JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp17.184 pada perdagangan awal pekan ini, Senin (20/4/2026). Rupiah mengalami penurunan bersama sejumlah mata uang Asia lainnya.
Berdasarkan data dari Tradingview, rupiah dibuka melemah sebesar 0,27% menjadi Rp17.184 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat sebesar 0,22% menjadi 98,31.
Selain rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia Pasifik juga mengalami pelemahan. Yen Jepang melemah 0,17%, yuan China turun 0,04%, dolar Singapura melemah 0,23%, won Korea Selatan melemah 0,58%, dan dolar Hong Kong melemah 0,02% pagi ini.
Di sisi lain, dolar Taiwan melemah 0,11%, ringgit Malaysia stagnan, peso Filipina melemah 0,78%, dan baht Thailand melemah 0,47% terhadap dolar AS.
Data dari TradingEconomics menunjukkan bahwa selama lebih dari sebulan terakhir, rupiah telah melemah sebesar 1,63%. Dalam 12 bulan terakhir, rupiah turun sebesar 1,91%.
Secara historis, rupiah mencatat titik pelemahan terdalam pada April 2026, dengan menyentuh level Rp17.210 per dolar AS.
Sebelumnya, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan bahwa pelemahan rupiah cukup tajam terjadi karena dominasi sentimen negatif dari dalam negeri yang terus memengaruhi nilai tukar.
Tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Meskipun indeks dolar AS sempat mengalami rebound, posisinya masih berada tidak jauh dari level terendah dalam enam pekan terakhir.
Artinya, pelemahan rupiah lebih banyak dipicu oleh faktor domestik dibandingkan kekuatan dolar AS sendiri. Kondisi ini mencerminkan masih lemahnya kepercayaan investor terhadap aset berbasis rupiah. Berbagai faktor seperti kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi hingga minimnya katalis positif membuat mata uang domestik sulit bangkit meski tekanan global relatif mereda.
Memasuki awal pekan ini, pergerakan rupiah diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan terhadap tercapainya perdamaian berpotensi menjadi sentimen positif yang dapat menahan pelemahan lebih lanjut. Namun, tanpa adanya perkembangan signifikan, rupiah diperkirakan tetap berada dalam tekanan.
Di sisi lain, pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian pada agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Hingga saat ini, pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Berikut adalah rangkuman kondisi mata uang Asia pagi ini:
- Yen Jepang melemah 0,17%
- Yuan China turun 0,04%
- Dolar Singapura melemah 0,23%
- Won Korea Selatan melemah 0,58%
- Dolar Hong Kong melemah 0,02%
- Dolar Taiwan melemah 0,11%
- Ringgit Malaysia stagnan
- Peso Filipina melemah 0,78%
- Baht Thailand melemah 0,47%
Dari segi data historis, rupiah mencatat penurunan sebesar 1,63% dalam sebulan terakhir dan 1,91% dalam 12 bulan terakhir. Titik terendahnya tercatat pada April 2026 dengan level Rp17.210 per dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen dalam negeri menjadi faktor utama dalam pelemahan rupiah. Tekanan dari luar negeri tidak sepenuhnya dominan, namun tekanan internal seperti ketidakpastian ekonomi dan kurangnya katalis positif tetap menjadi tantangan.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah akan menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar. Jika ada kemajuan menuju perdamaian, hal ini bisa menjadi pendorong positif untuk rupiah. Sebaliknya, jika tidak ada perubahan signifikan, rupiah akan terus menghadapi tekanan.
Selain itu, pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia juga akan menjadi fokus utama. Prediksi pasar menunjukkan bahwa suku bunga acuan kemungkinan besar akan tetap stabil.





















