Kondisi Pendidikan di Aceh Tengah Pasca-Bencana
Sebanyak 12 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah masih menggunakan tenda darurat sebagai ruang belajar pasca-bencana. Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah setempat, kondisi ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana belum sepenuhnya selesai. Dalam beberapa bulan terakhir, ratusan siswa di daerah tersebut masih harus belajar di bawah tenda darurat, sementara anak-anak di wilayah lain sudah kembali menikmati ruang kelas yang nyaman.
Proses relokasi dan pembangunan sekolah permanen menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah legalitas lahan. Banyak lokasi yang belum memiliki dokumen kepemilikan tanah yang lengkap, sehingga memperlambat pembangunan. Hal ini menjadi salah satu hambatan utama dalam mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah tersebut.
Sekolah Masih Bertahan di Tenda Darurat
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengungkapkan bahwa hingga akhir Mei 2026, masih terdapat 12 sekolah yang belum dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar secara normal akibat dampak banjir dan tanah longsor. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, menyampaikan bahwa sejumlah sekolah masih memanfaatkan tenda darurat sebagai ruang belajar sementara.
“Saat ini ada beberapa sekolah masih belajar di tenda darurat, yaitu sekitar 12 sekolah,” ujarnya. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di beberapa wilayah yang terdampak cukup parah, yakni Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge. Kerusakan tidak hanya berupa bangunan sekolah yang rusak, tetapi juga perubahan kondisi alam pascabencana yang memperparah situasi.
Ancaman Keselamatan Membayangi Perjalanan ke Sekolah
Salimsyah menjelaskan bahwa salah satu persoalan terbesar yang dihadapi saat ini adalah keamanan siswa ketika harus menuju sekolah. Perubahan bentang alam akibat bencana membuat jalur yang biasa digunakan anak-anak menjadi lebih berbahaya. Kondisi ini memaksa pemerintah daerah mencari solusi darurat agar proses belajar tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan peserta didik.
“Rata-rata sekolah di Aceh Tengah terdapat pembatas sungai yang melebar pascabencana, sehingga ada kekhawatiran dari anak-anak jika melintasi sungai. Keselamatan mereka tidak terjamin, sehingga terpaksa dibuat sekolah darurat sementara,” ujarnya. Karena alasan itulah, tenda darurat masih menjadi pilihan meski jauh dari ideal. Setidaknya, langkah tersebut memungkinkan para siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan sambil menunggu solusi yang lebih permanen.
Pemerintah Cari Solusi Agar Anak-anak Bisa Belajar Lebih Layak
Meski kondisi di lapangan masih sulit, pemerintah daerah terus berupaya mencari jalan keluar agar para siswa tidak terlalu lama belajar di bawah tenda. Salah satu langkah yang sedang dilakukan adalah menyiapkan ruang belajar darurat yang lebih layak dan aman. Pemerintah juga berusaha memanfaatkan bangunan yang masih memungkinkan digunakan sebagai lokasi belajar sementara.
“Sehingga ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama sekolah asal, kedua ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu, Ketol, Bintang, dan Linge,” kata Salimsyah. Selain itu, berbagai alternatif juga mulai dipertimbangkan, termasuk penggunaan rumah warga maupun bangunan lain yang berada di sekitar lokasi sekolah.
“Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita,” katanya.
Pembangunan Sekolah Baru Terkendala Legalitas Lahan
Di balik kebutuhan mendesak akan sekolah permanen, pemerintah daerah ternyata menghadapi hambatan administratif yang tidak sederhana. Persoalan utama yang muncul adalah legalitas lahan yang akan digunakan untuk pembangunan sekolah baru. Kelengkapan dokumen kepemilikan tanah menjadi syarat penting dalam pengajuan pembangunan kepada pemerintah pusat.
Salimsyah mengakui bahwa persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. “Karena salah satu syaratnya itu surat tanah. Saat kita ke lapangan menyerap informasi dari kepala desa dan kepala sekolah, memang terkendalanya di situ,” ujarnya. Akibatnya, proses pembangunan sekolah permanen belum dapat berjalan secepat yang diharapkan, meskipun kebutuhan di lapangan sangat mendesak.
Pemerintah Pusat Minta Pemulihan Pendidikan Dipercepat
Sementara itu, pemerintah pusat juga menaruh perhatian terhadap kondisi pendidikan di Aceh Tengah. Ketua Tim Satgas Pemulihan dan Rekonstruksi Aceh dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu segera menghadirkan fasilitas belajar yang lebih layak sembari menunggu pembangunan sekolah permanen.
Menurutnya, penggunaan bangunan sekolah yang masih memungkinkan dipakai harus dioptimalkan agar siswa tidak terlalu lama belajar di tenda. “Dalam waktu singkat pemerintah daerah bisa sementara menggunakan sekolah yang masih bisa digunakan daripada belajar di tenda. Sambil menunggu dibangunnya sekolah permanen. Kita harap pemkab cepat bangun sekolah sementara,” demikian Imran.
Pendidikan Tetap Berjalan di Tengah Luka Bencana
Kisah 12 sekolah di Aceh Tengah menjadi potret bagaimana dampak bencana tidak berhenti ketika banjir surut atau longsoran tanah dibersihkan. Bagi para siswa, perjuangan sesungguhnya justru dimulai setelah itu. Di balik tenda-tenda darurat yang berdiri di tengah keterbatasan, ratusan anak masih berusaha mempertahankan mimpi mereka. Mereka tetap datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, dan menatap masa depan dengan harapan yang belum padam. Kini, harapan itu bertumpu pada percepatan pemulihan fasilitas pendidikan agar ruang kelas yang aman dan nyaman dapat segera kembali menjadi tempat mereka belajar, tumbuh, dan meraih cita-cita.



















