Emas SEA Games 2025 untuk Sang Bayi

Diposting pada

Emas di Tengah Kehamilan: Kisah Inspiratif Atlet Menembak Indonesia di SEA Games 2025

Arena olahraga menembak di SEA Games 2025 di Photharam Shooting Range, Bangkok, menjadi saksi bisu dari luapan emosi yang luar biasa. Dewi Laila Mubarokah, atlet kebanggaan Indonesia, tak mampu menahan air mata haru dan bahagia. Tangisan itu pecah bukan di saat peluru terakhir melesat, bukan pula saat bendera Merah Putih berkibar gagah, melainkan setelah semua kompetisi usai. Dua medali emas SEA Games 2025 telah berhasil ia genggam, dan rahasia besar yang ia simpan berbulan-bulan akhirnya terkuak.

Dewi Laila menutup partisipasinya di SEA Games Thailand 2025 dengan catatan prestasi yang nyaris sempurna. Ia berhasil meraih medali emas di nomor 10 meter Air Rifle beregu putri, berpasangan dengan Dominique Rachmawati Karini dan Yasmin Figlia Achadiat. Tak berhenti di situ, ia juga menyabet emas di nomor 10 meter Air Rifle putri secara individu. Di balik ketenangan, presisi, dan kontrol napas yang ia tunjukkan di garis tembak, Dewi Laila ternyata tengah memperjuangkan sesuatu yang tak terlihat oleh mata penonton maupun papan skor: ia bertanding dalam kondisi hamil empat bulan.

“Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka. Saya kira pulang tidak membawa apa-apa. Paling nyangkut di perak atau perunggu,” ujar Dewi Laila dengan suara bergetar seusai perlombaan.

Atlet menembak Indonesia Dewi Laila Mubarokah. (Antara/Muhammad Ramdan)

Kehamilannya dirahasiakan dengan sangat ketat. Hanya segelintir orang yang mengetahui, termasuk para pengurus Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin), tim pelatih, dan satu rekan atlet. Bahkan, Dominique, rekan sekamar sekaligus rivalnya di final, sama sekali tidak mengetahui kondisi Dewi. “Sekamar sama Dominique saja dia enggak tahu,” ucapnya sambil tersenyum memandang Dominique.

Menjaga kerahasiaan ini berarti menjalani rutinitas seperti biasa. Sejak awal mengetahui dirinya hamil, Dewi Laila tetap mengikuti seluruh rangkaian pemusatan latihan, tes fisik, hingga kejuaraan. Pada fase awal kehamilan, tantangan justru terasa lebih berat. “Waktu masih awal itu mual. Tapi biar enggak ketahuan teman-teman, ditahan sendiri. Cuma cerita ke suami,” kenangnya.

Perjuangan Ekstra di Balik Latihan

Salah satu kekhawatiran terbesar Dewi Laila adalah konsumsi vitamin. Sebagai atlet elite, setiap asupan yang masuk ke tubuh harus dipastikan aman dan tidak melanggar aturan antidoping. Dewi Laila sempat cemas, takut vitamin kehamilan justru disalahartikan sebagai pelanggaran. Kekhawatiran ini kemudian terjawab melalui konsultasi mendalam. Dewi Laila dan timnya segera berkonsultasi dengan Indonesia Anti-Doping Organization (IADO).

Melalui IADO, ia mendapatkan arahan penting untuk melaporkan penggunaan vitamin melalui mekanisme Pengecualian Penggunaan Terapeutik (Therapeutic Use Exemption/TUE) yang diatur oleh Badan Antidoping Dunia (World Anti-Doping Agency/WADA). Langkah ini menjadi titik terang dan ketenangan di tengah tekanan yang ia hadapi. Kehamilannya tetap terjaga, aturan antidoping tetap dipatuhi, dan Dewi Laila dapat bertanding dengan hati yang lebih lapang.

Dukungan terdekat datang dari para pelatih. Menjelang final, ketegangan tak dapat sepenuhnya dihindari. “Saya bilang ke pelatih kalau tegang. Tapi pelatih cuma bilang, tarik napas, atur napas, kontrol seperti latihan biasa,” ujarnya. Nasihat sederhana namun mendalam ini menjadi pegangan kuat ketika final berlangsung sengit. Delapan penembak terbaik saling kejar nilai. Dewi Laila sempat tertinggal, namun perlahan, satu per satu pesaingnya mulai tersingkir. Akhirnya, duel sengit terjadi antara sesama atlet Indonesia, Dewi Laila melawan Dominique.

Sorak sorai penonton mengiringi setiap tembakan yang dilepaskan. Di ujung laga, Dewi Laila berhasil memastikan medali emas, sementara Dominique meraih medali perak. Keduanya berpelukan erat di tengah arena, di tengah momen bersejarah. Air mata tak terbendung kembali membasahi pipi Dewi.

Petembak Indonesia Dewi Laila Mubarokah (kanan) berpelukan dengan petembak Indonesia lainnya, Dominique Rachmawati Karini setelah memastikan dirinya sebagai juara dalam nomor 10 meter Air Rifle putri cabang menembak SEA Games 2025 Thailand di Photharam Shooting Range, Bangkok, Thailand, Sabtu 13 Desember 2025. Dewi mempersembahkan emas setelah pada babak final berhasil mengoleksi skor tertinggi 248,5, sementara medali perak diraih rekan senegaranya Dominique Rachmawati Karini dengan skori 248,2, sedangkan perunggu menjadi milik wakil Vietnam Le Thi Mong Tuyen dengan skor 226,8. Antara/Muhammad Ramdan/app/YU

Dominique sendiri mengaku sangat terkejut ketika rahasia Dewi akhirnya terungkap. “Saya sempat mimpi Dewi hamil,” kata Dominique. “Pas tahu ternyata benar, saya kaget. Saya langsung bilang, ‘tuh kan, benar hamil.’” Tangisan kembali mewarnai arena, bukan hanya dari Dewi Laila, tetapi juga dari orang-orang terdekat yang selama ini turut menyimpan rahasia tersebut.

Perspektif Sang Suami: Kekuatan Dukungan dan Kepercayaan

Di tribun, Fathur Gustafian, suami Dewi Laila yang juga seorang atlet menembak, menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan emosi yang campur aduk. Baginya, perjuangan ini lebih dari sekadar perebutan medali. “Kami sama-sama menguatkan, sama-sama percaya proses,” ujar Fathur.

Keputusan untuk melanjutkan kehamilan di tengah persiapan SEA Games 2025 bukanlah hal yang mudah. Anak pertama mereka saat itu masih berusia dua tahun lebih. Program keluarga sempat direncanakan berbeda. “Kami sempat berpikir menunda. Tapi dokter bilang, anak ini punya hak hidup, punya rezekinya sendiri,” kata Fathur. Sejak saat itu, keyakinan mereka semakin menguat. Dewi Laila rutin mengonsumsi vitamin sesuai anjuran dokter, rajin melakukan kontrol kehamilan, dan tetap menjalani latihan dengan pengawasan ketat. Semua dijalani dengan penuh kehati-hatian.

“Allah sudah kasih takdir ke setiap makhluk-Nya. Kami hanya berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik,” tutur Fathur.

Petembak Indonesia Dewi Laila Mubarokah (atas tengah) bersama rekan senegaranya Dominique Rachmawati Karini (kiri), petembak Vietnam Le Thi Mong Tuyen (kanan), dan Ketua Perbakin Joni Supriyanto berfoto setelah pengalungan medali pemenang nomor 10 meter Air Rifle putri cabang menembak SEA Games 2025 Thailand di Photharam Shooting Range, Bangkok, Thailand, 13 Desember 2025. Antara/Muhammad Ramdan

Ketika dua medali emas akhirnya diraih, seluruh perjuangan itu terasa menemukan makna yang mendalam. Dewi Laila menunduk, perlahan memegang perutnya. “Walaupun belum bisa dengar, saya bilang terima kasih sudah bertahan, sudah berjuang sama-sama,” ucapnya.

Bagi Dewi Laila, emas di Thailand ini merupakan peningkatan prestasi yang signifikan di pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut. Pada SEA Games 2021 di Vietnam, ia juga berhasil meraih emas di nomor 10 meter Air Rifle perorangan dan perak di nomor beregu putri bersama Citra Dewi Resti dan Monica Daryanti. Sementara itu, pada SEA Games 2023 di Kamboja, cabang olahraga menembak tidak dipertandingkan, yang justru menambah motivasi Dewi untuk tampil maksimal di edisi kali ini. “Dewi sangat ingin membuktikan dirinya masih bisa bersaing. Makanya dia sangat ingin tampil di SEA Games 2025,” ungkap Fathur.

Di arena menembak, Dewi Laila dikenal sebagai atlet dengan kontrol napas dan emosi yang matang. Di SEA Games 2025, ia menunjukkan bahwa ketenangan itu tidak hanya lahir dari latihan keras, tetapi juga dari keyakinan mendalam bahwa prestasi dan kehidupan dapat berjalan beriringan, asalkan dijalani dengan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab penuh.

Dua medali emas yang ia raih bukan hanya menjadi milik Dewi Laila semata. Kisah ini menjadi bukti keberanian dalam menyimpan rahasia, ketaatan pada aturan, dan keteguhan seorang ibu yang memilih untuk tetap berdiri di garis tembak dengan amanah besar di dalam dirinya. “Rezeki ‘si utun’,” kata Fathur tersenyum, merujuk pada bayi yang masih dalam kandungan sang istri.

Dewi Laila dan Fathur kini memiliki mimpi yang lebih besar. Mereka ingin membangun keluarga yang bahagia dan menggapai satu cita-cita yang sangat mereka idamkan: tampil bersama di pentas olahraga tertinggi dunia, Olimpiade. “Mimpi Dewi bisa tampil bersama saya di Olimpiade, karena saya sebelumnya sudah tampil,” ujar Fathur.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan