🔥 TERKINI

Identitas Korban Ledakan Bom Biak: Meninggal & Hilang

Luna Oleh: Luna
4 dilihat
Jumat, 05 Juni 2026 - 10:35 WIB • Waktu baca: 3 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Tragedi Maut di Biak: Ledakan Diduga Bom Perang Dunia II Renggut Nyawa Lima Warga

Biak, Papua – Kawasan pesisir Kabupaten Biak Numfor, Papua, diguncang oleh ledakan dahsyat pada Minggu sore, 31 Mei 2026. Peristiwa tragis ini diduga kuat berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II yang ditemukan di Kompleks Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota. Akibat ledakan tersebut, lima warga dilaporkan meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih dalam status hilang dan dalam pencarian.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun pada Senin pagi, 1 Juni 2026, di RSUD Biak Numfor, kelima korban yang meninggal dunia semuanya merupakan warga yang berdomisili di Kompleks Perikanan Jalan Walter Mongonsidi. Identitas para korban yang telah terkonfirmasi adalah sebagai berikut:

  • Moris Raubaba (24 tahun), berprofesi sebagai nelayan.
  • Delfin Raubaba (41 tahun), juga seorang nelayan.
  • Karmila Ayorbaba (25 tahun), seorang ibu rumah tangga.
  • Isrel Raubaba (5 tahun), seorang anak-anak.
  • Isra Raubaba (7 tahun), seorang pelajar.

Sementara itu, tiga warga yang hingga kini belum ditemukan jenazahnya dan berstatus hilang adalah:

  • Yulianus Raubaba (26 tahun), seorang nelayan.
  • Anes Marandof (27 tahun), seorang nelayan.
  • Lay Madura (45 tahun), seorang nelayan.

Proses pencarian terhadap ketiga korban yang hilang terus dilakukan oleh tim gabungan. Kepolisian, TNI, Pemerintah Daerah, serta instansi terkait lainnya bekerja keras di lokasi kejadian untuk menemukan para korban dan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Sterilisasi dan Penyelidikan Intensif di Lokasi Kejadian

Menyusul insiden mengerikan ini, Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, bersama dengan jajarannya segera bergerak cepat untuk mensterilkan area ledakan. Pengamanan ketat telah dipasang di sekitar lokasi kejadian untuk mencegah warga mendekat demi keselamatan dan kelancaran proses penyelidikan.

“Kami menghimbau masyarakat sekitar lokasi ledakan agar tidak mendekati lokasi terlebih dahulu. Kami masih melakukan proses TPTKP (Tim Penolong, Pencari, dan Penyelamat) dan sterilisasi setelah pengamanan TKP,” ujar AKBP Ari Trestiawan. Ia menambahkan bahwa pihaknya masih berupaya keras untuk mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta melakukan sterilisasi.

Kapolres juga menekankan pentingnya menjaga ketenangan di tengah masyarakat dan menghimbau agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Kepolisian berkomitmen untuk menyampaikan setiap perkembangan penyelidikan secara resmi kepada publik.

Potensi Bahaya Bom Sisa Perang

Penemuan dan ledakan bom peninggalan Perang Dunia II bukanlah hal yang sepenuhnya baru di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang pernah menjadi medan pertempuran. Bom-bom jenis ini, meskipun telah terkubur dalam waktu lama, masih menyimpan potensi bahaya yang sangat besar. Kondisi fisik bom yang dapat menurun seiring waktu, ditambah dengan faktor lingkungan seperti kelembaban dan pergerakan tanah, dapat memicu ketidakstabilan dan bahkan ledakan spontan.

Penemuan benda-benda berbahaya seperti ini seringkali terjadi secara tidak sengaja, misalnya saat aktivitas penggalian, pembangunan, atau bahkan saat warga bermain di area tertentu. Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat sangatlah penting.

Beberapa langkah mitigasi dan pencegahan yang bisa diambil meliputi:

  • Edukasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama di daerah yang memiliki riwayat pertempuran, mengenai bahaya benda-benda peninggalan perang.
  • Pelaporan yang Cepat: Mengajarkan kepada masyarakat untuk segera melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan benda mencurigakan yang diduga sebagai bahan peledak, tanpa mencoba memindahkannya atau mengotak-atiknya.
  • Tim Ahli Penjinak Bom: Memastikan ketersediaan dan kesiapsiagaan tim penjinak bom profesional yang dapat menangani temuan benda berbahaya dengan aman.
  • Penyelidikan Geologis dan Historis: Melakukan survei dan kajian di area-area yang berpotensi menyimpan sisa-sisa perang untuk memetakan potensi bahaya dan melakukan tindakan pencegahan.

Kasus di Fandoi, Biak ini menjadi pengingat tragis akan ancaman laten yang masih tersimpan dari masa lalu. Upaya pencarian korban hilang dan penyelidikan mendalam terhadap penyebab pasti ledakan terus dilakukan oleh pihak berwenang. Sementara itu, korban yang berhasil ditemukan telah dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis dan proses identifikasi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Situasi di lokasi kejadian masih terus dipantau ketat oleh aparat gabungan.

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →