Kekalahan telak Barcelona di kandang Atletico Madrid dengan skor 4-0 pada leg pertama semifinal Copa del Rey telah menempatkan mereka dalam posisi yang sangat sulit untuk mempertahankan gelar juara. Defisit empat gol menjadi beban berat yang harus dipikul untuk leg kedua di Spotify Camp Nou, yang kini berubah menjadi misi nyaris mustahil. Namun, bukan hanya hasil akhir yang menjadi sorotan utama, melainkan juga kekecewaan mendalam pelatih Hansi Flick terhadap keputusan kontroversial dari Video Assistant Referee (VAR) yang menganulir gol Pau Cubarsi setelah peninjauan yang memakan waktu delapan menit.
Babak Pertama yang Menghancurkan Semangat Barcelona
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Hansi Flick tidak berusaha menyembunyikan kekecewaannya terhadap performa timnya di babak pertama. Ia mengakui bahwa Barcelona tampil jauh di bawah standar yang diharapkan.
“Kami tidak bermain bagus di babak pertama, kami tidak bermain sebagai tim. Jarak antara kami dan mereka sangat besar. Kami tidak melakukan pressing dengan efektif. Dan di 45 menit pertama, kami mendapatkan pelajaran yang sangat berharga,” ujar Flick.
Meskipun mengakui kelemahan di babak pertama, Flick mencoba melihat sisi positif dari babak kedua yang dianggapnya mengalami perbaikan.
“Babak kedua lebih baik. Kami masih memiliki dua babak lagi dan kami akan berjuang. Jika kami bisa menang 2-0 di setiap babak… kami akan membutuhkan dukungan penuh dari para penggemar kami di kandang,” tambahnya, menunjukkan bahwa harapan belum sepenuhnya padam.
Secara kasat mata, Barcelona terlihat kalah dalam hal intensitas permainan dan organisasi tim. Atletico Madrid tampil jauh lebih agresif, memiliki determinasi yang lebih tinggi, dan terbukti lebih efektif dalam memanfaatkan setiap celah yang ada. Meskipun demikian, Flick berusaha untuk tidak menyalahkan para pemainnya secara individu.
“Saya tidak kecewa dengan tim. Saya senang dengan perjalanan tim musim ini. Kami telah menghadapi banyak kendala cedera. Kekalahan adalah bagian dari permainan. Ini adalah kekalahan yang menyakitkan, tetapi saya bangga dengan tim ini. Kita harus belajar dari kesalahan ini,” tegasnya.
Flick menambahkan, “Mereka (Atletico) lebih bersemangat untuk mencetak gol. Dan itulah yang ingin saya tiru dari mereka. Kami tidak melakukannya di 45 menit pertama. Tetapi tim ini masih muda, dan saya tidak mencari alasan.”
Nada bicara Flick mencerminkan kekecewaan yang mendalam terhadap hasil pertandingan, namun ia tetap menunjukkan keyakinan pada proyek jangka panjang yang sedang dibangunnya bersama tim.
Kontroversi VAR yang Memperkeruh Suasana
Namun, suasana berubah drastis ketika Flick ditanya mengenai gol yang dianulir oleh VAR. Di sinilah emosi pelatih asal Jerman tersebut benar-benar terlihat. Ia mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap proses peninjauan VAR yang dianggapnya kacau dan tidak transparan.
“Kami memulai pertandingan dengan kartu kuning, tindakan pertama terhadap Balde adalah… Tentu saja. Akan berbeda jika wasit langsung menunjukkannya. Dengan tidak melakukannya, Anda membiarkan mereka bermain seperti ini. Ini sungguh kacau,” keluh Flick.
Ia melanjutkan, “Mereka harus menunggu tujuh menit, oh ayolah. Mereka menemukan sesuatu dalam tujuh menit ini? Oke. Ketika saya melihat situasi itu, jelas tidak ada offside. Mungkin mereka bisa melihat sesuatu yang berbeda. Lalu beri tahu kami. Tidak ada komunikasi. Ini sangat buruk di sini.”
Peninjauan selama delapan menit untuk satu keputusan offside dalam pertandingan semifinal turnamen besar memang terasa sangat berlebihan. Bagi Flick, masalahnya bukan hanya pada keputusan akhir, tetapi juga pada kurangnya komunikasi yang efektif antara tim wasit dan tim teknis VAR, yang menimbulkan frustrasi. Dalam sebuah pertandingan yang sudah berat karena ketertinggalan skor, momen seperti itu berpotensi menjadi titik balik yang krusial. Ketika peluang untuk memperkecil ketertinggalan atau bahkan menyamakan kedudukan hilang akibat keputusan yang dianggap meragukan, rasa kesal dan frustrasi sulit untuk dibendung.
Tantangan Berat di Leg Kedua
Kini, Barcelona dihadapkan pada tugas yang sangat berat di leg kedua. Mereka harus mencetak setidaknya empat gol tanpa balas di Spotify Camp Nou untuk bisa memaksakan perpanjangan waktu. Ini adalah tantangan yang luar biasa besar, namun Hansi Flick masih berusaha untuk menjaga api optimisme tetap menyala di dalam timnya. Satu hal yang pasti, pertandingan kedua nanti tidak hanya akan menjadi pertarungan taktik semata, tetapi juga akan menjadi ujian harga diri bagi seluruh skuad Barcelona.



















