околоссылочный3 google 3 текст3

Guncangan Global: Perang Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Harga Minyak

Diposting pada

Harga Minyak Mentah Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Pasar minyak dunia menyaksikan lonjakan harga yang dramatis, mencapai level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022. Kenaikan signifikan sekitar 20% ini dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta dampaknya terhadap pasokan energi global.

Kondisi ini diperparah oleh laporan bahwa beberapa produsen minyak utama di kawasan tersebut mulai melakukan pemangkasan produksi. Kekhawatiran pasar meningkat tajam terkait potensi terganggunya jalur pengiriman minyak vital, terutama melalui Selat Hormuz, yang merupakan salah satu arteri energi terpenting di dunia.

Analis komoditas dari ANZ, Daniel Hynes, menjelaskan bahwa pasar bereaksi cepat terhadap berita mengenai produsen minyak di Timur Tengah yang mengurangi output mereka. Hal ini disebabkan oleh kapasitas penyimpanan yang dilaporkan hampir penuh, memaksa mereka untuk menurunkan produksi demi mengelola inventaris.

“Pasar melonjak karena produsen Timur Tengah mulai mengurangi output,” ujar Hynes, menyoroti sensitivitas pasar terhadap pasokan dari wilayah krusial ini.

Dampak Langsung pada Harga Minyak

Perdagangan kontrak minyak mentah Brent pada Senin (9/3/2026) sempat melonjak drastis, mencatatkan kenaikan sebesar US$18,35 atau sekitar 19,8%, mencapai US$111,04 per barel. Sebelum lonjakan tersebut, pada awal perdagangan Senin, Brent masih berada di kisaran US$107,93 per barel, dengan kenaikan sebesar 16,4%.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami kenaikan yang substansial. Kontrak WTI naik US$16,50 atau sekitar 18,2%, mencapai US$107,40 per barel. Puncaknya, WTI sempat melonjak hingga 22,4% ke level US$111,24 per barel.

Lonjakan harga ini merupakan kelanjutan dari tren kenaikan yang telah terlihat sepanjang pekan sebelumnya. Pada pekan lalu, Brent telah melonjak 27% dan WTI naik 35,6%, yang secara jelas mencerminkan dampak eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terhadap pasar energi global.

Gangguan Produksi dan Ekspor yang Nyata

Dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya terasa pada pergerakan harga, tetapi juga mulai terlihat pada operasional produksi minyak di beberapa negara kunci.

  • Irak: Produksi minyak Irak dari ladang minyak utama di wilayah selatan dilaporkan mengalami penurunan drastis, anjlok hingga 70%. Output harian kini hanya berkisar pada 1,3 juta barel per hari. Penurunan ini terjadi karena Irak tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik yang meningkat dengan Iran.
    Seorang pejabat dari Basra Oil Company, perusahaan minyak negara Irak, menyatakan bahwa fasilitas penyimpanan minyak di negara tersebut telah mencapai kapasitas maksimum. Situasi ini memaksa mereka untuk mengurangi produksi lebih lanjut.

  • Kuwait: Kuwait Petroleum Corporation juga mengumumkan langkah serupa dengan mulai memangkas produksi minyak sejak Sabtu (7/3). Perusahaan ini juga menyatakan kondisi force majeure terhadap pengiriman minyaknya, meskipun rincian mengenai besaran penurunan produksi tidak dirinci lebih lanjut.

Serangan Berlanjut dan Potensi Eskalasi

Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan juga terus dilaporkan, menambah kekhawatiran akan stabilitas pasokan.

  • Uni Emirat Arab: Kebakaran dilaporkan terjadi di zona industri minyak Fujairah akibat jatuhnya puing-puing, meskipun insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kejadian ini menunjukkan risiko nyata terhadap fasilitas energi di wilayah tersebut.
  • Arab Saudi: Pasukan keamanan Arab Saudi berhasil mencegat sebuah drone yang diketahui mengarah ke ladang minyak Shaybah, sebuah fasilitas produksi minyak mentah yang sangat penting bagi negara tersebut. Upaya pencegatan ini berhasil mencegah potensi gangguan yang lebih besar.

Perubahan Kepemimpinan Iran dan Implikasinya

Di tengah memanasnya konflik, Iran mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Perubahan kepemimpinan ini dinilai oleh banyak analis sebagai penegasan dominasi kelompok garis keras di Teheran.

Satoru Yoshida, seorang analis komoditas dari Rakuten Securities, berpendapat bahwa perubahan kepemimpinan ini berpotensi memperpanjang konflik yang ada dan secara signifikan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

“Iran diperkirakan akan terus menutup Selat Hormuz dan menyerang fasilitas minyak negara lain,” ujar Yoshida, memperingatkan tentang kemungkinan tindakan balasan Iran.

Ia memperkirakan bahwa harga minyak WTI berpotensi terus merangkak naik, bahkan bisa mencapai US$120 hingga US$130 per barel dalam waktu yang relatif singkat jika konflik terus berlanjut dan memburuk.

Respons Amerika Serikat

Menanggapi lonjakan harga minyak yang mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat, pemimpin fraksi Demokrat di Senat Amerika Serikat, Chuck Schumer, mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil tindakan segera. Schumer menyerukan agar pemerintah AS segera melepas cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar.

“Trump harus segera melepas minyak dari cadangan strategis untuk menenangkan pasar dan menekan lonjakan harga yang mulai dirasakan keluarga Amerika,” kata Schumer, menekankan urgensi tindakan untuk melindungi konsumen dari volatilitas harga energi.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan