Ancaman Abrasi Sungai di Pasangkayu: Rumah Warga Tergantung di Bibir Tebing, DPRD Mendesak Tindakan Cepat
Pasangkayu, Sulawesi Barat – Ancaman nyata datang dari alam di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Abrasi sungai yang semakin parah di Kecamatan Bambalamotu, khususnya di Desa Polewali, Dusun Duria Biro, telah menciptakan situasi darurat yang mengancam keselamatan permukiman warga. Tebing sungai yang terkikis secara masif telah menyebabkan beberapa rumah warga kini menggantung di tepi jurang, dengan sebagian strukturnya kehilangan penopang. Kondisi ini memaksa para pemilik rumah untuk meninggalkan kediaman mereka demi keselamatan, khawatir bangunan tersebut sewaktu-waktu roboh.
Menyikapi situasi yang kian memprihatinkan ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasangkayu secara tegas mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu untuk segera mengambil tindakan penanganan yang konkret dan efektif. Peninjauan langsung oleh BWS Sulawesi III Palu ke lokasi pada Jumat, 27 Maret 2026, memang telah dilakukan. Namun, pihak DPRD dan masyarakat tidak ingin peninjauan tersebut hanya berhenti pada tahap survei tanpa tindak lanjut nyata.
Kondisi Lapangan yang Mendesak
Arham Bustaman, seorang anggota DPRD Pasangkayu, menekankan betapa urgensinya kondisi di lapangan. “Ini bukan lagi sekadar potensi ancaman. Dampaknya sudah nyata dirasakan masyarakat,” tegasnya pada Sabtu, 30 Maret 2026. Ia menggambarkan bagaimana abrasi sungai di wilayah Polewali telah menggerus area permukiman warga secara signifikan. Akibatnya, beberapa rumah kini dalam posisi yang sangat mengkhawatirkan, menggantung di atas tebing yang terus tererosi, dan berisiko tinggi untuk roboh.
Situasi ini dinilai sebagai keadaan darurat karena secara langsung mengancam keselamatan jiwa para penduduk. Kerusakan yang terjadi bukan hanya merusak properti, tetapi juga menimbulkan rasa takut dan ketidakpastian bagi warga yang terdampak.
Desakan DPRD untuk Tindakan Penyelamatan
Melihat tingkat keparahan kerusakan dan potensi bahaya yang ditimbulkan, DPRD Pasangkayu mendesak agar hasil dari peninjauan yang telah dilakukan oleh BWS Sulawesi III Palu segera ditindaklanjuti. Tindakan yang diharapkan adalah langkah-langkah teknis yang cepat, terukur, dan memadai untuk mencegah kerusakan yang lebih luas serta menyelamatkan rumah-rumah warga yang terancam.
Pemerintah desa dan masyarakat setempat juga menyampaikan harapan yang sama. Mereka sangat berharap agar pemerintah pusat, melalui perwakilan BWS Sulawesi III Palu, dapat segera merealisasikan program perbaikan tebing sungai. Perbaikan ini krusial untuk menghentikan laju abrasi dan mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang.
Sebelumnya, kondisi rumah warga di lokasi abrasi memang telah lama menjadi perhatian. Tiang-tiang penyangga rumah terlihat menggantung di bibir tebing yang terus terkikis. Tanah di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda keretakan dan ketidakstabilan yang jelas. Kekhawatiran akan robohnya bangunan kapan saja membuat para pemilik rumah terpaksa mengungsi, meninggalkan harta benda mereka demi keselamatan diri dan keluarga. Situasi ini menggambarkan keputusasaan warga yang berhadapan langsung dengan kekuatan alam yang merusak.
Dampak Abrasi dan Harapan Masyarakat
Abrasi sungai merupakan fenomena alam yang dapat diperparah oleh berbagai faktor, termasuk perubahan pola aliran sungai, curah hujan yang tinggi, dan kurangnya vegetasi di bantaran sungai. Di Desa Polewali, dampak abrasi ini sangat terasa di Dusun Duria Biro, di mana pemukiman penduduk berada sangat dekat dengan sungai.
Beberapa rumah yang terdampak abrasi mengalami kerusakan struktural yang parah. Fondasi rumah yang seharusnya kokoh kini tergerus, menyebabkan bangunan kehilangan keseimbangan. Dalam beberapa kasus, sebagian besar struktur rumah terpaksa bergantung pada sisa-sisa tanah yang rapuh, menciptakan pemandangan yang dramatis sekaligus mengerikan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah tersebut. Meskipun peninjauan telah dilakukan, masyarakat membutuhkan jaminan bahwa tindakan nyata akan segera diambil. Harapan mereka tertuju pada pemerintah pusat untuk memberikan dukungan teknis dan finansial yang memadai agar proyek perbaikan tebing sungai dapat segera dilaksanakan.
Penanganan abrasi sungai bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi merupakan langkah vital untuk melindungi keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Kegagalan dalam menangani masalah ini secara tuntas dapat berujung pada hilangnya tempat tinggal, kerugian ekonomi yang signifikan, dan trauma psikologis bagi para korban. Oleh karena itu, desakan dari DPRD Pasangkayu dan harapan masyarakat setempat harus menjadi prioritas utama bagi pihak terkait.



















