Pasar Godean: Dari Ruang Niaga Menjadi Kanvas Cerita Visual
Pasar tradisional, bagi banyak orang, lebih dari sekadar tempat bertransaksi barang. Ia adalah denyut nadi kehidupan, saksi bisu perputaran waktu, dan penjaga memori kolektif sebuah komunitas. Di Sleman, Yogyakarta, Pasar Godean telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ruang niaga. Ia kini menjelma menjadi kanvas yang hidup, di mana cerita, memori, dan identitas lokal dirawat dan dihidupkan kembali melalui kekuatan seni visual, khususnya fotografi.
Upaya untuk menjaga gaung pasar rakyat agar tetap relevan di tengah derasnya arus perubahan zaman ini diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman. Melalui sebuah pameran foto bertajuk “Pasar Godean Bali Kumandange” (Pasar Godean Bergema), Disperindag bertekad untuk mengabadikan dan mempromosikan nilai-nilai serta dinamika yang ada di Pasar Godean.
Pameran ini bukan hanya sekadar pajangan karya seni. Ia merupakan bagian integral dari sebuah rangkaian kegiatan yang lebih besar, yang dimulai dengan lomba fotografi. Lomba ini sendiri telah berlangsung pada periode 29 Oktober hingga 9 November 2025, dan pameran yang menyusul menjadi penutup dari rangkaian tersebut. Acara puncak pameran ini diselenggarakan tepat di jantung Pasar Godean, mulai tanggal 24 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, memungkinkan pengunjung untuk merasakan langsung atmosfer pasar sambil menikmati karya-karya yang dipamerkan.
Pemilihan waktu penyelenggaraan lomba dan pameran ini memiliki makna strategis yang mendalam. Momentum tersebut sengaja dipilih bertepatan dengan momen penting dalam sejarah Pasar Godean: kembalinya para pedagang dari pasar relokasi Sidoluhur ke Pasar Godean yang telah selesai direvitalisasi. Revitalisasi ini sendiri telah dimulai sejak tahun 2023, menandai babak baru bagi pasar tradisional ini.
Kepala Disperindag Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan lomba dan pameran foto ini memiliki tujuan ganda. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi promosi yang efektif sekaligus upaya dokumentasi jangka panjang. “Melalui kegiatan ini, Pasar Godean tidak hanya dikenalkan kembali ke publik, tapi juga diarsipkan secara visual. Harapannya, pasar ini tidak akan ilang kumandhange,” tegas Mae Rusmi, menggarisbawahi pentingnya menjaga keberlangsungan identitas dan eksistensi pasar.
Revitalisasi fisik pasar, menurut Mae Rusmi, diharapkan dapat memperkuat peran Pasar Godean sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Namun, ia menyadari bahwa narasi kebangkitan ini perlu dikemas sedemikian rupa agar lebih mudah diterima dan dirasakan oleh masyarakat luas. Fotografi, dengan kemampuannya menangkap momen dan menceritakan kisah tanpa kata, dipilih sebagai medium yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Antusiasme para fotografer untuk berpartisipasi dalam lomba ini sungguh luar biasa. Tercatat sebanyak 127 karya foto yang berhasil masuk ke meja panitia. Karya-karya tersebut kemudian disaring dan dinilai oleh tim juri yang terdiri dari tiga fotografer profesional yang mumpuni: Giri Wijayanto, Jenar Tri Santoso, dan Muhammad Faiz. Penilaian utama difokuskan pada kekuatan narasi yang terkandung dalam setiap foto serta kesesuaiannya dengan tema besar yang diusung, yaitu “Pasar Godean Bali Kumandange”.
Giri Wijayanto, salah satu juri, menyoroti pentingnya momen kirab boyongan para pedagang kembali ke pasar sebagai titik krusial dalam proses penilaian. “Tema utamanya Pasar Godean Bali Kumandange. Karena saat itu ada kirab boyongan, kami sepakat juara pertama harus bisa menangkap gabungan antara pasar dan peristiwa tersebut,” jelasnya, menggarisbawahi bagaimana perpaduan antara objek utama dan peristiwa bersejarah menjadi kunci utama.
Hasilnya, Eko Bagus Hari Wibowo berhasil keluar sebagai juara pertama dengan karyanya yang berjudul “Tari Edan-Edanan”. Karyanya tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga berhasil menangkap esensi kebudayaan dan semangat kebersamaan yang ada di pasar. Ia berhak menerima hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp3 juta. Posisi kedua diraih oleh Panji Arighi Himawan melalui karyanya yang berjudul “Rezeki Hari Pertama”, yang mengabadikan perjuangan dan harapan para pedagang di hari pertama kembali berdagang, dengan hadiah uang pembinaan Rp2 juta. Sementara itu, Ady Agustin menyabet juara ketiga berkat foto “Lift Barang”, yang menampilkan sisi lain dari aktivitas pasar yang seringkali luput dari perhatian, dan berhak atas hadiah Rp1 juta.
Tidak hanya itu, apresiasi juga diberikan kepada para juara harapan. Alvin Hadiwibowo dengan karyanya “Potret Kemeriahan Kirab Gunungan”, Erlangga Fakhri Sujono melalui “Berdoa Bersama”, dan Budi Prasetiyo dengan “Kemeriahan Kirab Gunungan” juga mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan uang pembinaan, sebagai pengakuan atas kontribusi mereka dalam meramaikan lomba.
Pameran yang berlangsung hingga awal Januari 2026 ini menampilkan total 20 karya foto pilihan. Ke-20 karya ini terdiri dari enam karya pemenang utama, serta foto-foto dokumentasi yang merekam kondisi Pasar Godean sebelum dan sesudah revitalisasi. Menariknya, seluruh karya dipajang langsung di area pasar, seolah menyatu dengan hiruk pikuk aktivitas para pedagang dan pengunjung. Hal ini menciptakan pengalaman yang unik, di mana seni fotografi tidak hanya dinikmati sebagai objek pasif, tetapi menjadi bagian dari lingkungan yang hidup.
Melalui pendekatan visual yang kuat dan narasi keseharian yang ditawarkan oleh karya-karya foto tersebut, Disperindag Sleman berharap dapat menyajikan perspektif baru tentang pasar tradisional. Mereka ingin menunjukkan bahwa pasar tradisional bukanlah sekadar ruang usang yang tertinggal zaman, melainkan sebuah ekosistem dinamis yang merupakan denyut nadi kehidupan ekonomi dan budaya. Dengan demikian, Pasar Godean, dan pasar tradisional pada umumnya, layak untuk terus digaungkan gaungnya, dijaga keberadaannya, dan dirayakan keberlangsungannya.
Lomba Fotografi:
- Periode Pendaftaran: 29 Oktober – 9 November 2025
- Penilaian: Kekuatan cerita dan kesesuaian tema
- Juri: Giri Wijayanto, Jenar Tri Santoso, Muhammad Faiz
Pameran Foto “Pasar Godean Bali Kumandange”:
- Lokasi: Area Pasar Godean
- Periode: 24 Desember 2025 – 4 Januari 2026
- Jumlah Karya Dipamerkan: 20 foto pilihan (termasuk 6 karya pemenang dan dokumentasi revitalisasi)
Pemenang Lomba:
- Juara 1: Eko Bagus Hari Wibowo (“Tari Edan-Edanan”) – Rp3 juta
- Juara 2: Panji Arighi Himawan (“Rezeki Hari Pertama”) – Rp2 juta
- Juara 3: Ady Agustin (“Lift Barang”) – Rp1 juta
- Juara Harapan:
- Alvin Hadiwibowo (“Potret Kemeriahan Kirab Gunungan”)
- Erlangga Fakhri Sujono (“Berdoa Bersama”)
- Budi Prasetiyo (“Kemeriahan Kirab Gunungan”)
(Mendapatkan sertifikat dan uang pembinaan)




















