Kekerasan dalam Pacaran: Kisah Pilu FT dan Ancaman Tersembunyi di Balik Hubungan
Kekerasan dalam hubungan asmara bukan lagi fenomena asing, namun dampaknya selalu meninggalkan luka mendalam bagi korban. Kisah FT (42), seorang wanita paruh baya asal Palembang, menjadi bukti nyata betapa mengerikannya kekerasan yang bisa terjadi dalam masa pacaran. Hubungan yang seharusnya dipenuhi kasih sayang justru berubah menjadi mimpi buruk ketika sang kekasih, DI, tega melukai FT secara fisik akibat cemburu buta.
Peristiwa yang dialami FT berawal dari penolakan sederhana. Pada Minggu (31/5/2026) sore, DI mengajak FT untuk menghabiskan malam Minggu bersama. Namun, karena kondisi fisiknya sedang tidak fit, FT terpaksa menolak ajakan tersebut dengan sopan. Penolakan ini rupanya memicu amarah DI. Ia langsung menuduh FT sengaja menghindar karena memiliki rencana lain dengan pria lain. Kecurigaan yang tidak berdasar ini terus membayangi DI hingga keesokan harinya.
Ketika keduanya kembali bertemu dan DI mengajak FT ke lokasi kejadian di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan IB I, Palembang, amarah DI meledak tanpa terkendali. Tanpa banyak bicara, DI melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke tubuh FT. Puncaknya, DI bahkan tega menggigit telinga FT hingga luka parah. Setelah melampiaskan kekerasan brutalnya, DI seolah tak merasa bersalah dan mengantarkan FT pulang begitu saja.
Akibat penganiayaan tersebut, FT mengalami luka lebam di sekujur wajahnya, serta luka di tangan dan telinganya. Dengan sisa keberanian dan menahan rasa sakit, FT akhirnya melaporkan perbuatan kekasihnya ke SPKT Polrestabes Palembang pada Senin (1/6/2026). Ia berharap keadilan dapat ditegakkan dan DI segera ditangkap. Pihak kepolisian membenarkan laporan tersebut dan menyatakan akan segera meneruskannya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Palembang untuk ditindaklanjuti.
Akar Kekerasan dalam Hubungan: Psikologi Pelaku dan Jebakan Mitos
Kisah FT hanyalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan dalam pacaran yang terjadi. Mengapa seseorang bisa bertindak kasar dan menganiaya pasangannya? Fenomena ini seringkali berakar pada masalah psikologis yang kompleks, yang dapat ditelusuri sejak masa kanak-kanak.
Menurut John N. Briere, seorang dosen di University of Southern California School of Medicine, individu yang cenderung melakukan kekerasan seringkali memiliki latar belakang masa kanak-kanak yang penuh penderitaan, terutama yang disebabkan oleh figur ayah. Kekerasan ini tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga serangan verbal yang terus-menerus terhadap harga diri anak. Pengalaman traumatis ini dapat membentuk kepribadian seorang penganiaya di kemudian hari.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan pengabaian emosional seringkali mengalami masalah harga diri. Mereka berusaha keras untuk diterima dan dihargai, namun di sisi lain, mereka merasa tertekan oleh kedekatan hubungan. Ambivalensi ini menciptakan rasa takut akan penolakan dan ditinggalkan oleh orang terkasih.
Kecenderungan emosi yang meledak-ledak dan tindakan fisik juga bisa disebabkan oleh kebiasaan memendam emosi negatif sejak kecil. Tanpa terlatih untuk menyampaikan rasa kecewa dan marah secara verbal, emosi tersebut menumpuk dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan fisik.
Selain itu, kecemburuan patologis juga menjadi faktor penting. Pelaku kekerasan seringkali merasa tidak nyaman melihat pasangannya bahagia atau berinteraksi dengan orang lain. Rasa iri dan marah bercampur dalam diri mereka, yang seringkali tertanam di bawah perasaan rendah diri yang kuat. Ketidaknyamanan terhadap keintiman dan rendahnya rasa percaya diri dapat membuat mereka merasa tidak berdaya dan rentan terhadap depresi.
Fenomena ini sering disebut sebagai adiksi hubungan, yang ditandai dengan siklus melekat erat, panik, lalu menolak. Individu dengan kecenderungan ini suka mengendalikan orang lain, yang akhirnya membuat hubungan mereka mudah hancur.
Jebakan Mitos dan Pentingnya Pilihan Bijak
Mengapa sebagian wanita tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan? Seringkali, mereka terjebak dalam mitos yang menyesatkan. Salah satu mitos yang paling umum adalah keyakinan bahwa pasangan akan berubah setelah menikah. Mitos ini sangat keliru dan justru merupakan “judi” yang bodoh.
Ada pula wanita yang diam saja saat mengalami kekerasan karena melihat pola yang sama pada ibu mereka. Mereka diajarkan bahwa hal tersebut tidak masalah selama ada cinta dari suami, atau karena adanya tekanan untuk patuh pada nilai-nilai tradisional yang salah. Mereka takut melaporkan perbuatan pasangannya akan menghancurkan cinta mereka. Ironisnya, terkadang mereka menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang terjadi, alih-alih mencari solusi.
Dalam beberapa kasus yang ekstrem, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bahkan bisa mengalami stres jika tidak lagi dipukuli oleh pasangannya, karena merasa tidak lagi diperhatikan. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah psikologis yang mendalam, baik pada korban maupun pelaku.
Memilih Jalan Keluar: Pilihan di Tangan Anda
Masa pacaran adalah masa penjajakan, bukan sebuah keharusan untuk menikah. Sekalipun itu cinta pertama atau pasangan Anda kaya raya, tidak ada kewajiban untuk melanjutkan hubungan jika ada indikasi kekerasan. Pernikahan seharusnya menjadi komitmen seumur hidup, bukan untuk coba-coba. Terlalu mahal untuk menikah karena rasa kasihan atau sudah terlanjur intim.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh apakah Anda dan pasangan cocok untuk hidup bersama selamanya. Jika Anda menemukan kebiasaan kasar dan menganiaya, pertimbangkan kembali hubungan tersebut. Bijak dalam memilih teman hidup adalah kunci utama.
Ada beberapa pilihan yang bisa diambil jika Anda berada dalam situasi yang membahayakan:
- Memutuskan Hubungan Secara Definitif: Jika Anda merasa hubungan tersebut berbahaya dan tidak ada harapan untuk berubah, putuskanlah hubungan tersebut untuk selamanya, meskipun hanya untuk sesaat. Keselamatan diri adalah prioritas utama.
- Memutuskan Hubungan Sementara untuk Evaluasi: Anda bisa memutuskan hubungan sementara untuk menguji cinta dan kesiapan pasangan untuk berubah. Ajaklah pasangan untuk menemui konselor atau terapis dan berikan batas waktu, misalnya satu tahun, hingga ada rekomendasi dari terapis dan Anda yakin ada perubahan signifikan. Mengikuti tes kepribadian di pusat konsultasi psikologi juga dapat membantu mengidentifikasi kelainan atau gangguan tertentu.
- Mencari Dukungan dan Nasihat: Terbukalah dengan orang tua, saudara, teman dekat, atau pembimbing rohani yang peduli pada Anda. Dengarkan nasihat mereka dan berdoa agar Anda mendapatkan ketenangan hati. Seringkali, masukan dari orang terdekat dapat memberikan perspektif yang berharga.
- Menjaga Jarak dan Memperhatikan Perubahan: Ubah status hubungan menjadi teman biasa sambil menjaga jarak. Selama Anda belum memiliki pasangan baru, Anda bisa mendoakan dan memperhatikan perubahan pada mantan pacar Anda. Jika Anda menemukan seseorang yang lebih baik dan menjanjikan masa depan pernikahan yang lebih sehat, Anda berhak untuk memulai lembaran baru.
Kekerasan dalam pacaran adalah masalah serius yang tidak boleh dianggap remeh. Mengenali tanda-tandanya, memahami akar masalahnya, dan berani mengambil langkah tegas adalah kunci untuk keluar dari lingkaran setan kekerasan dan menemukan kebahagiaan yang sejati.


















