Polemik Impor Mobil India: Klarifikasi Posisi Direktur Utama PT Agrinas
Sebuah narasi yang beredar di media sosial Instagram menimbulkan kehebohan dengan kabar mengenai pengunduran diri Direktur Utama (Dirut) PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas), Joao Angelo De Sousa Mota. Isu ini muncul seiring dengan polemik seputar rencana impor 105.000 unit kendaraan dari India oleh perusahaan tersebut. Unggahan awal di akun Instagram WartaIndonesiku, yang kemudian dibagikan ulang oleh ratusan pengguna lain, telah menarik perhatian puluhan ribu pengguna Instagram, memicu spekulasi dan pertanyaan mengenai kebenaran informasi tersebut serta implikasinya.
Detail Narasi yang Beredar
Narasi yang beredar di media sosial menampilkan klaim bahwa Joao Mota telah mengundurkan diri dari jabatannya. Lebih lanjut, disebutkan pula bahwa sebelum mengambil keputusan tersebut, Mota telah melakukan pembayaran uang muka sebesar Rp7,39 triliun dari total nilai kontrak pengadaan pikap dan truk yang mencapai Rp24,66 triliun.
Dalam narasi tersebut, muncul dugaan bahwa keputusan impor ini tidak lepas dari adanya tekanan dari pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai pihak-pihak yang memberikan tekanan tersebut dan siapa yang akan bertanggung jawab apabila kontrak pengadaan kendaraan ini bermasalah di kemudian hari. Terdapat desakan agar kasus ini diinvestigasi secara mendalam untuk mengungkap pihak-pihak yang berada di balik tekanan tersebut, serta memetakan siapa saja yang terlibat.
Klarifikasi Langsung dari Direktur Utama PT Agrinas
Menanggapi beredarnya kabar yang simpang siur, upaya konfirmasi langsung dilakukan terhadap Joao Angelo De Sousa Mota. Melalui pesan singkat, beliau secara tegas membantah informasi mengenai pengunduran dirinya. “Hoaks itu (kabar dirinya mundur),” ujarnya singkat, mengindikasikan bahwa isu tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Latar Belakang Impor Mobil India dan Respons Terhadap Kritik
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) memang berencana melakukan impor 105.000 unit mobil dari India. Tujuan utama dari pengadaan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun, kebijakan ini tidak luput dari sorotan dan kritik tajam dari berbagai kalangan masyarakat maupun anggota parlemen. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bahkan sempat mendesak agar kebijakan impor ini ditunda untuk dilakukan kajian lebih mendalam.
Di tengah gelombang kritik tersebut, Joao Angelo De Sousa Mota mengklaim bahwa pihaknya mampu mencapai efisiensi anggaran yang signifikan, diperkirakan mencapai Rp46,5 triliun, dari pengadaan 105.000 unit kendaraan jenis pikap dan truk ringan dari India. Efisiensi ini diklaim berasal dari anggaran pengadaan sarana dan prasarana perusahaan yang diperoleh dari pinjaman bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp200 triliun.
Dalam sebuah kesempatan, Joao menjelaskan bahwa penolakan terhadap rencana impor pikap tersebut justru datang dari individu-individu tertentu, bukan dari pemerintah atau masyarakat secara keseluruhan. Beliau menekankan status Agrinas sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang senantiasa patuh pada arahan pemerintah dan setia kepada negara serta rakyat.
“Yang menolak ini siapa? karena saya ini kan BUMN. Saya pasti taat kepada pemerintah dan taat kepada pemerintah dan rakyat jadi kami hanya setia kepada negara dan rakyat, tidak kepada individu atau kelompok tertentu,” tegas Joao.
Meskipun demikian, Joao juga menyatakan kesiapannya untuk mematuhi apabila pemerintah memutuskan untuk menghentikan rencana impor tersebut. Beliau menegaskan bahwa selama negara mendukung kebijakan yang dijalankan, pihaknya akan terus melaksanakannya. Namun, jika pemerintah dan DPR memutuskan untuk menghentikan, maka perintah tersebut akan dipatuhi, meskipun harus menanggung segala risiko yang mungkin timbul.
Kesimpulan
Berdasarkan klarifikasi langsung dari Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, dapat disimpulkan bahwa kabar mengenai pengunduran dirinya dari jabatan adalah informasi yang tidak benar atau hoaks. Isu ini muncul di tengah polemik impor mobil India yang tengah menjadi sorotan publik. Perusahaan menegaskan bahwa pengadaan kendaraan tersebut bertujuan untuk kebutuhan operasional KDKMP dan diklaim mampu memberikan efisiensi anggaran yang besar. Pihak Agrinas juga menyatakan komitmennya untuk patuh pada keputusan pemerintah terkait rencana impor ini.

















