Sukabumi Diguncang Dua Kali Gempa, Warga Panik Berlarian Keluar Rumah
Kota Sukabumi dan sekitarnya dikejutkan oleh dua kali peristiwa gempa bumi pada Minggu dini hari, 15 Maret 2026. Gempa pertama yang berkekuatan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah tenggara kota pada pukul 00.36.13 WIB, menimbulkan getaran yang cukup terasa dan sempat membuat sebagian warga panik. Tak lama berselang, gempa susulan dengan magnitudo 2,1 kembali terjadi pada pukul 03.42.05 WIB, menambah kekhawatiran di tengah masyarakat.
Rangkaian Peristiwa Gempa
Gempa pertama yang mengguncang Sukabumi terjadi menjelang dini hari, tepatnya pada pukul 00.36.13 WIB. Berdasarkan analisis sementara dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa ini berpusat di koordinat 6.97 Lintang Selatan dan 106.98 Bujur Timur. Lokasi episenter ini berada sekitar 8 kilometer di sebelah tenggara Kota Sukabumi, Jawa Barat, dengan kedalaman hiposenter mencapai 10 kilometer.
Getaran gempa pertama dilaporkan cukup kuat dan dirasakan oleh banyak warga. Aprianti (34), seorang warga Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, mengaku terkejut saat sedang tertidur lelap. “Saya lagi tidur, tiba-tiba terasa getaran. Saya langsung bangun dan lari keluar rumah karena takut,” ujarnya pada Minggu (15/3/2026). Ia menambahkan bahwa suaminya yang berada di luar rumah segera masuk untuk menyelamatkan anak mereka yang masih tertidur di kamar.
Pengalaman serupa diceritakan oleh Rudi (45), warga Kabupaten Sukabumi lainnya. Ia dan beberapa warga baru saja selesai melakukan kerja bakti ketika getaran kuat terasa. “Saat itu kami baru beres kerja bakti. Tiba-tiba terasa getaran cukup kencang, seperti anjlok. Kami yang ada di luar langsung berlarian karena kaget,” tuturnya. Meskipun berlangsung hanya beberapa detik, getaran tersebut cukup menimbulkan kepanikan dan mendorong warga untuk menjauh dari bangunan.
Gempa Susulan Mengguncang
Tidak berselang lama, pada pukul 03.42.05 WIB, wilayah yang sama kembali diguncang gempa. Kali ini, BMKG mencatat gempa susulan tersebut memiliki magnitudo 2,1. Titik episenter gempa kedua ini berada di koordinat 6,97 Lintang Selatan dan 107,02 Bujur Timur, berjarak sekitar 11 kilometer di tenggara Kota Sukabumi, dengan kedalaman yang sama, yaitu 10 kilometer.
Gempa susulan ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas seismik setelah gempa utama M 4,2. Berdasarkan pemetaan titik episentrum, diduga gempa utama berpusat di area antara Desa Karangjaya dan Desa Buniwangi di Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Sementara itu, gempa susulan M 2,1 memiliki episentrum yang berdekatan, yaitu di sekitar Desa Caringin, yang juga masih berada dalam wilayah Kecamatan Gegerbitung.
Pergerakan rangkaian gempa ini terpantau mengarah ke timur dari Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, dan berpotensi mendekati perbatasan wilayah Kabupaten Cianjur.
Respons dan Pemantauan
Menyikapi kedua peristiwa gempa tersebut, petugas Penanggulangan Kecamatan Gegerbitung, Ofeq, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa yang diterima oleh pihak kecamatan. “Pascagempa pertama magnitudo 4,2 dan gempa susulan, kami belum mendapatkan informasi adanya kerusakan,” kata Ofeq. Ia menambahkan bahwa hingga pukul 04.30 WIB, hasil inventarisasi sementara di wilayah Kecamatan Gegerbitung belum menemukan laporan kerusakan dari masyarakat. Timnya masih terus melakukan pemantauan dan pendataan di berbagai wilayah untuk memastikan kondisi pascagempa.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang tidak benar. Selalu ikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG untuk mendapatkan data yang akurat mengenai perkembangan situasi gempa.
Penjelasan Ilmiah Gempa
Kepala BMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, memberikan penjelasan ilmiah mengenai penyebab terjadinya gempa ini. Ia menyatakan bahwa gempa yang mengguncang Sukabumi ini merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” ujar Hartanto dalam keterangan resminya.
Wilayah Sukabumi memang diketahui berada di jalur Sesar Cimandiri. Sesar ini merupakan salah satu patahan aktif di Jawa Barat yang membentang cukup panjang, mulai dari kawasan Padalarang di Kabupaten Bandung Barat hingga Pelabuhanratu di Kabupaten Sukabumi. Aktivitas pada sesar-sesar inilah yang kerap kali memicu terjadinya gempa bumi dangkal yang dapat dirasakan oleh masyarakat di Sukabumi dan daerah sekitarnya.



