Tingkat Kepuasan Publik terhadap Pemerintahan Muhidin-Hasnuryadi: Tinjauan Mendalam dari Survei
Menjelang satu tahun masa jabatan Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, beserta Wakil Gubernur, Hasnuryadi Sulaiman, sebuah survei komprehensif dilakukan oleh Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus). Survei yang dilaksanakan pada Jumat (20/2) ini bertujuan untuk mengukur persepsi publik terhadap kinerja pemerintah provinsi di berbagai sektor. Hasilnya menunjukkan gambaran yang menarik, di mana kepuasan umum tergolong tinggi, namun terdapat area spesifik yang memerlukan perhatian lebih serius.
Koordinator Nasional LS Vinus, Muhamad Arifin, menjelaskan bahwa mayoritas responden dalam survei ini berasal dari kelompok usia produktif, yaitu rentang 25 hingga 35 tahun. Kelompok ini mencakup generasi Z dan milenial, yang merupakan segmen demografis penting dengan pandangan dan harapan yang unik terhadap pemerintahan. Dari kelompok usia ini, muncul keluhan paling kuat terkait kesulitan mencari lapangan kerja dan ketidakmerataan distribusi bantuan sosial.
“Banyak yang kami wawancara itu umurnya 17 sampai 35 tahun kesulitan mencari pekerjaan,” ujar Arifin. Fenomena ini menggarisbawahi tantangan struktural dalam penciptaan lapangan kerja yang memadai bagi kaum muda, sebuah isu krusial yang seringkali menjadi barometer utama penilaian kinerja pemerintah di mata generasi produktif.
Meskipun demikian, secara keseluruhan, survei yang melibatkan 400 responden berusia 17 tahun ke atas menunjukkan tingkat kepuasan publik yang patut diapresiasi. Sebanyak 81,5 persen responden menilai kinerja pemerintahan Muhidin-Hasnuryadi berada dalam kategori baik, sementara 15 persen lainnya memberikan penilaian sangat baik. Angka ini mencerminkan kepercayaan mayoritas masyarakat terhadap arah pembangunan dan kebijakan yang telah dijalankan selama periode tersebut.
Namun, ketika hasil survei dibedah lebih dalam berdasarkan sektor, muncul gambaran yang lebih bernuansa. Sektor sosial tercatat sebagai area dengan angka ketidakpuasan terbesar. Sebanyak 49,25 persen responden menyatakan kurang puas, dan 12,5 persen lainnya menyatakan tidak puas.
Isu Lapangan Kerja dan Bantuan Sosial: Keluhan Dominan Generasi Muda
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, persoalan lapangan kerja menjadi keluhan dominan, terutama dari kelompok usia muda. Ketersediaan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan kualifikasi menjadi harapan utama bagi generasi produktif yang ingin berkontribusi pada pembangunan daerah dan meningkatkan taraf hidup mereka. Kesulitan dalam mencari pekerjaan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga dapat memicu berbagai persoalan sosial lainnya.
Selain itu, distribusi bantuan sosial juga dinilai oleh responden belum merata. Keluhan ini terasa lebih tajam terutama di wilayah-wilayah terpencil. Ketidakmerataan ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas mekanisme penyaluran dan pendataan penerima bantuan, serta perlunya evaluasi terhadap jangkauan program-program pemerintah. Bantuan sosial yang tepat sasaran dan merata diharapkan dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kesehatan: Tantangan Pelayanan di Daerah Terpencil
Bidang kesehatan juga mencatat angka kurang puas yang signifikan, dengan 42,5 persen responden menyatakan ketidakpuasan. Arifin merinci bahwa ketidakpuasan ini banyak berkaitan dengan kualitas layanan kesehatan di daerah, khususnya mengenai jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Jaminan Kesehatan:
Meskipun program seperti BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) telah diluncurkan, masih terdapat keluhan terkait pelaksanaannya di lapangan. Responsden merasa belum sepenuhnya terlayani dengan baik.Ketersediaan Tenaga Medis:
Layanan petugas kesehatan, terutama di daerah terpencil, masih dianggap minim. Hal ini berdampak pada sulitnya akses terhadap dokter spesialis di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, mengingat kebutuhan akan penanganan medis yang cepat dan memadai sangatlah penting.
Rekomendasi untuk Peningkatan Layanan Publik
Menyikapi temuan survei ini, LS Vinus memberikan beberapa rekomendasi strategis kepada pemerintah daerah. Salah satu rekomendasi utama adalah peningkatan kualitas layanan dan penguatan fasilitas kesehatan di wilayah terpencil.
“Puskesmas 24 jam di daerah-daerah terpencil itu penting, karena sangat rawan terjadi orang sakit yang memerlukan penanganan segera sementara puskesmas terdekat tutup,” ujar Arifin. Keberadaan puskesmas yang beroperasi penuh waktu di daerah terpencil dapat menjadi solusi krusial untuk menyelamatkan nyawa dan memberikan pelayanan kesehatan dasar yang lebih merata.
Selain itu, Arifin juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat aspek-aspek penting lainnya:
Tata Ruang:
Peningkatan pengawasan terhadap tata ruang menjadi krusial untuk memastikan pembangunan yang terencana dan berkelanjutan, serta mencegah praktik-praktik yang merusak lingkungan.Ruang Terbuka Hijau (RTH):
Perluasan area Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangat penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup, menjaga keseimbangan ekosistem, dan menyediakan ruang rekreasi bagi masyarakat.Pengelolaan Sumber Daya Alam:
Peningkatan transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam diharapkan dapat membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa kekayaan alam daerah dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.
Secara keseluruhan, survei LS Vinus memberikan gambaran yang berharga mengenai persepsi publik terhadap pemerintahan Muhidin-Hasnuryadi. Tingkat kepuasan umum yang tinggi menjadi modal positif, namun temuan mengenai isu lapangan kerja, distribusi bantuan sosial, dan kualitas layanan kesehatan di daerah terpencil menunjukkan area yang memerlukan intervensi kebijakan yang lebih fokus dan berkelanjutan.




