Kondisi Nelayan di Muara Angke yang Terpuruk Akibat Kenaikan Harga Solar
Di dermaga Muara Angke, terlihat deretan kapal nelayan yang lebih banyak terikat daripada berlayar. Tidak seperti biasanya, suara mesin yang biasanya ramai terdengar kini hampir tidak terdengar. Hal ini disebabkan oleh satu masalah utama yang semakin memberatkan para nelayan: kenaikan harga solar non-subsidi yang sangat tinggi.
Tali-tali tambat yang biasanya hanya menjadi penahan sementara, kini seperti menjadi simbol jeda panjang aktivitas melaut para nelayan. Bukan karena cuaca buruk atau musim paceklik, tetapi karena biaya operasional yang kini semakin mahal. Salah satu kapten kapal, Hasanudin (51 tahun), seorang nelayan yang telah 15 tahun menggantungkan hidup dari laut, mengaku lonjakan harga itu mulai dirasakan setelah situasi global memanas akibat konflik di Timur Tengah.
“Sejak perang itu deh, sekitar sebulan lebih lah. Mulai kerasa mahal dan susah,” katanya saat ditemui di Muara Angke, Selasa (5/5/2026). Sejak saat itu, seperti dirinya dan banyak rekan, memilih berhenti sementara karena tak lagi sanggup menutup biaya operasional. Untuk sekali melaut, kapal Hasanudin membutuhkan sekitar 20 ribu liter solar. Dengan harga non-subsidi yang menurutnya kini bisa menembus Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per liter di lapangan, membuat biaya operasional membengkak drastis.
“Habis buat bayar BBM saja. Belum gaji ABK, belum perbekalan,” katanya sembari membenahi kapalnya. Menurutnya, kondisi ini membuat banyak kapal berukuran besar memilih tidak berangkat. Hasanudin menyebut jumlahnya bukan lagi hitungan jari. “Banyak, lebih dari belasan. Banyak yang kapalnya diikat, nggak jalan,” katanya.
Beberapa nelayan bahkan beralih menjadi anak buah kapal (ABK) di kapal yang lebih kecil agar tetap mendapat penghasilan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di laut, tetapi juga di darat. Ketika kapal tidak berlayar, roda ekonomi keluarga nelayan ikut tersendat. Hasanudin menggambarkan situasi pelik ini dengan sederhana namun dalam. “Kalau nggak berangkat, keluarga mau makan apa?” katanya sembari sesekali melihat laut di kejauhan.
Dalam kondisi normal, satu kali perjalanan melaut bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan, dengan wilayah tangkapan hingga perairan Natuna. Namun kini, banyak kapal memilih menunggu harga solar turun sebelum mengambil risiko berlayar.
Fenomena serupa juga diungkapkan Sulaeman (49), yang menyebut pasokan solar kini tak hanya mahal, tetapi juga sulit didapat sejak periode yang sama. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk melaut menjadi taruhan besar bagi nelayan. “Kadang nunggu setengah bulan, kadang sampai 20 hari baru dapat. Kalau ada solarnya kadang sulit dapatnya juga,” katanya.
Sementara itu, Asid (50), kapten kapal cumi, menjelaskan bahwa kenaikan harga mulai dirasakan luas oleh nelayan dalam kurun sebulan terakhir, terutama bagi kapal yang tidak lagi mendapat subsidi. Kapal di bawah 30 gross tonnage (GT) masih bisa mengakses solar subsidi, sementara kapal di atasnya harus membeli solar industri dengan harga jauh lebih tinggi. “Yang non-subsidi banyak yang nggak berangkat. Nggak kuat bagi hasil, nggak kuat biaya,” katanya.
Ia memperkirakan jumlah kapal yang belum melaut mencapai ratusan di Muara Angke saja. Bahkan, di daerah lain seperti Indramayu, jumlahnya bisa mencapai ribuan. “Di sini ratusan ada. Itu belum termasuk di tempat lain,” katanya.
Harapan para nelayan pun sederhana. Mereka hanya meminta pemerintah segera menghadirkan solusi yang konkret agar biaya operasional kembali seimbang dengan hasil tangkapan. “Tolong dibenahin. Supaya nelayan bisa melaut lagi dengan lancar,” kata Hasanudin.
Di tengah senja yang mulai turun di Muara Angke, kapal-kapal yang tertambat seakan menunggu kepastian. Bagi para nelayan, laut bukan sekadar ruang kerja, melainkan sumber kehidupan. Namun tanpa akses energi yang terjangkau, perjalanan ke laut kini berubah menjadi perjudian yang terlalu mahal untuk diambil.



















