hingga Januari 2024. Ronald Armada dengan keras menyanggah pernyataan tersebut, dan justru membeberkan kondisi ekonomi Ressa yang sangat memprihatinkan akibat pengabaian yang dialaminya.
“Kalau dia bilang membiayai, faktanya Ressa ini sekolahnya putus! Mobil yang diberikan untuk dia kerja tarik Grab pun tidak dicicil pembayarannya sampai akhirnya ditarik paksa oleh leasing. Itulah yang membuat Ressa terpuruk,” ungkap Ronald, menjelaskan betapa jauhnya realitas yang dialami Ressa dari klaim yang disebutkan pihak Denada.
Tekad Melanjutkan Gugatan dan Tantangan Bertemu Langsung
Menutup wawancara, pihak Ressa Rizky Rossano menegaskan tekad mereka untuk tetap melanjutkan gugatan hukum yang telah dilayangkan. Mereka juga secara terbuka menantang Denada untuk bertemu secara langsung, “muka per muka”, demi menyelesaikan persoalan ini secara jernih dan transparan.
Tim Ressa berharap Denada tidak lagi bersembunyi di balik pesan singkat atau narasi yang dibuat-buat. Mereka ingin ada penyelesaian yang jujur dan bertanggung jawab atas luka batin dan pengabaian yang telah dialami Ressa selama puluhan tahun.
“Saya akan memenangkan gugatan ini. Saya mengejar ini karena dia telah melakukan penindasan terhadap kehormatan keluarga yang membesarkan Ressa!” pungkas Ronald Armada, menunjukkan keseriusan dan keyakinan mereka dalam memperjuangkan hak Ressa.



















