Tantangan Implementasi Deep Learning: Fenomena “Guru Spesialis” dan Solusi Kebijakan Baru
Penerapan konsep pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah praktik segelintir guru yang kerap hanya menjadi peserta pelatihan dari pusat tanpa membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan sejawat. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Menurut pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, model pelatihan yang dirancang oleh pemerintah sejatinya mengandalkan mekanisme pengimbasan. Mekanisme ini berarti guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat mentransfer ilmu dan keterampilannya kepada guru lain di sekolah atau di komunitas mereka. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua guru menjalankan peran ini secara optimal.
“Banyak guru yang ketika dilatih itu untuk dirinya sendiri. Bahkan ada kadang-kadang guru yang spesialis ikut kegiatan pusat. Semua kegiatan dia juga yang berangkat,” ujar Abdul Mu’ti saat ditemui di rumah dinasnya di Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Fenomena ini bahkan secara informal sering disebut dengan istilah “4L”, yang merujuk pada kondisi di mana guru yang sama selalu menjadi peserta dalam berbagai pelatihan. “Pelatihan deep learning dia orangnya, pelatihan guru bimbingan konseling (BK) dia, jadi itu berlaku 4L itu: Lu lagi, lu lagi,” tambahnya sembari berseloroh, menggambarkan betapa terpusatnya partisipasi pelatihan pada individu tertentu.
Perbaikan Kebijakan Pelatihan Guru: Syarat Sertifikat Berbasis Pengimbasan
Untuk mengatasi masalah pengimbasan yang dinilai belum berjalan secara optimal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai mengimplementasikan sebuah kebijakan baru terkait pelatihan guru. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sertifikat pelatihan tidak lagi akan diberikan secara otomatis kepada setiap peserta yang hadir.
Perubahan mendasar ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan benar-benar disebarluaskan. Guru baru akan memperoleh sertifikat pelatihan hanya setelah mereka terbukti secara nyata melakukan pengimbasan kepada guru lain. “Kami perbaiki supaya ada pengimbasan itu. Sertifikat pelatihan diberikan kalau dia sudah melakukan pengimbasan dan ada buktinya,” tegasnya.
Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong budaya berbagi ilmu dan pengalaman antar guru, sehingga manfaat pelatihan dapat dirasakan secara lebih luas di lingkungan sekolah.
Kualitas Guru sebagai Kunci Reformasi Pendidikan
Abdul Mu’ti menekankan bahwa peningkatan kualitas guru merupakan elemen krusial bagi keberhasilan reformasi pendidikan di Indonesia. Sekalipun teknologi pendidikan yang digunakan semakin canggih, hasil optimal tidak akan tercapai tanpa adanya peningkatan kompetensi yang memadai pada para pendidik.
Ia juga mengakui bahwa sebagian guru masih memiliki kecenderungan untuk bertahan pada sistem lama dan merasa cukup dengan kemampuan yang mereka miliki saat ini. Padahal, dunia pendidikan terus berkembang dengan pesat, sehingga pengembangan kompetensi secara berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan.
Oleh karena itu, Kementerian terus mendorong berbagai program pelatihan guru, baik yang dilaksanakan secara tatap muka langsung maupun melalui wadah komunitas belajar guru di daerah. “Dunia sangat dinamis dan continuous professional development itu memang harus dilakukan,” pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya pengembangan diri yang berkelanjutan bagi para guru.
Strategi Implementasi Deep Learning: Bertahap dan Berbasis Komunitas
Penerapan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) di Indonesia saat ini masih berjalan secara bertahap. Prosesnya dimulai dengan identifikasi dan pelatihan guru inti yang diharapkan menjadi agen perubahan. Guru-guru inti ini kemudian diharapkan dapat menularkan pengetahuan dan praktik terbaik kepada guru-guru lain melalui berbagai forum, salah satunya adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Selain fokus pada pelatihan guru, pemerintah juga tengah mempersiapkan program sekolah model. Sekolah-sekolah ini nantinya akan menerapkan pendekatan deep learning secara penuh mulai tahun ajaran 2026–2027.
Namun, Abdul Mu’ti menyadari bahwa proses ini akan memakan waktu yang tidak sebentar. Hal ini dikarenakan program ini memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu menyasar seluruh guru di berbagai mata pelajaran di seluruh Indonesia. Kesabaran dan konsistensi dalam implementasi menjadi kunci utama agar visi pembelajaran mendalam dapat terwujud secara menyeluruh.




