Ekonomi NTB Meroket Berkat Sektor Non-Tambang, UMKM dan Keuangan Syariah Jadi Kunci
Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini tengah menikmati tren positif yang sangat mengesankan, dengan sektor non-tambang tampil sebagai lokomotif utama yang mendorong kemajuan pesat. Angka-angka terbaru menunjukkan lonjakan signifikan, melampaui ekspektasi dan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Kepala Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Hario Kartiko Pamungkas, memaparkan data menggembirakan ini saat menghadiri program Ekonomi Talk Tribun Lombok yang diselenggarakan di Aula Bank NTB Syariah pada Senin, 23 Februari 2026. Menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun oleh BI NTB, pertumbuhan ekonomi sektor non-tambang di NTB pada tahun 2025 tercatat melonjak hingga 8,54 persen. Angka ini menunjukkan lompatan luar biasa jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun 2024 yang hanya mencapai 3,95 persen.
Meskipun pertumbuhan ekonomi NTB secara keseluruhan tercatat sebesar 3,22 persen, jelas terlihat bahwa sektor non-tambang menjadi penopang utama yang memberikan kontribusi substansial. Pertumbuhan yang begitu pesat di sektor ini menegaskan potensi besar yang dimiliki NTB di luar sektor pertambangan tradisional.
Fokus Dukungan Bank Indonesia: UMKM sebagai Penggerak Ekonomi
Menyadari kekuatan sektor non-tambang, Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk terus memperkuat dukungannya. Salah satu strategi utama yang digalakkan adalah melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM ini tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi lokal, tetapi juga berperan krusial dalam mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu primadona NTB.
“Itu tercatat sebesar 3,22 % (pertumbuhan total). Namun ternyata pertumbuhan ekonomi tanpa tambang itu di 2025 tercatat sebesar 8,54 %. Jadi sangat-sangat jauh bedanya dengan pertumbuhan secara keseluruhan,” ujar Hario, menekankan betapa signifikan kontribusi sektor non-tambang.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan yang positif ini, Bank Indonesia memfokuskan dukungannya pada tiga kelompok komoditas UMKM utama:
- Komoditas Penyumbang Inflasi: Kelompok ini mencakup komoditas pangan yang sangat penting bagi stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat. Dengan memastikan ketersediaan dan stabilitas pasokan pangan, NTB dapat menjaga daya beli masyarakat dan mencegah lonjakan inflasi yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi.
- Komoditas Unggulan Daerah: BI juga memberikan perhatian khusus pada komoditas-komoditas yang menjadi ciri khas dan kekuatan ekonomi NTB. Pemberdayaan komoditas unggulan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah, membuka pasar baru, dan menciptakan lapangan kerja.
- Komoditas Ekspor Pendukung Pariwisata: Sektor pariwisata yang terus berkembang membutuhkan dukungan dari berbagai produk dan layanan. BI memprioritaskan komoditas yang dapat menunjang industri pariwisata, mulai dari produk kerajinan tangan, kuliner khas, hingga layanan akomodasi dan atraksi.
Hario Kartiko Pamungkas lebih lanjut menegaskan bahwa dukungan terhadap komoditas yang menjadi pendukung sektor pariwisata adalah sebuah prioritas. Hal ini penting agar kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian NTB semakin besar dan berkelanjutan.
Potensi Keuangan Syariah: Sinergi untuk Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata
Selain berfokus pada pemberdayaan komoditas UMKM, potensi keuangan syariah di NTB dinilai memiliki peran yang sangat besar dalam menunjang sektor ekonomi kreatif dan pengembangan desa wisata. NTB, yang dikenal sebagai “Daerah Seribu Masjid”, memiliki fondasi ekosistem syariah yang kuat, diperkuat dengan keberadaan Bank NTB Syariah.
Bank Indonesia mengambil peran strategis sebagai “mak comblang” atau penghubung. Peran ini sangat vital dalam menjembatani pelaku UMKM dan pengelola desa wisata dengan berbagai lembaga keuangan yang siap memberikan dukungan pembiayaan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pelaku usaha mendapatkan akses permodalan yang sesuai dengan kebutuhan dan prinsip syariah.
“Kami sendiri di Bank Indonesia itu selama ini berupaya juga untuk menjadi mak comblang antara UMKM termasuk desa wisata dengan lembaga keuangan yang mau membiayai, termasuk ke syariah,” jelas Hario.
Melalui upaya mengenalkan pelaku usaha dengan lembaga keuangan ini, diharapkan keberlangsungan desa wisata di NTB dapat terus terjaga. Dukungan pembiayaan yang tepat sasaran akan memungkinkan pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, dan promosi yang lebih efektif, sehingga menarik lebih banyak wisatawan dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal.
Optimisme Menyongsong Masa Depan Ekonomi NTB yang Tangguh
Dengan sinergi yang kuat antara pertumbuhan pesat di sektor non-tambang dan penguatan sektor keuangan syariah, optimisme menyelimuti masa depan ekonomi NTB. Kombinasi ini dipercaya akan mampu meningkatkan ketahanan ekonomi daerah, menjadikannya lebih resilien terhadap gejolak ekonomi global dan mampu menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.
NTB menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat dan fokus pada potensi lokal, sebuah daerah dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dan berkelanjutan. Pemberdayaan UMKM, pengembangan sektor pariwisata, serta pemanfaatan instrumen keuangan syariah menjadi pilar-pilar penting yang akan terus menopang kemajuan NTB di masa mendatang.




