Jakarta — Kekhawatiran soal penurunan daya ingat kerap muncul seiring bertambahnya usia, terutama karena demensia lebih sering dialami pada masa lanjut. Namun, perhatian terhadap kesehatan otak tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang memasuki usia 60 atau 70 tahun. Sejumlah kebiasaan harian yang dibangun sejak sekarang dinilai dapat membantu menjaga fungsi kognitif dalam jangka panjang, meski tidak ada satu langkah pun yang bisa menjamin seseorang bebas dari demensia.
Dalam pandangan psikologi dan ilmu kesehatan otak, kemampuan berpikir tidak berdiri sendiri. Pola tidur, cara mengelola tekanan, aktivitas fisik, interaksi sosial, hingga kebiasaan belajar ikut memengaruhi kondisi otak. Faktor usia, genetik, dan penyakit tertentu tetap berperan, tetapi banyak risiko lain disebut bisa ditekan lewat gaya hidup yang lebih sehat.
Mengutip Psychology Today pada Minggu (4/10), ada enam kebiasaan yang disarankan untuk mulai dibangun sejak dini. Yang pertama adalah terus memberi tantangan pada otak. Aktivitas seperti mempelajari bahasa baru, membaca buku dengan topik berbeda, mengikuti kursus, menulis, bermain alat musik, atau mencoba hobi baru dapat merangsang kerja mental. Bahkan kegiatan sehari-hari seperti memasak resep baru, belajar aplikasi baru, atau memainkan permainan strategi juga termasuk latihan yang bermanfaat.
Intinya, otak perlu sesekali diajak keluar dari pola yang terlalu familiar. Jika suatu aktivitas sudah terasa sangat mudah, tingkat kesulitannya bisa dinaikkan sedikit. Misalnya, membaca bahan yang lebih menantang, menjelajah rute berjalan yang berbeda, atau memilih permainan yang menuntut strategi lebih rumit. Kebiasaan belajar seperti ini membantu membangun apa yang kerap disebut cadangan kognitif, yakni kemampuan otak menghadapi perubahan dengan jaringan dan strategi yang dimilikinya.
Kebiasaan kedua adalah menjaga kualitas tidur. Saat tidur, otak tetap bekerja melakukan proses penting. Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu konsentrasi, perhatian, suasana hati, dan kemampuan belajar. Karena itu, rutinitas tidur yang teratur perlu dibangun lebih awal, bukan menunggu usia lanjut. Langkah sederhana yang disarankan antara lain tidur dan bangun pada jam yang konsisten, membatasi gawai sebelum tidur, membuat kamar lebih nyaman, serta menghindari kafein terlalu dekat dengan waktu istirahat.
Berikutnya, tubuh perlu lebih sering diajak bergerak. Aktivitas fisik teratur berkaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah, yang pada akhirnya juga berhubungan dengan otak. Pilihannya tidak harus berat: berjalan kaki, bersepeda, berenang, menari, berkebun, naik tangga, atau latihan kekuatan bisa menjadi opsi. Jika pekerjaan menuntut duduk lama, kebiasaan kecil seperti berdiri sejenak, berjalan saat menerima telepon, atau bergerak beberapa menit setelah makan dapat membantu mengurangi risiko gaya hidup pasif.
Tiga kebiasaan lain yang tak kalah penting adalah menjaga hubungan sosial, terus belajar hal baru, dan mengelola stres dengan lebih sehat. Interaksi dengan orang lain memberi rangsangan mental sekaligus dukungan emosional, sementara stres yang tidak terkendali dapat membebani kesehatan otak. Meski penuaan tidak bisa dihentikan, kebiasaan sehari-hari tetap bisa memberi otak lebih banyak kesempatan untuk bertahan kuat lebih lama.
Sumber: jawapos.com




